
Catatan Teknologi Pangan atas Kasus Keracunan dan Pentingnya Reformasi Sistem Produksi–Distribusi Makan Bergizi Gratis
Oleh: Ir. H. Cipto Santosa
*Praktisi Industri Pangan, Senior Food Technologist
Kasus dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak cukup diatasi dengan menindak dapur yang bermasalah. Kita perlu mengevaluasi desain sistem produksi dan distribusinya.
Makanan siap santap yang diproduksi secara terpusat, kemudian menempuh perjalanan panjang tanpa pengendalian temperatur yang memadai, menghadapi risiko keamanan pangan yang harus dikendalikan secara serius.
Solusinya perlu dipertimbangkan melalui model produksi yang lebih kecil dan lebih dekat dengan konsumen, sekitar 300–500 porsi per dapur per hari. Sementara itu, SPPG diperkuat sebagai pusat manajemen mutu dan keamanan pangan wilayah yang membina serta mengawasi dapur-dapur tersebut.
Jarak dipendekkan, waktu dipersingkat, _emperature dikendalikan, dan pengawasan diperkuat. Sebab keberhasilan MBG bukan hanya berapa juta porsi dibagikan, tetapi seberapa aman makanan itu sampai kepada anak-anak.
Rantai Panjang, Risiko Semakin Besar
MBG merupakan ikhtiar mulia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Namun, ada prinsip yang tidak boleh ditawar: makanan yang diberikan kepada anak-anak harus aman. Makanan yang seharusnya menyehatkan tidak boleh justru menjadi sumber penyakit.



