Ketika Gadget Menggantikan Guru: Problematika Phubbing di Hari Pendidikan Nasional

Oleh: Agus Lithanta
TANGGAL 2 Mei merupakan momentum bagi bangsa Indonesia untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Peringatan Hardiknas ini dilakukan dalam rangka mengenang jasa Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, serta merefleksikan kemajuan dunia pendidikan.
Namun, di era digital kini, perayaan tersebut dihadapkan pada sebuah ironi yang semakin mengkhawatirkan: fenomena phubbing (phone snubbing). Phubbing adalah perilaku mengabaikan orang yang berada di hadapan kita demi fokus pada ponsel pintar.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di ruang tamu atau kafe. Namun, telah merambah ke ruang-ruang kelas, ruang guru, hingga lingkungan keluarga yang seharusnya menjadi basis pendidikan karakter.
Di tengah semangat Hardiknas yang mengusung tema "Memuliakan Manusia melalui Pendidikan", keberadaan phubbing menjadi tantangan serius yang mendegradasi esensi interaksi manusiawi dalam proses belajar-mengajar.
Lalu bagaimana sebenarnya dampak fenomena phubbing terhadap ekosistem pendidikan dan langkah strategis untuk mengatasinya?
Secara etimologis, phubbing merupakan gabungan dari kata phone dan snubbing. Dalam konteks pendidikan, perilaku ini muncul dalam dua bentuk utama. Pertama, guru yang melakukan phubbing.
Ini ditandai dengan sikap pendidik yang lebih sibuk memeriksa notifikasi media sosial, membalas pesan pribadi, atau mengisi administrasi daring saat sedang berinteraksi dengan siswa di kelas.



