alexametrics
26 C
Probolinggo
Friday, 20 May 2022

Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas Guguran hingga 4 KM

LUMAJANG–Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali meluncurkan guguran awan panas, Minggu (27/3) pagi sekitar pukul 09.08. Jarak luncur guguran awan itu sekitar 4 kilometer dari puncak, ke arah Besuk Kobokan dan Besuk Lengkong.

”Telah terjadi erupsi Semeru berupa awan panas guguran pada Minggu (27/3), dengan amplitudo maksimum 20 MM dan durasi 294 detik,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Patria Dwi Hastiadi seperti dilansir dari Antara, Minggu (27/3).

Menurut Patria, awan panas guguran tersebut meluncur sejauh 4 kilometer dari puncak ke arah Besuk Kobokan dan Besuk Lengkong. Masyarakat diminta waspada karena status gunung tertinggi di Pulau Jawa itu masih level III atau siaga.

“BPBD selalu menyebarluaskan informasi terkait dengan aktivitas Gunung Semeru itu, sehingga masyarakat bisa mengetahui dan meningkatkan kesiagaannya untuk mematuhi rekomendasi PVMBG,” tutur Patria Dwi Hastiadi.

Sementara itu Petugas Pos Pantau Pengamatan Gunung Semeru Yuda Prinardita dalam laporan tertulisnya mencatat, aktivitas kegempaan Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (dpl) itu pada periode 06.00–12.00 WIB mengalami letusan, awan panas guguran, gempa vulkanik, dan terekam getaran banjir.

”Tercatat 12 kali letusan dengan amplitudo 11–22 MM dan lama gempa 55–130 detik, kemudian satu kali terjadi awan panas guguran dengan amplitudo 20 MM dengan lama gempa 294 detik,” terang Yuda.

Selain itu, lanjut dia, Gunung Semeru mengalami satu kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 21 MM dan satu kali gempa getaran banjir dengan amplitudo 15 MM selama 3.600 detik.

”Seiring dengan status Gunung Semeru masih siaga sejak 16 Desember 2021, beberapa rekomendasi PVMBG yang harus dipatuhi masyarakat. Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak (pusat letusan),” papar Yuda.

Di luar jarak tersebut, dia menjelaskan, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Sebab, berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

”Masyarakat juga tidak boleh beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” ucap Yuda.

Dia juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru. Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

”Selain itu waspadai potensi lahar di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” ujar Yuda. (jawapos.com)

 

 

 

LUMAJANG–Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali meluncurkan guguran awan panas, Minggu (27/3) pagi sekitar pukul 09.08. Jarak luncur guguran awan itu sekitar 4 kilometer dari puncak, ke arah Besuk Kobokan dan Besuk Lengkong.

”Telah terjadi erupsi Semeru berupa awan panas guguran pada Minggu (27/3), dengan amplitudo maksimum 20 MM dan durasi 294 detik,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Patria Dwi Hastiadi seperti dilansir dari Antara, Minggu (27/3).

Menurut Patria, awan panas guguran tersebut meluncur sejauh 4 kilometer dari puncak ke arah Besuk Kobokan dan Besuk Lengkong. Masyarakat diminta waspada karena status gunung tertinggi di Pulau Jawa itu masih level III atau siaga.

“BPBD selalu menyebarluaskan informasi terkait dengan aktivitas Gunung Semeru itu, sehingga masyarakat bisa mengetahui dan meningkatkan kesiagaannya untuk mematuhi rekomendasi PVMBG,” tutur Patria Dwi Hastiadi.

Sementara itu Petugas Pos Pantau Pengamatan Gunung Semeru Yuda Prinardita dalam laporan tertulisnya mencatat, aktivitas kegempaan Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (dpl) itu pada periode 06.00–12.00 WIB mengalami letusan, awan panas guguran, gempa vulkanik, dan terekam getaran banjir.

”Tercatat 12 kali letusan dengan amplitudo 11–22 MM dan lama gempa 55–130 detik, kemudian satu kali terjadi awan panas guguran dengan amplitudo 20 MM dengan lama gempa 294 detik,” terang Yuda.

Selain itu, lanjut dia, Gunung Semeru mengalami satu kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 21 MM dan satu kali gempa getaran banjir dengan amplitudo 15 MM selama 3.600 detik.

”Seiring dengan status Gunung Semeru masih siaga sejak 16 Desember 2021, beberapa rekomendasi PVMBG yang harus dipatuhi masyarakat. Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak (pusat letusan),” papar Yuda.

Di luar jarak tersebut, dia menjelaskan, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Sebab, berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

”Masyarakat juga tidak boleh beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” ucap Yuda.

Dia juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru. Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

”Selain itu waspadai potensi lahar di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” ujar Yuda. (jawapos.com)

 

 

 

MOST READ

BERITA TERBARU

/