alexametrics
29.5 C
Probolinggo
Sunday, 22 May 2022

Janji Diskusi dan Kulineran

Oleh: Suyuti

*Wartawan Jawa Pos Radar Bromo

PAGI ini beredar kabar duka. Dari dua grup WA: Silaturahmi Media Jatim dan Pro PWI Jatim 2021-2026. Wartawan senior sekaligus dosen dan pengamat media, Dr. Hernani Sirikit, M.A., atau yang dikenal Sirikit Syah, tutup usia. Mb Ikit, begitu biasa dipanggil, wafat setelah dirawat selama sembilan hari di RS Haji Surabaya.

Saya tidak punya pengalaman khusus dengan Mb Ikit. Tidak pernah sekantor. Bukan mahasiswanya. Juga tidak pernah bekerjasama, misalnya dalam penulisan buku atau lainnya. Saya hanya pernah bertemu saat menjadi narasumber dalam pelatihan “Menulis Berita Konflik” di Surabaya. Itu pun sudah lama. Sekitar tahun 2000.

Komunikasi kembali terjalin setelah berteman di medsos. Tapi tidak intens. Saya lebih banyak menikmati tulisan-tulisannya. Mulai pengalaman mencari beasiswa kuliah di luar negeri sampai cerita perjuangannya melawan kanker yang menderanya.

Saat mendapatkan nomer HP-nya, saya menghubunginya. Saya mengenalkan diri. Ternyata masih ingat dengan acara di Surabaya. Kebetulan yang mengadakan lembaga yang didirikannya, Media Watch. “Oh…iya saya ingat. Sudah lama ya, Mas?” kata Mb Ikit.

Setelah itu, saya beberapa kali menghubunginya lewat WA. Merencanakan kegiatan bersama. Meski tidak pernah terealisir hingga saat ini.

Pertama:  Mengadakan pelatihan jurnalistik bekerjasama dengan lembaganya, Sirikit School Writing (SSW). Saat itu, saya ingin meng-up grade wartawan di tempat saya bekerja, Jawa Pos Radar Bromo. Termasuk, mengadakan pelatihan atau seminar media untuk para kepala OPD di Probolinggo dan Pasuruan.

“Begini saja…Mas kirim beberapa wartawan ke tempatku. Nanti saya training. Setelah itu, mereka bisa menjadi tutor di daerah. Kurikulumnya sudah ada. Tinggal baca. Kalau saya yang ke daerah…kelihatannya belum bisa. Saya belum fit. Proses penyembuhan,” kata Mb Ikit waktu itu.

Kedua: Mau berkunjung ke Surabaya. Saya sempat mengajak mantan wartawan Surabaya Post H. Ikhsan Mahmudi, yang pernah sekantor dengan Mb Ikit. Rencana ini tidak pernah terealisir karena pandemi Covid-19.

Ketiga:  Februari lalu, saat bukunya “Teori dan Filosofi Jurnalistik Dalam Praktik” terbit, saya langsung pesan. Selain untuk saya. Buku tersebut saya bagikan kepada para awak redaksi Jawa Pos Radar Bromo.

Saya pesan 7 buku. Hanya dikirim 2 buku. Stok habis. Sisanya, 5 buku dikirim bulan berikutnya. Dari 7 buku yang dikirim. Ada 1 buku, yang tidak ada bungkus plastiknya. Ternyata, sudah diteken dan ditulisi pesan: Utk Suyuti…Semoga Terilhami. 20/2/2022.

Ya…saya sangat terilhami buku tersebut. Di tengah derasnya media digital. Mb Ikit mengingatkan tentang pentingnya berpegang teguh pada prinsip-prinsip jurnalistik yang sudah dianggap lawas. Salah satunya tentang konsep 5W + 1H. Ditulis secara ringan, bisa habis sekali baca.

11 Maret lalu, setelah bukunya saya terima. Mb Ikit WA : “Kapan2, aku undangen ke Probolinggo ya…Diskusi sama teman2 wartawan”.  Dengan senang hati, permintaan itu saya sanggupi. Selain untuk meng-upgrade awak redaksi Radar Bromo. Rencananya, juga untuk pelatihan teman-teman wartawan di PWI Probolinggo Raya.

“Sudah bisa keluar kota, Mbak?” tanya saya. “Cukup sehat dan sudah bisa keluar kota. Akhir Maret ini mau ke Semarang. April puasa. Bisa nunggu Mei atau pas puasa juga nggak pa2. Misalnya bakda Ashar, ditutup saat buka. Aku diajak kulineran,” balasnya disertai emoticon tersenyum.

Saat saya tanya materinya. “Bisa jurnalisme di era cyber/digital (prosedur dan tantangan. Pasal delik pers di KUHP dan UU ITE (studi kasus), jurnalisme media sosial/warga net,” jelasnya. Sangat menarik dan kekinian. Cocok untuk para jurnalis.

“Kalau soal menulis artikel, bisa Mbak?” tanya saya. “Lho iya…menulis artikel di media massa, bisa untuk kalangan dosen dan guru. Bagus juga untuk wartawan yang ingin jadi penulis independen,” jawabnya.

Belum terealisir rencana-rencana tersebut, beredar kabar duka di berbagai platform. Ibu dua anak dengan tiga cucu ini, dikabarkan meninggal dunia di RS Haji Surabaya. Setelah cukup lama berjuang melawan kanker yang diidapnya.

Selamat jalan Mb Ikit….Karya-karyamu akan selalu dikenang. Insya Allah akan menjadi amal jariyahmu…Aamiin. (*)

Oleh: Suyuti

*Wartawan Jawa Pos Radar Bromo

PAGI ini beredar kabar duka. Dari dua grup WA: Silaturahmi Media Jatim dan Pro PWI Jatim 2021-2026. Wartawan senior sekaligus dosen dan pengamat media, Dr. Hernani Sirikit, M.A., atau yang dikenal Sirikit Syah, tutup usia. Mb Ikit, begitu biasa dipanggil, wafat setelah dirawat selama sembilan hari di RS Haji Surabaya.

Saya tidak punya pengalaman khusus dengan Mb Ikit. Tidak pernah sekantor. Bukan mahasiswanya. Juga tidak pernah bekerjasama, misalnya dalam penulisan buku atau lainnya. Saya hanya pernah bertemu saat menjadi narasumber dalam pelatihan “Menulis Berita Konflik” di Surabaya. Itu pun sudah lama. Sekitar tahun 2000.

Komunikasi kembali terjalin setelah berteman di medsos. Tapi tidak intens. Saya lebih banyak menikmati tulisan-tulisannya. Mulai pengalaman mencari beasiswa kuliah di luar negeri sampai cerita perjuangannya melawan kanker yang menderanya.

Saat mendapatkan nomer HP-nya, saya menghubunginya. Saya mengenalkan diri. Ternyata masih ingat dengan acara di Surabaya. Kebetulan yang mengadakan lembaga yang didirikannya, Media Watch. “Oh…iya saya ingat. Sudah lama ya, Mas?” kata Mb Ikit.

Setelah itu, saya beberapa kali menghubunginya lewat WA. Merencanakan kegiatan bersama. Meski tidak pernah terealisir hingga saat ini.

Pertama:  Mengadakan pelatihan jurnalistik bekerjasama dengan lembaganya, Sirikit School Writing (SSW). Saat itu, saya ingin meng-up grade wartawan di tempat saya bekerja, Jawa Pos Radar Bromo. Termasuk, mengadakan pelatihan atau seminar media untuk para kepala OPD di Probolinggo dan Pasuruan.

“Begini saja…Mas kirim beberapa wartawan ke tempatku. Nanti saya training. Setelah itu, mereka bisa menjadi tutor di daerah. Kurikulumnya sudah ada. Tinggal baca. Kalau saya yang ke daerah…kelihatannya belum bisa. Saya belum fit. Proses penyembuhan,” kata Mb Ikit waktu itu.

Kedua: Mau berkunjung ke Surabaya. Saya sempat mengajak mantan wartawan Surabaya Post H. Ikhsan Mahmudi, yang pernah sekantor dengan Mb Ikit. Rencana ini tidak pernah terealisir karena pandemi Covid-19.

Ketiga:  Februari lalu, saat bukunya “Teori dan Filosofi Jurnalistik Dalam Praktik” terbit, saya langsung pesan. Selain untuk saya. Buku tersebut saya bagikan kepada para awak redaksi Jawa Pos Radar Bromo.

Saya pesan 7 buku. Hanya dikirim 2 buku. Stok habis. Sisanya, 5 buku dikirim bulan berikutnya. Dari 7 buku yang dikirim. Ada 1 buku, yang tidak ada bungkus plastiknya. Ternyata, sudah diteken dan ditulisi pesan: Utk Suyuti…Semoga Terilhami. 20/2/2022.

Ya…saya sangat terilhami buku tersebut. Di tengah derasnya media digital. Mb Ikit mengingatkan tentang pentingnya berpegang teguh pada prinsip-prinsip jurnalistik yang sudah dianggap lawas. Salah satunya tentang konsep 5W + 1H. Ditulis secara ringan, bisa habis sekali baca.

11 Maret lalu, setelah bukunya saya terima. Mb Ikit WA : “Kapan2, aku undangen ke Probolinggo ya…Diskusi sama teman2 wartawan”.  Dengan senang hati, permintaan itu saya sanggupi. Selain untuk meng-upgrade awak redaksi Radar Bromo. Rencananya, juga untuk pelatihan teman-teman wartawan di PWI Probolinggo Raya.

“Sudah bisa keluar kota, Mbak?” tanya saya. “Cukup sehat dan sudah bisa keluar kota. Akhir Maret ini mau ke Semarang. April puasa. Bisa nunggu Mei atau pas puasa juga nggak pa2. Misalnya bakda Ashar, ditutup saat buka. Aku diajak kulineran,” balasnya disertai emoticon tersenyum.

Saat saya tanya materinya. “Bisa jurnalisme di era cyber/digital (prosedur dan tantangan. Pasal delik pers di KUHP dan UU ITE (studi kasus), jurnalisme media sosial/warga net,” jelasnya. Sangat menarik dan kekinian. Cocok untuk para jurnalis.

“Kalau soal menulis artikel, bisa Mbak?” tanya saya. “Lho iya…menulis artikel di media massa, bisa untuk kalangan dosen dan guru. Bagus juga untuk wartawan yang ingin jadi penulis independen,” jawabnya.

Belum terealisir rencana-rencana tersebut, beredar kabar duka di berbagai platform. Ibu dua anak dengan tiga cucu ini, dikabarkan meninggal dunia di RS Haji Surabaya. Setelah cukup lama berjuang melawan kanker yang diidapnya.

Selamat jalan Mb Ikit….Karya-karyamu akan selalu dikenang. Insya Allah akan menjadi amal jariyahmu…Aamiin. (*)

MOST READ

BERITA TERBARU

/