Warga Winong Gempol Blokade Akses Proyek Garasi, Ini Alasannya

TAK BISA MASUK: Sejumlah dump truck bermuatan pasir berhenti di badan jalan Desa Karangrejo, Kecamatan Pandaan. Serta, sejumlah warga Dusun Baran, Desa Winong, ketika memblokade akses masuk proyek garasi di Desa Karangrejo. (Rizal Fahmi Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

GEMPOL, Radar Bromo– Arus lalu lintas di jalan jurusan Karangrejo-Gununggangsir, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, terganggu. Kamis (3/10) pagi, sejumlah warga Dusun Baran, Desa Winong, Kecamatan Gempol, memblokade jalan kabupaten ini.

Jalan itu merupakan akses menuju lokasi pembangunan gudang dan garasi tronton di Desa Karangrejo. Akibatnya, belasan dump truck bermuatan pasir dan batu urukan tidak bisa masuk ke lokasi proyek. Para sopir pun memarkir truknya di badan jalan arah barat.

“Warga melakukan aksi ini secara spontan. Mereka protes sekaligus menuntut kompensasi debu dari proyek lahan urukan itu,” ujar Kepala Desa Winong Suyanto.

Suyanto mengatakan, informasinya lahan yang diuruk itu akan dijadikan gudang sekaligus garasi tronton dan kontainer milik perusahaan asal Surabaya. Meski lokasi lahan proyek berada di Desa Kerangrejo, dampaknya juga dirasakan warga Dusun Baran, Desa Winong.

“Lokasinya berbatasan langsung dengan Desa Karangrejo. Debunya selain masuk ke teras rumah warga, juga menganggu aktivitas usaha warga. Seperti toko pakaian, warung, toko kelontong, dan sebagainya. Aksi ini kemudian digelar warga secara spontanitas,” ujarnya.

Terkait masalah ini, Suyanto mengaku bersama perwakilan warga sudah menyampaikan kepada pihak pemborong proyek. Pihaknya meminta keluharan dan tuntutan warganya diperhatikan.

“Beberapa hari lalu sebenarnya sudah ada kesepakatan antara pihak pemborong dengan warga. Rencananya per meter kubiknya pasir kompensasinya Rp 1.500. Tapi, ternyata sekarang urung terealisasi,” ujarnya.

Terpisah, utusan pihak pemborong proyek Andri membenarkan jika lahan yang kini diuruk akan dijadikan gudang serta garasi tronton dan kontainer. Pengurukannya sudah berjalan sekitar 10 hari. Karena kemarin akses menuju lokasi proyek diblokade warga, aktivitas pengurukannya dihentikan sementara.

“Protes dan tuntutan kompensasi warga terkait debu siap kami tampung. Tetapi, belum bisa kami putuskan langsung. Masih akan kami sampaikan kepada pimpinan untuk dibahas dulu sebelum diputuskan,” ujarnya. (zal/rud)