Penulis M. Mahdi Kherid (Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Timur)
Di tengah hiruk pikuk dunia, di tengah distraksi media sosial yang luar biasa, mari sejenak kita bayangkan—tiga menit saja—bagaimana jika Indonesia tidak punya pesantren?
Tidak ada santri yang bangun subuh-subuh.
Tidak ada kiai yang setiap hari mendoakan negeri ini dalam sepi.
Tidak ada lembaga yang menanamkan adab di tengah derasnya arus dunia modern.
Tidak ada pula suara azan yang menggema, sebab mayoritas masjid di Indonesia dikelola dan dihidupkan oleh para alumni pesantren.
Mungkin Indonesia tetap ada. Tapi rasanya... bukan Indonesia yang kita kenal sekarang. Indonesia mungkin akan seperti Singapura: negara maju, tapi tanpa rasa.
Tanpa nilai. Tanpa khazanah lokal yang membuat kita unik hari ini. Itupun kalau maju—kalau tidak, kita akan jadi negara berkembang yang kehilangan rasa. Artinya, kaya belum tentu; masuk neraka sudah pasti.
Pesantren, Subkultur Penjaga Moral Bangsa
Pesantren adalah bagian dari subkultur masyarakat Indonesia. Jauh sebelum republik ini berdiri, pesantren sudah lebih dulu menjadi fondasi moral bangsa.
Sebelum ada sekolah modern, pesantren sudah jadi tempat rakyat kecil belajar—bukan hanya belajar kitab kuning, tapi juga belajar hidup: mandiri, sabar, disiplin, dan cinta tanah air.
Tanpa pesantren, kita tidak akan pernah mengenal pemimpin unik seperti Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Beliau sempat memiliki keinginan menjadi presiden, namun ketika melihat perpecahan bangsa begitu nyata, Gus Dur memilih untuk mendinginkan suasana dengan mengalah.
“Tidak ada jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian,” kata Gus Dur suatu ketika.
Bagi orang yang tak pernah nyantri, cara paling mudah memahami dunia pesantren adalah dengan melihat sosok Gus Dur: santri sejati yang pandai menguasai kitab kuning, namun juga mahir membaca geopolitik dunia. Kini, banyak orang mulai menyadari bahwa langkah-langkah Gus Dur, termasuk diplomasi strategisnya terhadap Israel, sarat dengan pandangan jauh ke depan.
Pesantren: Terbuka pada Pembaruan
Santri dan pesantren tidak pernah menolak pembaruan. Mereka hidup dengan pedoman:
“Pertahankan yang lama yang baik, dan ambil yang baru yang lebih baik.”
Pesantren yang telah berusia ratusan tahun tetap membuka diri terhadap kemajuan dan inovasi. Menurut Gus Dur, pesantren adalah lembaga yang “berani mengambil lompatan pemikiran ala filosofi Yunani, namun tetap mengedepankan Al-Qur’an dan Hadis.” (Abdullah, “Kurikulum Pesantren dalam Perspektif Gus Dur”, STIT Al Ibrohimy Galis Bangkalan)
Dari Resolusi Jihad hingga Piagam Jakarta
Dari pesantren-pesantren pula lahir tokoh-tokoh besar yang menjadi pilar perjuangan bangsa. KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, mencetuskan Resolusi Jihad yang membakar semangat arek-arek Surabaya pada 10 November 1945. Tanpa semangat itu, kisah heroik Surabaya takkan seindah yang kita dengar hari ini.
Putranya, KH Abdul Wahid Hasyim, juga memainkan peran penting dalam pendirian republik. Sebagai anggota BPUPKI, beliau ikut merumuskan dasar negara bersama Soekarno, Hatta, dan tokoh-tokoh lainnya.
Ketika terjadi perdebatan soal sila pertama dalam Piagam Jakarta—“Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”—KH Wahid Hasyim dengan bijak mengusulkan agar kalimat itu diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sebuah langkah yang menjaga persatuan bangsa sejak awal berdirinya.
Dalam satu garis keturunan saja—KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, dan KH Abdurrahman Wahid—tergambar betapa dalamnya kontribusi pesantren bagi Indonesia. Belum lagi tokoh-tokoh lain seperti KH Wahab Chasbullah, KH Idham Chalid, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Masjkur, dan banyak lagi.
Kini, pesantren tidak hanya menjadi benteng moral, tetapi juga pusat inovasi sosial. Menurut data Kementerian Agama, ada 42.365 pesantren di seluruh Indonesia. Bayangkan jika semuanya tidak ada—berapa banyak generasi muda yang akan kehilangan arah di tengah maraknya judi online, narkoba, dan krisis adab?
Pesantren adalah cermin wajah Islam Indonesia: ramah, moderat, dan menghargai perbedaan. Di pesantren, cinta agama berjalan seiring dengan cinta tanah air. Para santri diajarkan bahwa mencintai Indonesia adalah bagian dari iman.
Saat banyak lembaga pendidikan fokus pada nilai akademik, pesantren menanamkan nilai akhlak. Saat banyak orang sibuk mengejar dunia, pesantren mengajarkan kesederhanaan dan keikhlasan.
Hari ini, banyak pesantren yang mengajarkan sains, teknologi, hingga bisnis digital. Namun satu hal yang tidak berubah: ruh keikhlasan. Ribuan pesantren hidup dari swadaya pengasuh dan masyarakat sekitar, bahkan ada yang menggratiskan biaya SPP serta makan santri—bukti nyata bahwa pesantren adalah lembaga yang hidup untuk umat, bukan dari umat.
Penjaga Nurani Bangsa
Di tengah krisis moral dan kegelisahan sosial, pesantren tetap menjadi cahaya. Mengingatkan kita bahwa kemajuan tanpa akhlak adalah kehancuran, dan ilmu tanpa adab hanyalah kesombongan.
Saya tidak bisa membayangkan Indonesia tanpa pesantren—meski hanya membayangkan tiga menit. Saya justru lebih mudah membayangkan Indonesia tanpa salah satu stasiun televisi, misalnya Trans7, dengan beberapa program tak mendidiknya.
Tanpa Trans7, Indonesia akan baik-baik saja. Tapi tanpa pesantren, Indonesia akan kehilangan nurani dan empatinya.
Editor : Muhammad Fahmi