alexametrics
30.5 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

Setahun Retribusi Pasar Daerah di Kab Pasuruan Tembus Rp 4,19 M

BANGIL, Radar Bromo – Pandemi Covid-19 rupanya tak banyak berimbas pada geliat ekonomi di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Pasuruan. Hal itu terlihat dari capaian pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi pasar yang masih tinggi sepanjang tahun lalu.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pasuruan Diano Vela Fery Santoso mengatakan, target retribusi pasar daerah selama tahun 2020 lalu dipatok Rp 4,19 miliar. Target tersebut telah tercapai di bulan Desember.

“Meskipun di tengah pandemi, untuk target retribusi pasar terpenuhi,” katanya.

Retribusi itu diperoleh dari 14 pasar daerah. Yakni, Pasar Pandaan, Pasar Sukorejo, Pasar Purwosari, Pasar Gempol, Pasar Prigen, dan Pasar Wonorejo.

Selanjutnya, Pasar Gondang Wetan, Pasar Ngempit, Pasar Warungdowo, Pasar Pasrepan, Pasar Winongan, Pasar Grati, Pasar Nguling, dan Pasar Bangil.

Dari 14 pasar itu, penerimaan PAD dari sektor retribusi paling banyak berasal dari Pasar Pandaan. Total sepanjang tahun lalu, retribusi dari Pasar Pandaan tembus Rp 1,3 miliar.

“Pasar Pandaan paling banyak jumlah pedagangnya. Seperti kelontong, ada pedagang sayur, daging, ikan, dan lain-lain. Luas pasarnya mencapai 2,3 hektare dengan 1.712 pedagang yang berjualan di los dan kios,” jelas Diano.

Untuk besaran retribusi sendiri, sudah diatur dalam Perda (Peraturan Daerah) Kabupaten Pasuruan Nomor 7 Tahun 2012 tentang Retribusi Pelayanan Pasar. Dalam Perda tersebut, setiap pedagang yang menggunakan aset pemda, wajib dikenai retribusi.

Pemungutan Retribusi Pelayanan Pasar dikenakan pada pedagang yang berjualan di ruko, toko, kios, los, dan bedak. Besarannya tergantung dari jenis dagangan hingga luasan tempat usaha. Sedangkan nilai retribusi dapat dibayar secara harian atau bulanan.

“Pembayaran retribusi langganan bulanan dibayar 30 kali tarif harian dengan mendapat keringanan 10 persen dari tarif retribusi pelayanan pasar dan dibayar lunas paling lambat tanggal 15 dari bulan berjalan,” ungkapnya.

Meski realisasi PAD tahun lalu mencapai target, tapi untuk tahun ini Disperindag tak berani menaikkan target. Hal itu dikarenakan Pandemi Covid-19 yang belum berlalu. (sid/mie)

BANGIL, Radar Bromo – Pandemi Covid-19 rupanya tak banyak berimbas pada geliat ekonomi di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Pasuruan. Hal itu terlihat dari capaian pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi pasar yang masih tinggi sepanjang tahun lalu.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pasuruan Diano Vela Fery Santoso mengatakan, target retribusi pasar daerah selama tahun 2020 lalu dipatok Rp 4,19 miliar. Target tersebut telah tercapai di bulan Desember.

“Meskipun di tengah pandemi, untuk target retribusi pasar terpenuhi,” katanya.

Retribusi itu diperoleh dari 14 pasar daerah. Yakni, Pasar Pandaan, Pasar Sukorejo, Pasar Purwosari, Pasar Gempol, Pasar Prigen, dan Pasar Wonorejo.

Selanjutnya, Pasar Gondang Wetan, Pasar Ngempit, Pasar Warungdowo, Pasar Pasrepan, Pasar Winongan, Pasar Grati, Pasar Nguling, dan Pasar Bangil.

Dari 14 pasar itu, penerimaan PAD dari sektor retribusi paling banyak berasal dari Pasar Pandaan. Total sepanjang tahun lalu, retribusi dari Pasar Pandaan tembus Rp 1,3 miliar.

“Pasar Pandaan paling banyak jumlah pedagangnya. Seperti kelontong, ada pedagang sayur, daging, ikan, dan lain-lain. Luas pasarnya mencapai 2,3 hektare dengan 1.712 pedagang yang berjualan di los dan kios,” jelas Diano.

Untuk besaran retribusi sendiri, sudah diatur dalam Perda (Peraturan Daerah) Kabupaten Pasuruan Nomor 7 Tahun 2012 tentang Retribusi Pelayanan Pasar. Dalam Perda tersebut, setiap pedagang yang menggunakan aset pemda, wajib dikenai retribusi.

Pemungutan Retribusi Pelayanan Pasar dikenakan pada pedagang yang berjualan di ruko, toko, kios, los, dan bedak. Besarannya tergantung dari jenis dagangan hingga luasan tempat usaha. Sedangkan nilai retribusi dapat dibayar secara harian atau bulanan.

“Pembayaran retribusi langganan bulanan dibayar 30 kali tarif harian dengan mendapat keringanan 10 persen dari tarif retribusi pelayanan pasar dan dibayar lunas paling lambat tanggal 15 dari bulan berjalan,” ungkapnya.

Meski realisasi PAD tahun lalu mencapai target, tapi untuk tahun ini Disperindag tak berani menaikkan target. Hal itu dikarenakan Pandemi Covid-19 yang belum berlalu. (sid/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/