alexametrics
27.2 C
Probolinggo
Sunday, 29 May 2022

Ketimbang Rugi, PKL Tretes Pilih Tutup Total selama PPKM Darurat

PRIGEN, Radar Bromo – ”Daripada rugi, mending tutup saja sekalian.” Begitulah keluh kesah para pedagang kaki lima (PKL) di Tretes. Sejak PPKM Darurat diberlakukan, mereka memilih tutup total. Tidak berdagang blas. Jalan Taman Wisata di depan Hotel Surya yang biasanya ramai pun menjadi sepi. Sunyi.

Biasanya kawasan itu ramai wisatawan. Dari Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, dan kota-kota lain. Mereka datang sekadar untuk menikmati aneka kuliner. Dari aneka sate, jagung bakar, nasi sambel, lontong kikil, dan mi goreng, sampai bakso. Minuman hangat, seperti angsle dan ronde juga nikmat. Sekarang semua tutup.

Para pedagang makanan itu tidak buka sejak diberlakukannya PPKM Darurat. Mulai 3 hingga 20 Juli. Sebenarnya, masih ada yang jualan pada Sabtu dan Minggu (3-4/7). Buka siang hingga malam. Pukul 14.00 sampai 20.00.

Apa yang terjadi? Pengunjung sepi. Makanan dan minuman tidak laku. Di lokasi tersebut, biasanya ada 20 lebih PKL. Sejak pandemi, jumlahnya susut menjadi 10 sampai 15 orang. Mereka adalah warga Pecalukan, Ledug, dan Lumbangrejo, Kecamata Prigen. Ada pula PKL dari Desa Gunting, Sukorejo.

Situasi semakin memburuk sejak PPKM Darurat. Mereka memilih tidak berdagang. Daripada rugi karena dagangan tidak laku. Modal tidak kembali. Lebih-lebih waktu jualan juga pendek. Hanya sampai pukul 20.00.

”Juga tidak boleh makan di tempat,” tambah Sulis. Saat ini, kondisi kawasan wisata tersebut ”sepi mamring”. Pedagang nihil. Pengunjung minim.

Keluh kesah para PKL itu ditanggapi Camat Prigen Tri Krisni Astuti. Menurut Krisni, pemerintah dan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 sebenarnya tidak melarang PKL kuliner berjualan dan buka lapak di Jalan Taman Wisata Tretes. Namun, pembeli tidak makan di tempat atau langsung bungkus saja. Jam jualan malam memang dibatasi sampai pukul 20.00.

Pemerintah juga tidak mengeluarkan surat atau imbauan larangan PKL kuliner berjualan. Mereka dipersilakan buka asal patuh dan mengikuti aturan PPKM Darurat. ”Kalau kemudian tidak berjualan, mungkin khawatir rugi dan pembelinya sepi,” ungkap Krisni. (zal/far)

PRIGEN, Radar Bromo – ”Daripada rugi, mending tutup saja sekalian.” Begitulah keluh kesah para pedagang kaki lima (PKL) di Tretes. Sejak PPKM Darurat diberlakukan, mereka memilih tutup total. Tidak berdagang blas. Jalan Taman Wisata di depan Hotel Surya yang biasanya ramai pun menjadi sepi. Sunyi.

Biasanya kawasan itu ramai wisatawan. Dari Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, dan kota-kota lain. Mereka datang sekadar untuk menikmati aneka kuliner. Dari aneka sate, jagung bakar, nasi sambel, lontong kikil, dan mi goreng, sampai bakso. Minuman hangat, seperti angsle dan ronde juga nikmat. Sekarang semua tutup.

Para pedagang makanan itu tidak buka sejak diberlakukannya PPKM Darurat. Mulai 3 hingga 20 Juli. Sebenarnya, masih ada yang jualan pada Sabtu dan Minggu (3-4/7). Buka siang hingga malam. Pukul 14.00 sampai 20.00.

Apa yang terjadi? Pengunjung sepi. Makanan dan minuman tidak laku. Di lokasi tersebut, biasanya ada 20 lebih PKL. Sejak pandemi, jumlahnya susut menjadi 10 sampai 15 orang. Mereka adalah warga Pecalukan, Ledug, dan Lumbangrejo, Kecamata Prigen. Ada pula PKL dari Desa Gunting, Sukorejo.

Situasi semakin memburuk sejak PPKM Darurat. Mereka memilih tidak berdagang. Daripada rugi karena dagangan tidak laku. Modal tidak kembali. Lebih-lebih waktu jualan juga pendek. Hanya sampai pukul 20.00.

”Juga tidak boleh makan di tempat,” tambah Sulis. Saat ini, kondisi kawasan wisata tersebut ”sepi mamring”. Pedagang nihil. Pengunjung minim.

Keluh kesah para PKL itu ditanggapi Camat Prigen Tri Krisni Astuti. Menurut Krisni, pemerintah dan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 sebenarnya tidak melarang PKL kuliner berjualan dan buka lapak di Jalan Taman Wisata Tretes. Namun, pembeli tidak makan di tempat atau langsung bungkus saja. Jam jualan malam memang dibatasi sampai pukul 20.00.

Pemerintah juga tidak mengeluarkan surat atau imbauan larangan PKL kuliner berjualan. Mereka dipersilakan buka asal patuh dan mengikuti aturan PPKM Darurat. ”Kalau kemudian tidak berjualan, mungkin khawatir rugi dan pembelinya sepi,” ungkap Krisni. (zal/far)

MOST READ

BERITA TERBARU

/