alexametrics
30 C
Probolinggo
Tuesday, 9 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Begini Penanganan Ibu Hamil di Masa Pandemi

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

KRAKSAAN, Radar Bromo – Pandemi Covid-19 belum berakhir. Dampaknya juga terasa pada layanan ibu dan bayi. Layanannya terdampak secara akses maupun kualitas. Ibu hamil tidak perlu khawatir dan takut berlebihan. Asal mengikuti prosedur yang ditentukan dan tetap mengikuti protokol kesehatan.

“Caranya tetap memakai masker. Masker yang dipakai maksimal 4 jam, dan juga dicuci. Kemudian menjaga jarak dan sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Serta, mengkonsumsi vitamin dan makanan bergizi,” ujar dr. Hj. Yessy Rahmawati, S.pOG (K).

dr. Hj. Yessy Rahmawati, S.pOG(K), Ketua IDI Kabupaten Probolinggo

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan di RSUD Waluyo Jati Kraksaan itu mengatakan, dimasa pandemi ini diharapkan persalinan dan bayi baru lahir tetap mendapatkan pelayanan esensial. Serta mendapatkan akses pertolongan kegawatdaruratan.

“Ada pula deteksi faktor risiko Covid-19. Sehingga dapat dikenali secara dini, dan tenaga kesehatan mendapatkan perlindungan dari tertular Covid-19,” ujar dokter yang juga koordinator kuratif Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo itu.

Dokter Yessy mengungkapkan, pada usia kehamilan 38 minggu atau rencana pengakhiran kehamilan kurang dari dua minggu dari jadwal yang ditentukan, misalnya pada ibu hamil dengan bekas operasi, dengan panggul sempit akan dilakukan pemeriksaan swab PCR. “Sehinggga dapat diketahui statusnya terkonfirmasi covid atau kasus non covid,” katanya.

Menurut Ketua IDI Kabupaten Probolinggo itu, ada juga metode lain yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan klinis, tesserologis, atau fotorontgen dada, dan dilakukan konsultasi dengan Satgas Covid-19 atau dokter spesialis paru. “Jika pasien dikategorikan sebagai kasus non-covid, maka penanganan kehamilan dikerjakan seperti biasa di kamar bersalin. Jika dikategorikan kasus suspek, harus didiagnosa dengan RT-PCR swab (skrining dua tahap). Pasien suspek harus diperlakukan sebagai pasien positif Covid-19 sampai hasil swab menyatakan sebaliknya,” jelasnya.

Di Kabupaten Probolinggo, isolasi mandiri pada ibu hamil dan nifas tidak dilakukan secara mandiri di rumah. Tetapi disediakan fasilitas isolasi oleh Pemkab Probolinggo. “Persalinannya dilakukan di rumah sakit yang memenuhi standar fasilitas pelayanan Covid-19. Ada 2 RSUD milik Pemkab yang dilengkapi bilik persalinan dan kamar operasi khusus Covid,” katanya. (uno/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

KRAKSAAN, Radar Bromo – Pandemi Covid-19 belum berakhir. Dampaknya juga terasa pada layanan ibu dan bayi. Layanannya terdampak secara akses maupun kualitas. Ibu hamil tidak perlu khawatir dan takut berlebihan. Asal mengikuti prosedur yang ditentukan dan tetap mengikuti protokol kesehatan.

“Caranya tetap memakai masker. Masker yang dipakai maksimal 4 jam, dan juga dicuci. Kemudian menjaga jarak dan sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Serta, mengkonsumsi vitamin dan makanan bergizi,” ujar dr. Hj. Yessy Rahmawati, S.pOG (K).

dr. Hj. Yessy Rahmawati, S.pOG(K), Ketua IDI Kabupaten Probolinggo

Mobile_AP_Half Page

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan di RSUD Waluyo Jati Kraksaan itu mengatakan, dimasa pandemi ini diharapkan persalinan dan bayi baru lahir tetap mendapatkan pelayanan esensial. Serta mendapatkan akses pertolongan kegawatdaruratan.

“Ada pula deteksi faktor risiko Covid-19. Sehingga dapat dikenali secara dini, dan tenaga kesehatan mendapatkan perlindungan dari tertular Covid-19,” ujar dokter yang juga koordinator kuratif Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo itu.

Dokter Yessy mengungkapkan, pada usia kehamilan 38 minggu atau rencana pengakhiran kehamilan kurang dari dua minggu dari jadwal yang ditentukan, misalnya pada ibu hamil dengan bekas operasi, dengan panggul sempit akan dilakukan pemeriksaan swab PCR. “Sehinggga dapat diketahui statusnya terkonfirmasi covid atau kasus non covid,” katanya.

Menurut Ketua IDI Kabupaten Probolinggo itu, ada juga metode lain yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan klinis, tesserologis, atau fotorontgen dada, dan dilakukan konsultasi dengan Satgas Covid-19 atau dokter spesialis paru. “Jika pasien dikategorikan sebagai kasus non-covid, maka penanganan kehamilan dikerjakan seperti biasa di kamar bersalin. Jika dikategorikan kasus suspek, harus didiagnosa dengan RT-PCR swab (skrining dua tahap). Pasien suspek harus diperlakukan sebagai pasien positif Covid-19 sampai hasil swab menyatakan sebaliknya,” jelasnya.

Di Kabupaten Probolinggo, isolasi mandiri pada ibu hamil dan nifas tidak dilakukan secara mandiri di rumah. Tetapi disediakan fasilitas isolasi oleh Pemkab Probolinggo. “Persalinannya dilakukan di rumah sakit yang memenuhi standar fasilitas pelayanan Covid-19. Ada 2 RSUD milik Pemkab yang dilengkapi bilik persalinan dan kamar operasi khusus Covid,” katanya. (uno/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2