Temani Pengunjung Karaoke 4 Jam, Dibayar dengan Uang Palsu

MAYANGAN – Minthul, 24 (nama samaran), seorang pemandu lagu di Kota Probolinggo nampak tergopoh-gopoh. Ia masuk ke sebuah bilik karaoke. Dia langsung berlari mendekap Tole, 34 (juga nama samaran), yang saat itu tengah asyik memilih daftar lagu. Dengan sesenggukan, Minthul curhat bahwa baru saja mendapat tamu yang nggateli. Betapa tidak, servisnya selama 4 jam dibayar uang palsu.

“Aku apes, Mas,” kata Minthul sembari melingkarkan tangannya ke pundak Tole. Tentu saja, Tole merespons pelukan Minthul tersebut. Dengan sok bijak, Tole langsung mengajak Minthul duduk di sudut ruangan. Ia lupakan daftar lagu yang dipilih sebelumnya.

“Ada apa, jangan nangis dulu. Cerita sama Aa’,” katanya. Tole sengaja memberatkan nada suaranya. Tentu agar dianggap dewasa dan bijaksana. Sambil menyeka air matanya, Minthul pun menceritakan pengalaman pahitnya saat melayani tamu sebagai pemandu lagu sore itu.

Ceritanya, Minthul mendapat job dari pria yang belum pernah dikenalnya. Hanya berdua saja. Tak tanggung-tanggung, ia di-job 4 jam.

Minthul tak menaruh curiga pada pria yang ditemaninya itu. Apalagi, duit Rp 400 ribu bakal ia kantongi selama menemani pria tersebut.

Benar saja, waktu 4 jam dihabiskan keduanya untuk nyanyi. Pop, dangdut, sampai lagu berbahasa daerah gantian mereka nyanyikan. Begitu selesai, tole pun merogoh uang di saku celana jins biru miliknya. Delapan lembar duit Rp 50 ribu ia ambil dan diserahkan pada Minthul.

Sejenak Minthul pun berbinar. Keduanya pun berpisah. Dengan santai, Minthul menuju meja customer service untuk membeli rokok. Ia sodorkan salah satu dari 8 lembar duit Rp 50 ribu yang ia terima dari pria tersebut. Namun, uang itu kemudian dikembalikan oleh perempuan yang melayani di meja customer service.

“Uangnya palsu, Mbak,” kata Minthul menirukan suara perempuan tersebut. Bak disambar petir di siang bolong, Minthul kaget. Ia lantas meminta mbak pelayan tadi untuk kembali memeriksa keaslian uang itu. Ternyata tetap. Duit itu palsu. Dilihat, diraba, diterawang, tetap saja.

“Akhirnya saya minta diperiksa 7 lembar duit lainnya. Ternyata palsu semua, Mas Tole,” kata Minthul merajuk. “Padahal, uang itu mau aku buat bayar indekos. Sama ibu kos ditagih karena belum bayar sampai hari ini,” imbuh Minthul sembari tetap menggelayutkan tangannya di pundak Tole.

Tole yang salah tingkah dengan sikap Minthul, mencoba menguasai diri. Sebagai laki-laki, ia berusaha mencari solusi dari masalah yang menimpa Minthul. Seperti sudah ditebak, Minthul yang yakin rayuannya berhasil, langsung meminta Tole membayarkan uang indekosnya.

“Bagaimana ini, Mas Tole, masa kamu tega aku diusir dari tempat indekos,” kata Minthul kemudian. Tole makin “tersudut”. Sambil berdehem, dia lantas meyakinkan Minthul, bahwa ia layak disebut sebagai dewa penolong. Ia lantas mengeluarkan dompet dan mengeluarkan 4 lembar duit Rp 100 ribu.

“Tenang saja, apa kata saya. Uangnya kuganti, yang penting kamu nemani saya nyanyi ya,” ajak Tole. Tak kurang akal, Minthul langsung melepaskan rayuan maut berikutnya. “Terima kasih ya, Mas. Kamu baik banget deh. Tapi nanti kamu tambahi ya. Buat uang jajan,” rayu Minthul.

Alhasil, Tole sore itu mengeluarkan duit Rp 600 ribu. Tambahannya sebagai kompensasi menemani dia nyanyi selama 2 jam. Benar-benar maut rayuan pemandu lagu. (put/rf)