alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

PPKM Diperpanjang, Ini Curhat Hotel di Pasuruan

PRIGEN, Radar Bromo – Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sampai 25 Juli membuat pelaku usaha perhotelan makin tergencet. Jika ada perpanjangan lagi, hotel bisa terancam kolaps.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Pasuruan Fuji Subagyo mengatakan, selama PPKM Darurat, tingkat okupansi hotel sangat minim. Paling tinggi hanya 3 persen.

Kondisi ini, menurutnya, jauh lebih buruk dari sebelumnya. Baik selama pandemi terjadi dua tahun belakangan, juga saat penerapan PSBB. Saat itu, okupansi hotel mencapai 15-25 persen. Hotel pun relatif bisa bertahan, meskipun berat.

“Namun, selama PPKM Darurat, kondisi hotel terpuruk. Tingkat okupansi paling tinggi hanya 3 persen,” tuturnya.

Kondisi ini terjadi di semua hotel di Pasuruan. Baik itu hotel bintang, maupun nonbintang yang jumlahnya sekitar 23 hotel. Selama PPKM Darurat, rata-rata kamar yang terisi maksimal 2-3 saja.

Namun, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Selain mengikuti aturan pemerintah. Hanya PHRI berharap, tidak akan ada lagi perpanjangan PPKM setelah 25 Juli.

“Kami para pelaku usaha perhotelan, baik owner, pengelola, manajemen, dan karyawan berharap PPKM cukup sampai tanggal 25 Juli. Jika ada perpanjangan lagi, hotel-hotel terancam kolaps atau bangkrut,” tegasnya.

Saat ini saja, pekerja hotel banyak yang dirumahkan atau cuti. Ada yang merumahkan separo karyawannya, ada yang lebih.

“Kami hanya bisa bertahan, walau berat sekali. Beban operasional, gaji karyawan, listrik, dan sebagainya tidak sebanding dengan pemasukan,” ujarnya. (zal/hn)

PRIGEN, Radar Bromo – Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sampai 25 Juli membuat pelaku usaha perhotelan makin tergencet. Jika ada perpanjangan lagi, hotel bisa terancam kolaps.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Pasuruan Fuji Subagyo mengatakan, selama PPKM Darurat, tingkat okupansi hotel sangat minim. Paling tinggi hanya 3 persen.

Kondisi ini, menurutnya, jauh lebih buruk dari sebelumnya. Baik selama pandemi terjadi dua tahun belakangan, juga saat penerapan PSBB. Saat itu, okupansi hotel mencapai 15-25 persen. Hotel pun relatif bisa bertahan, meskipun berat.

“Namun, selama PPKM Darurat, kondisi hotel terpuruk. Tingkat okupansi paling tinggi hanya 3 persen,” tuturnya.

Kondisi ini terjadi di semua hotel di Pasuruan. Baik itu hotel bintang, maupun nonbintang yang jumlahnya sekitar 23 hotel. Selama PPKM Darurat, rata-rata kamar yang terisi maksimal 2-3 saja.

Namun, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Selain mengikuti aturan pemerintah. Hanya PHRI berharap, tidak akan ada lagi perpanjangan PPKM setelah 25 Juli.

“Kami para pelaku usaha perhotelan, baik owner, pengelola, manajemen, dan karyawan berharap PPKM cukup sampai tanggal 25 Juli. Jika ada perpanjangan lagi, hotel-hotel terancam kolaps atau bangkrut,” tegasnya.

Saat ini saja, pekerja hotel banyak yang dirumahkan atau cuti. Ada yang merumahkan separo karyawannya, ada yang lebih.

“Kami hanya bisa bertahan, walau berat sekali. Beban operasional, gaji karyawan, listrik, dan sebagainya tidak sebanding dengan pemasukan,” ujarnya. (zal/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU