Jengkel karena Suami Jual Ponsel

PANDAAN – Alasan kesulitan uang untuk kebutuhan keluarga, Tole (nama samaran), 30, warga Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, memilih menjual handphone (HP) istrinya, Minthul (juga nama samaran), 24. Janji mau mengganti dengan yang lebih bagus, ternyata hanya pepesan kosong.

Minthul mengatakan benar-benar jengkel dengan ulah Tole yang suka janji kosong. Tak hanya masalah HP, banyak janji Tole yang hanya diucapkan, tapi tak kunjung ditepati. “Sekarang siapa yang gak jengkel. Cuma janji, tapi selama menikah tak pernah ada satupun yang ditepati,” keluh Minthul.

Dikatakan, pernikahan mereka memang baru menginjak 3 tahun. Tapi selama menikah, Minthul tak pernah merasakan dimanja oleh suaminya. Yang ada, Minthul hidup pas-pasan dan harus menerima pemberian uang Tole yang serba terbatas.

Sebelum menikah, Minthul memang sudah kenal dengan Tole hingga pacaran satu tahun lamanya. Dulu Minthul bekerja di pabrik yang sama. Minthul sebagai buruh produksi, dan Tole sekuriti. Namun, intensya pertemuan mereka, akhirnya muncul benih-benih cinta. Setelah pacaran dan saling mengenal, mereka pun memilih serius ke jenjang pernikahan.

Setelah menikah, Minthul memilih berhenti kerja dan mengabdikan hidupnya untuk keluarga. Minthul sendiri memang ikut tinggal di rumah orang tua Tole. Pendapatan Tole sebagai sekuriti, memang menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarga. “Gaji sekuriti memang gak besar. Makanya pas-pasan. Tentu saja tidak cukup ketika ada pengeluaran mendadak. Seperti ada yang sakit,” jelasnya.

Sebagai ibu rumah tangga yang hanya diam di rumah, Minthul mengaku bahwa HP adalah satu-satunya hiburan. Dari situ, Minthul masih bisa berkomunikasi dengan teman-teman lamanya. Namun setahun setelah menikah, karena sulit ekonomi, Tole memilih menjual HP-nya. Ia berjanji bakal membelikan yang lebih bagus.

“Saya ya percaya saja, apalagi Tole juga bilang janji mau beliin lagi,” ujarnya. Namun, sampai bertahun-tahun, Tole belum merealisasikan janjinya. Padahal, Minthul sudah mati gaya, karena tak punya alat komunikasi lagi. Sering beberapa kali ditagih, tapi Tole mengatakan sebagai pemborosan.

Minthul jelas kecewa, karena tak hanya masalah HP ia dusta. Janji Tole untuk bisa ngontrak rumah sendiri, sering mengajak jalan-jalan, sampai membelikan baju baru, tak pernah kesampaian. “Memang ekonomi sangat sulit, tapi masa gak mau menabung buat menyenangkan istrinya,” keluhnya.

Tak tahan lagi hidup sengsara, Minthulpun memilih minggat dan menggugat cerai suaminya di Pengadilan Agama Bangil. (eka/rf)