alexametrics
27.1 C
Probolinggo
Tuesday, 28 June 2022

Hijab Antikanker Siswa MA Singa Putih Raih Prestasi Internasional

Berkat riset hijab antikanker, dua siswa MA Unggulan Singa Putih meraih emas dalam ajang Internasional Asian Youth Innovation Award di Malaysia pada 22-26 Maret. Keduanya yaitu Muhammad Alief Dhafa Wahyudi dan Akmalul Umam.

 

RONA kebahagiaan masih terlihat di wajah Muhammad Alief Dhafa, 18 dan Akmalul Umam, 16. Dua siswa MA Unggulan Singa Putih ini, ceria saat ditemui di sekolahnya di Dusun Sentong, Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen. Satu satu kompleks dengan Ponpes Singa Putih Munfaridin.

Kebahagiaan keduanya tentu tidak berlebihan. Sebab, mereka baru saja meraih emas di ajang Internasional Asian Youth Innovation Award 2021. Acara itu digelar di Malaysia pada 22-26 Maret saat acara Malaysia Technology  Expo.

Kompetisi internasional itu digelar tiap tahun dalam 20 tahun terakhir. Kompetisi ini merupakan ajang terbesar yang mempertemukan penemu, perancang, desainer internasional, pengusaha, universitas, dan lembaga. Tujuannya menampilkan penemuan, ide, prototipe, dan produk terbaru.

Tahun 2021 merupakan kali kedua kompetisi ini digelar secara virtual, karena pandemi korona yang belum juga berakhir. Peserta selama kompetisi harus mengirimkan proposal, poster, dan paper. Sementara penilaian dewan juri dilakukan dengan cara presentasi dan tanya jawab dengan tim juri menggunakan bahasa Inggris.

Pada kompetisi inilah, siswa kelas XII dan X ini memutuskan ikut dengan melakukan riset hijab antikanker. Ide riset disiapkan khusus dalam kompetisi yang diikuti ratusan peserta dari 16 negara ini.

Hasil riset keduanya lantas dituangkan dalam proposal berjudul “Synthesis of Betacyanins Fiber Sandwich Material Based on Hyloceraus Polyrhizus for Anti Cancer Hijab: in Vivo Case Study.”

“Persiapan ikut kompetisi ini hanya empat bulan. Alhamdulillah kami bisa meraih emas,” beber Muhammad Alief Dhafa, didampingi Akmalul Umam, kemarin (8/4).

Remaja asal Porong, Kabupaten Sidoarjo, ini menuturkan, riset tersebut terinspirasi oleh tren hijab saat ini di kalangan remaja muslim Asia, termasuk Indonesia.       Menurutnya, hijab seharusnya tidak sekadar untuk menutup aurat. Namun, juga memiliki nilai lebih. Yaitu, menjaga tubuh dari paparan penyakit akibat radiasi sinar matahari.

“Ini sekaligus merupakan pembuktian sains terhadap kewajiban menutup aurat bagi muslimah dalam Alquran,” katanya.

Hijab yang dibuat keduanya bukan hijab biasa. Namun, hijab berbahan kain katun dengan pewarnaan alami dari ekstrak buah naga. Memakai media cacing yang kulitnya peka pada sinar ultraviolet.

Selama persiapan menuju kompetisi tingkat internasional ini, inovasi riset hijab antikanker telah melewati lima kali proses pengujian laboratorium. Yakni uji absorbansi dan segmentasi di lab milik sekolah. Mengingat sekolah ini adalah MA swasta satu-satunya di Kabupaten Pasuruan sebagai  penyelanggara riset, berdasarkan surat keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam tahun 2020 dari Kementerian Agama RI.

Pengujian lab lainnya yaitu, uji UV Vis dan FTIR di lab Universitas Brawijaya Malang. Serta uji SEM EDS di lab Batan Indonesia.

“Dari hasil lima pengujian yang kami lakukan, hasilnya cukup memuaskan dan efektif. Tentunya tetap perlu dimaksimalkan dan disempurnakan lagi,” cetus Akmalul Umam.

Setelah kompetisi ini, remaja asal Waru, Kabupaten Sidoarjo, tersebut menuturkan ke depan ingin mengembangkan hijab antikanker. Bahkan, memproduksinya dalam jumlah banyak.

Sehingga, nantinya menjadi salah satu produk unggulan yang dihasilkan MA Unggulan Singa Putih. Termasuk mencari vendor yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

“Selanjutnya, inovasi hijab antikanker ini pada 20-22 Mei mendatang akan diikutkan lagi di ajang kompetisi internasional di Eropa. Tepatnya di Rumania. Mudah-mudahan dapat juara lagi,” imbuhnya.

BERSAMA GURU: Akmalul Umam dan Muhammad Alief Dhafa Wahyudi, pelajar MA Unggulan Singa Putih raih medali emas dalam ajang Internasional Asian Youth Innovation Award 2021 di Malaysia, bersama dewan guru dan kasek. ((Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Atas prestasi siswanya, Kepala MA Unggulan Singa Putih Asrori menegaskan, kemenangan itu sebagai langkah awal MA Unggulan Singa Putih dalam menyapa dunia melalui prestasi. Kemenangan itu menurutnya juga semakin meneguhkan MA Unggulan Singa Putih sebagai satu-satunya madrasah riset swasta di Kabupaten Pasuruan berdasarkan SK Kemenag RI tahun 2020 kemarin.

“Ini buah kerja keras siswa, juga guru pembimbing. Serta arahan dan bimbingan dari Romo Kiai selaku pengasuh ponpes. Patut diapresiasi karena kemanfaatan dalam inovasi ini sangat luas. Tentunya tetap perlu ditingkatkan, termasuk terus aktif cetak dan menciptakan inovasi dan riset baru,” katanya.

Sebelumnya, menurut pria asal Pandaan ini, MA Unggulan Singa Putih juga meraih prestasi  nasional. Yaitu, meraih runner up dalam kompetisi tingkat nasional Madrasah Young Researcher Super Camp (Myres) tahun lalu. (zal/fun)

Berkat riset hijab antikanker, dua siswa MA Unggulan Singa Putih meraih emas dalam ajang Internasional Asian Youth Innovation Award di Malaysia pada 22-26 Maret. Keduanya yaitu Muhammad Alief Dhafa Wahyudi dan Akmalul Umam.

 

RONA kebahagiaan masih terlihat di wajah Muhammad Alief Dhafa, 18 dan Akmalul Umam, 16. Dua siswa MA Unggulan Singa Putih ini, ceria saat ditemui di sekolahnya di Dusun Sentong, Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen. Satu satu kompleks dengan Ponpes Singa Putih Munfaridin.

Kebahagiaan keduanya tentu tidak berlebihan. Sebab, mereka baru saja meraih emas di ajang Internasional Asian Youth Innovation Award 2021. Acara itu digelar di Malaysia pada 22-26 Maret saat acara Malaysia Technology  Expo.

Kompetisi internasional itu digelar tiap tahun dalam 20 tahun terakhir. Kompetisi ini merupakan ajang terbesar yang mempertemukan penemu, perancang, desainer internasional, pengusaha, universitas, dan lembaga. Tujuannya menampilkan penemuan, ide, prototipe, dan produk terbaru.

Tahun 2021 merupakan kali kedua kompetisi ini digelar secara virtual, karena pandemi korona yang belum juga berakhir. Peserta selama kompetisi harus mengirimkan proposal, poster, dan paper. Sementara penilaian dewan juri dilakukan dengan cara presentasi dan tanya jawab dengan tim juri menggunakan bahasa Inggris.

Pada kompetisi inilah, siswa kelas XII dan X ini memutuskan ikut dengan melakukan riset hijab antikanker. Ide riset disiapkan khusus dalam kompetisi yang diikuti ratusan peserta dari 16 negara ini.

Hasil riset keduanya lantas dituangkan dalam proposal berjudul “Synthesis of Betacyanins Fiber Sandwich Material Based on Hyloceraus Polyrhizus for Anti Cancer Hijab: in Vivo Case Study.”

“Persiapan ikut kompetisi ini hanya empat bulan. Alhamdulillah kami bisa meraih emas,” beber Muhammad Alief Dhafa, didampingi Akmalul Umam, kemarin (8/4).

Remaja asal Porong, Kabupaten Sidoarjo, ini menuturkan, riset tersebut terinspirasi oleh tren hijab saat ini di kalangan remaja muslim Asia, termasuk Indonesia.       Menurutnya, hijab seharusnya tidak sekadar untuk menutup aurat. Namun, juga memiliki nilai lebih. Yaitu, menjaga tubuh dari paparan penyakit akibat radiasi sinar matahari.

“Ini sekaligus merupakan pembuktian sains terhadap kewajiban menutup aurat bagi muslimah dalam Alquran,” katanya.

Hijab yang dibuat keduanya bukan hijab biasa. Namun, hijab berbahan kain katun dengan pewarnaan alami dari ekstrak buah naga. Memakai media cacing yang kulitnya peka pada sinar ultraviolet.

Selama persiapan menuju kompetisi tingkat internasional ini, inovasi riset hijab antikanker telah melewati lima kali proses pengujian laboratorium. Yakni uji absorbansi dan segmentasi di lab milik sekolah. Mengingat sekolah ini adalah MA swasta satu-satunya di Kabupaten Pasuruan sebagai  penyelanggara riset, berdasarkan surat keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam tahun 2020 dari Kementerian Agama RI.

Pengujian lab lainnya yaitu, uji UV Vis dan FTIR di lab Universitas Brawijaya Malang. Serta uji SEM EDS di lab Batan Indonesia.

“Dari hasil lima pengujian yang kami lakukan, hasilnya cukup memuaskan dan efektif. Tentunya tetap perlu dimaksimalkan dan disempurnakan lagi,” cetus Akmalul Umam.

Setelah kompetisi ini, remaja asal Waru, Kabupaten Sidoarjo, tersebut menuturkan ke depan ingin mengembangkan hijab antikanker. Bahkan, memproduksinya dalam jumlah banyak.

Sehingga, nantinya menjadi salah satu produk unggulan yang dihasilkan MA Unggulan Singa Putih. Termasuk mencari vendor yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

“Selanjutnya, inovasi hijab antikanker ini pada 20-22 Mei mendatang akan diikutkan lagi di ajang kompetisi internasional di Eropa. Tepatnya di Rumania. Mudah-mudahan dapat juara lagi,” imbuhnya.

BERSAMA GURU: Akmalul Umam dan Muhammad Alief Dhafa Wahyudi, pelajar MA Unggulan Singa Putih raih medali emas dalam ajang Internasional Asian Youth Innovation Award 2021 di Malaysia, bersama dewan guru dan kasek. ((Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Atas prestasi siswanya, Kepala MA Unggulan Singa Putih Asrori menegaskan, kemenangan itu sebagai langkah awal MA Unggulan Singa Putih dalam menyapa dunia melalui prestasi. Kemenangan itu menurutnya juga semakin meneguhkan MA Unggulan Singa Putih sebagai satu-satunya madrasah riset swasta di Kabupaten Pasuruan berdasarkan SK Kemenag RI tahun 2020 kemarin.

“Ini buah kerja keras siswa, juga guru pembimbing. Serta arahan dan bimbingan dari Romo Kiai selaku pengasuh ponpes. Patut diapresiasi karena kemanfaatan dalam inovasi ini sangat luas. Tentunya tetap perlu ditingkatkan, termasuk terus aktif cetak dan menciptakan inovasi dan riset baru,” katanya.

Sebelumnya, menurut pria asal Pandaan ini, MA Unggulan Singa Putih juga meraih prestasi  nasional. Yaitu, meraih runner up dalam kompetisi tingkat nasional Madrasah Young Researcher Super Camp (Myres) tahun lalu. (zal/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/