alexametrics
26.3 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

22 Tahun Jawa Pos Radar Bromo: Berkembang Bersama Zaman

ZAMAN sekarang tidak perlu koran. Cukup klik gadget, sudah mendapatkan berita terkini. Cepat dan tidak perlu beli. Bisa diakses kapan saja dan dari mana saja. Tidak perlu menunggu pagi. Seperti ketika menunggu datangnya koran.

Obrolan dan diskusi semacam ini sering kita dengar. Mulai kalangan pers, hingga akademisi. Kisah koran tutup seakan membuktikan berakhirnya masa keemasan media cetak. Dianggap lambat dan tidak aktual. Kalah bersaing dalam kecepatan penyajian informasi.

Hal ini sejalan dengan era digital 4.0. Era yang mendisrupsi semua lini. Termasuk media. Hadirnya media sosial (medsos) dan online, diprediksi mempercepat matinya koran. Semua akan berganti digital. Serbacepat dan aktual. Menggantikan koran yang dinilai lambat menyajikan informasi.

Kondisi ini sudah diprediksi sejak lama. Tahun 1990, Bill Gates, mantan CEO Microsoft, meramal koran akan mati tahun 2000. Rupert Murdoch, CEO News Corp, memprediksi koran akan mati 20 tahun lagi. Prediksi ini dikatakan pada tahun 2000. Artinya, tahun 2020 lalu mestinya tidak ada lagi koran di muka bumi ini.

Benarkah prediksi itu? Ternyata tidak juga. Sampai hari ini, masih ada koran. Meski beberapa ada yang gulung tikar. Ramalan para pesohor media itu tidak terbukti. Artinya, keberadaan medsos dan online, tidak serta merta membunuh koran. Baik dari sisi content berita, maupun iklannya.

Bisa jadi, kehadiran medsos dan online hanya mendisrupsi sebagian koran. Tidak semuanya. Misalnya, soal kecepatan dan coverage area.

Koran tidak mungkin bersaing di wilayah itu. Pasti jauh tertinggal. Tapi, tidak otomatis koran akan mati. Malah, ini menutupi keterbatasan koran dalam  kecepatan menyajikan berita dan coverage area-nya.

Lalu kenapa ada koran yang tutup? Tentu tidak serta merta karena medsos dan online. Penyebabnya beragam. Bisa jadi karena salah kelola. Manajemennya amburadul. Soal ini, salah satu jurnalis Jerman, Herbert Pranti mengatakan, kadang koran sendiri yang suka mempercepat kematiannya.

Pranti mencontohkan, ketika salah satu media di Jerman dibeli seorang investor. Kemudian membenahi manajemennya. Celakanya, kata Pranti, yang dilakukan dengan memecat para jurnalis, mengganti pemimpin redaksi, menghilangkan dana koresponden, dan mendangkalkan isi koran. Yang dipikirkan investor hanya efisiensi dan keuntungan. Tidak mau memikirkan soal kualitas koran.

Berbeda disampaikan Hellen Katherina, executive director Media Business Nielsen Indonesia. Menurutnya, tutupnya beberapa perusahaan media cetak, karena terlambat menyesuaikan zaman. Bukan karena diserang oleh media digital.

Hellen yakin, media cetak tidak akan mati. Yang  berubah hanya ekosistemnya. Menjadi lebih banyak. Karena itu, media cetak harus meremajakan diri. Menyesuaikan dengan perubahan zaman. Termasuk menyesuaikan style-nya agar bisa menarik pembaca muda.

Lantas apa yang harus dilakukan koran agar bertahan di era digital yang serbacepat ini? Menjawab pertanyaan ini, tentu harus dilihat dari berbagai sisi. Karena, baik online, maupun koran punya kelebihan dan kekurangan. Jika salah satu dihilangkan, akan mengurangi kualitas masing-masing. Tapi, akan menjadi kekuatan luar biasa, jika keduanya dikolaborasikan. Sehingga antara kekuatan dan kelemahannya, saling menutupi dan melengkapi.

Mengutip pendapat jurnalis senior Sindhunata, tidak tepat mempertentangkan antara koran dengan internet. Keduanya justru saling melengkapi. Akan menjadi efektif, jika keduanya berkonsentrasi kepada kekuatan dan kelebihannya. Internet kepada kecepatannya. Koran kepada refleksinya. Sehingga tidak cukup hanya memberi informasi. Tapi, koran juga memberikan solusi.

Selain itu, koran harus tetap mempertahankan standar dan cara mendalami informasinya. Mulai dari penggalian ide, how to get, dan how to write-nya. Termasuk verifikasi yang ketat sebelum masuk ke meja layout. Ada proses yang panjang dan tidak serta merta menjadi sebuah berita. Sehingga, ketika sampai ke masyarakat, informasi itu layak berita dan bebas hoax.

Karena itu, Ignatius Haryanto, peneliti senior di Lembaga Studi Pers dan Pembangunan menilai, melambatnya bisnis media cetak lebih pada pertarungan kualitas jurnalisme. Media yang kualitas jurnalisme baik dan teruji, tetap akan dibaca masyarakat. Apapun mediumnya.

Hari ini, Jawa Pos Radar Bromo berusia 22 tahun. Umur yang cukup panjang untuk sebuah media lokal yang terbit di Kota/Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan. Di tengah persaingan yang semakin ketat, media terbesar di wilayahnya ini, masih eksis sampai saat ini. Masih terbit tiap hari. Masih ada pelanggannya. Masih dijual di perempatan-perempatan lampu merah. Dan dibaca oleh semua kalangan. Secara bisnis, perusahaan masih berjalan baik.

Sama dengan media cetak lainnya. Jawa Pos Radar Bromo juga menghadapi serbuan medsos dan online. Bukan menjadi hambatan, tapi sebagai peluang. Kelemahan di koran akan ditutupi keunggulan medsos dan online.

Dengan tagline: Berkembang Bersama Zaman, Jawa Pos Radar Bromo akan menjawab berbagai tantangan itu. Jawa Pos Radar Bromo akan berkembang selamanya. Apapun zamannya. Dengan beradaptasi mengikuti setiap perubahan. Termasuk perubahan era digital. Jawa Pos Radar Bromo akan merangkul kemajuan teknologi tersebut.

Saat ini, pembaca Jawa Pos Radar Bromo tidak hanya bisa menikmati berita di koran. Tapi, juga bisa melihat secara online. Termasuk di medsos.

Dengan kolaborasi ini, segmentasinya juga semakin beragam. Bisa dinikmati oleh kaum milenial yang familiar dengan gadget. Tapi, juga tetap mempertahankan pembaca lama yang mempunyai habit (kebiasaan) membaca koran tiap pagi sambil menikmati secangkir kopi sebelum berangkat kerja.

Dari coverage area, juga akan makin luas. Tidak hanya di wilayah Kota/Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan. Tapi juga bisa ke seluruh Indonesia. Termasuk mancanegara. Berita-berita lokal bisa diakses oleh siapapun dan dari manapun juga. Tanpa batas.

Tentu content yang disajikan tidak asal-asalan. Bukan hanya menyajikan berita cepat dan pendek-pendek dengan satu dua narasumber. Kemudian, digarap bertahap dan mencicil.

Tapi, berita yang disajikan tetap sesuai standar koran. Baik dari sisi ide, peliputan, dan penulisannya. Sehingga, antara koran dan online, kualitasnya sama.

Pada akhirnya, antara koran dan online harus seiring sejalan. Saling melengkapi. Setiap orang masih membutuhkan informasi. Apapun bentuk dan mediumnya. Karena itu, perkembangan zaman ini akan terus diikuti. Tanpa harus meninggalkan koran, yang sampai saat ini masih ada pembaca setianya.

Seperti halnya radio yang akan terancam saat hadirnya TV. Kenyataannya saat ini, baik radio maupun TV, tetap hidup. Tentu dengan segmen dan audien yang berbeda. Pun demikian koran dengan online dan medsos. Pada akhirnya, bisa juga hidup berdampingan.

Lalu apakah koran akan mati? Tergantung bagaimana koran menyikapi setiap perubahan zaman. Yang jelas, prediksi Bill Gates dan Rupert Murdoch, sudah tidak terbukti. Meski Philip Meyer, seorang profesor emeritus University of North Carolina, Amerika Serikat, juga memprediksi koran cetak akan punah tahun 2043. Atau sekitar 22 tahun lagi.

Kalau ramalan ini benar, paling tidak ada waktu 22 tahun koran bisa hidup. Masih ada waktu untuk koran berbenah dan mengoreksi dirinya. Tapi bisa jadi ramalan itu mbleset lagi, seperti ramalan-ramalan sebelumnya. Karena, koran bisa beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Selamat Ulang Tahun Jawa Pos Radar Bromo ke-22. Semoga Menjadi Media Tepercaya, Terdepan, dan Mencerdaskan. (*)

ZAMAN sekarang tidak perlu koran. Cukup klik gadget, sudah mendapatkan berita terkini. Cepat dan tidak perlu beli. Bisa diakses kapan saja dan dari mana saja. Tidak perlu menunggu pagi. Seperti ketika menunggu datangnya koran.

Obrolan dan diskusi semacam ini sering kita dengar. Mulai kalangan pers, hingga akademisi. Kisah koran tutup seakan membuktikan berakhirnya masa keemasan media cetak. Dianggap lambat dan tidak aktual. Kalah bersaing dalam kecepatan penyajian informasi.

Hal ini sejalan dengan era digital 4.0. Era yang mendisrupsi semua lini. Termasuk media. Hadirnya media sosial (medsos) dan online, diprediksi mempercepat matinya koran. Semua akan berganti digital. Serbacepat dan aktual. Menggantikan koran yang dinilai lambat menyajikan informasi.

Kondisi ini sudah diprediksi sejak lama. Tahun 1990, Bill Gates, mantan CEO Microsoft, meramal koran akan mati tahun 2000. Rupert Murdoch, CEO News Corp, memprediksi koran akan mati 20 tahun lagi. Prediksi ini dikatakan pada tahun 2000. Artinya, tahun 2020 lalu mestinya tidak ada lagi koran di muka bumi ini.

Benarkah prediksi itu? Ternyata tidak juga. Sampai hari ini, masih ada koran. Meski beberapa ada yang gulung tikar. Ramalan para pesohor media itu tidak terbukti. Artinya, keberadaan medsos dan online, tidak serta merta membunuh koran. Baik dari sisi content berita, maupun iklannya.

Bisa jadi, kehadiran medsos dan online hanya mendisrupsi sebagian koran. Tidak semuanya. Misalnya, soal kecepatan dan coverage area.

Koran tidak mungkin bersaing di wilayah itu. Pasti jauh tertinggal. Tapi, tidak otomatis koran akan mati. Malah, ini menutupi keterbatasan koran dalam  kecepatan menyajikan berita dan coverage area-nya.

Lalu kenapa ada koran yang tutup? Tentu tidak serta merta karena medsos dan online. Penyebabnya beragam. Bisa jadi karena salah kelola. Manajemennya amburadul. Soal ini, salah satu jurnalis Jerman, Herbert Pranti mengatakan, kadang koran sendiri yang suka mempercepat kematiannya.

Pranti mencontohkan, ketika salah satu media di Jerman dibeli seorang investor. Kemudian membenahi manajemennya. Celakanya, kata Pranti, yang dilakukan dengan memecat para jurnalis, mengganti pemimpin redaksi, menghilangkan dana koresponden, dan mendangkalkan isi koran. Yang dipikirkan investor hanya efisiensi dan keuntungan. Tidak mau memikirkan soal kualitas koran.

Berbeda disampaikan Hellen Katherina, executive director Media Business Nielsen Indonesia. Menurutnya, tutupnya beberapa perusahaan media cetak, karena terlambat menyesuaikan zaman. Bukan karena diserang oleh media digital.

Hellen yakin, media cetak tidak akan mati. Yang  berubah hanya ekosistemnya. Menjadi lebih banyak. Karena itu, media cetak harus meremajakan diri. Menyesuaikan dengan perubahan zaman. Termasuk menyesuaikan style-nya agar bisa menarik pembaca muda.

Lantas apa yang harus dilakukan koran agar bertahan di era digital yang serbacepat ini? Menjawab pertanyaan ini, tentu harus dilihat dari berbagai sisi. Karena, baik online, maupun koran punya kelebihan dan kekurangan. Jika salah satu dihilangkan, akan mengurangi kualitas masing-masing. Tapi, akan menjadi kekuatan luar biasa, jika keduanya dikolaborasikan. Sehingga antara kekuatan dan kelemahannya, saling menutupi dan melengkapi.

Mengutip pendapat jurnalis senior Sindhunata, tidak tepat mempertentangkan antara koran dengan internet. Keduanya justru saling melengkapi. Akan menjadi efektif, jika keduanya berkonsentrasi kepada kekuatan dan kelebihannya. Internet kepada kecepatannya. Koran kepada refleksinya. Sehingga tidak cukup hanya memberi informasi. Tapi, koran juga memberikan solusi.

Selain itu, koran harus tetap mempertahankan standar dan cara mendalami informasinya. Mulai dari penggalian ide, how to get, dan how to write-nya. Termasuk verifikasi yang ketat sebelum masuk ke meja layout. Ada proses yang panjang dan tidak serta merta menjadi sebuah berita. Sehingga, ketika sampai ke masyarakat, informasi itu layak berita dan bebas hoax.

Karena itu, Ignatius Haryanto, peneliti senior di Lembaga Studi Pers dan Pembangunan menilai, melambatnya bisnis media cetak lebih pada pertarungan kualitas jurnalisme. Media yang kualitas jurnalisme baik dan teruji, tetap akan dibaca masyarakat. Apapun mediumnya.

Hari ini, Jawa Pos Radar Bromo berusia 22 tahun. Umur yang cukup panjang untuk sebuah media lokal yang terbit di Kota/Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan. Di tengah persaingan yang semakin ketat, media terbesar di wilayahnya ini, masih eksis sampai saat ini. Masih terbit tiap hari. Masih ada pelanggannya. Masih dijual di perempatan-perempatan lampu merah. Dan dibaca oleh semua kalangan. Secara bisnis, perusahaan masih berjalan baik.

Sama dengan media cetak lainnya. Jawa Pos Radar Bromo juga menghadapi serbuan medsos dan online. Bukan menjadi hambatan, tapi sebagai peluang. Kelemahan di koran akan ditutupi keunggulan medsos dan online.

Dengan tagline: Berkembang Bersama Zaman, Jawa Pos Radar Bromo akan menjawab berbagai tantangan itu. Jawa Pos Radar Bromo akan berkembang selamanya. Apapun zamannya. Dengan beradaptasi mengikuti setiap perubahan. Termasuk perubahan era digital. Jawa Pos Radar Bromo akan merangkul kemajuan teknologi tersebut.

Saat ini, pembaca Jawa Pos Radar Bromo tidak hanya bisa menikmati berita di koran. Tapi, juga bisa melihat secara online. Termasuk di medsos.

Dengan kolaborasi ini, segmentasinya juga semakin beragam. Bisa dinikmati oleh kaum milenial yang familiar dengan gadget. Tapi, juga tetap mempertahankan pembaca lama yang mempunyai habit (kebiasaan) membaca koran tiap pagi sambil menikmati secangkir kopi sebelum berangkat kerja.

Dari coverage area, juga akan makin luas. Tidak hanya di wilayah Kota/Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan. Tapi juga bisa ke seluruh Indonesia. Termasuk mancanegara. Berita-berita lokal bisa diakses oleh siapapun dan dari manapun juga. Tanpa batas.

Tentu content yang disajikan tidak asal-asalan. Bukan hanya menyajikan berita cepat dan pendek-pendek dengan satu dua narasumber. Kemudian, digarap bertahap dan mencicil.

Tapi, berita yang disajikan tetap sesuai standar koran. Baik dari sisi ide, peliputan, dan penulisannya. Sehingga, antara koran dan online, kualitasnya sama.

Pada akhirnya, antara koran dan online harus seiring sejalan. Saling melengkapi. Setiap orang masih membutuhkan informasi. Apapun bentuk dan mediumnya. Karena itu, perkembangan zaman ini akan terus diikuti. Tanpa harus meninggalkan koran, yang sampai saat ini masih ada pembaca setianya.

Seperti halnya radio yang akan terancam saat hadirnya TV. Kenyataannya saat ini, baik radio maupun TV, tetap hidup. Tentu dengan segmen dan audien yang berbeda. Pun demikian koran dengan online dan medsos. Pada akhirnya, bisa juga hidup berdampingan.

Lalu apakah koran akan mati? Tergantung bagaimana koran menyikapi setiap perubahan zaman. Yang jelas, prediksi Bill Gates dan Rupert Murdoch, sudah tidak terbukti. Meski Philip Meyer, seorang profesor emeritus University of North Carolina, Amerika Serikat, juga memprediksi koran cetak akan punah tahun 2043. Atau sekitar 22 tahun lagi.

Kalau ramalan ini benar, paling tidak ada waktu 22 tahun koran bisa hidup. Masih ada waktu untuk koran berbenah dan mengoreksi dirinya. Tapi bisa jadi ramalan itu mbleset lagi, seperti ramalan-ramalan sebelumnya. Karena, koran bisa beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Selamat Ulang Tahun Jawa Pos Radar Bromo ke-22. Semoga Menjadi Media Tepercaya, Terdepan, dan Mencerdaskan. (*)

MOST READ

BERITA TERBARU

/