alexametrics
27.9 C
Probolinggo
Wednesday, 16 June 2021
Desktop_AP_Top Banner

Rehab Kantor Anyar Satpol PP Kota Probolinggo Telan Rp 180 Juta

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

MAYANGAN–Dinas Satpol PP Kota Probolinggo boyongan. Petugas penegak perda itu kini menempati eks kantor Dinas Pengairan Jawa Timur, yang ada di samping kantor wali kota.

Sebelum ditempati, Satpol PP pun harus merehab tempat itu. Rehab kantor di Jalan Panglima Sudirman itu pun memakan anggaran Rp 180 juta.

Kepala Satpol PP Kota Probolinggo Agus Effendi menyebut, sejak Oktober 2018, Satpol PP diharuskan pindah kantor. Awalnya berkantor di Jl Hayam Wuruk, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan. Sejak Oktober, diminta pindah ke Jalan Panglima Sudirman di barat kantor pemkot.

“Disposisi untuk pindah kantor, mulai bulan Oktober lalu. Namun, kami baru tempati pada tanggal 17 Januari ini. Sebab, masih dilakukan perbaikan,” terangnya.

Agus menjelaskan, saat disposisi wali kota turun pada Oktober 2018, pihaknya langsung mengajukan rehab. Rehab memakan anggaran Rp 180 juta dari dana Perubahan-APBD (P-APBD) 2018 Kota Probolinggo.

Saat ini menurutnya, rehab sudah tuntas dilakukan. Lokasi kantor pun lebih strategis. Sebab, lebih memudahkan anggota melakukan tugasnya.

“Lokasinya memudahkan akses kerja anggota. Dekat dengan kantor pemkot, rumah dinas wali kota, termasuk dekat dengan alun-alun, dan berada di tengah kota,” tuturnya.

Hanya saja, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Yaitu, menutup pintu belakang kantor yang tembus ke Jalan Pahlawan.

Pihaknya, menurut Agus, berencana menutup pintu belakang itu. Sebab, sampai saat ini banyak warga yang menggunakan pintu itu sebagai akses keluar masuk.

Bahkan, sampai pukul 21.00 masih ada saja warga yang bersliweran. Sementara petugas Damkar setempat tidak menegur karena mengira warga yang hendak melewati jalan tersebut.

Namun, nyatanya lokasi itu banyak digunakan untuk tempat asusila. Mulai pesta miras dan tidak menutup kemungkinan melakukan tindakan mesum.

“Bahkan, kami dapat laporan ada yang sampai menginap di semak-semak atau bekas bangunan di belakang ini,” bebernya.

Karena kondisi itu, pintu belakang, menurut Agus, akan ditutup. “Kami akan kumpulkan RT, RW, dan pihak terkait lainnya. Sehingga, pintu belakang yang tembus ke rumah warga akan kami tutup. Kami akan memberikan pemahaman bahwa wilayah ini masuk daerah perkantoran,” terangnya. (rpd/hn)

 

Mobile_AP_Rectangle 1

MAYANGAN–Dinas Satpol PP Kota Probolinggo boyongan. Petugas penegak perda itu kini menempati eks kantor Dinas Pengairan Jawa Timur, yang ada di samping kantor wali kota.

Sebelum ditempati, Satpol PP pun harus merehab tempat itu. Rehab kantor di Jalan Panglima Sudirman itu pun memakan anggaran Rp 180 juta.

Kepala Satpol PP Kota Probolinggo Agus Effendi menyebut, sejak Oktober 2018, Satpol PP diharuskan pindah kantor. Awalnya berkantor di Jl Hayam Wuruk, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan. Sejak Oktober, diminta pindah ke Jalan Panglima Sudirman di barat kantor pemkot.

Mobile_AP_Half Page

“Disposisi untuk pindah kantor, mulai bulan Oktober lalu. Namun, kami baru tempati pada tanggal 17 Januari ini. Sebab, masih dilakukan perbaikan,” terangnya.

Agus menjelaskan, saat disposisi wali kota turun pada Oktober 2018, pihaknya langsung mengajukan rehab. Rehab memakan anggaran Rp 180 juta dari dana Perubahan-APBD (P-APBD) 2018 Kota Probolinggo.

Saat ini menurutnya, rehab sudah tuntas dilakukan. Lokasi kantor pun lebih strategis. Sebab, lebih memudahkan anggota melakukan tugasnya.

“Lokasinya memudahkan akses kerja anggota. Dekat dengan kantor pemkot, rumah dinas wali kota, termasuk dekat dengan alun-alun, dan berada di tengah kota,” tuturnya.

Hanya saja, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Yaitu, menutup pintu belakang kantor yang tembus ke Jalan Pahlawan.

Pihaknya, menurut Agus, berencana menutup pintu belakang itu. Sebab, sampai saat ini banyak warga yang menggunakan pintu itu sebagai akses keluar masuk.

Bahkan, sampai pukul 21.00 masih ada saja warga yang bersliweran. Sementara petugas Damkar setempat tidak menegur karena mengira warga yang hendak melewati jalan tersebut.

Namun, nyatanya lokasi itu banyak digunakan untuk tempat asusila. Mulai pesta miras dan tidak menutup kemungkinan melakukan tindakan mesum.

“Bahkan, kami dapat laporan ada yang sampai menginap di semak-semak atau bekas bangunan di belakang ini,” bebernya.

Karena kondisi itu, pintu belakang, menurut Agus, akan ditutup. “Kami akan kumpulkan RT, RW, dan pihak terkait lainnya. Sehingga, pintu belakang yang tembus ke rumah warga akan kami tutup. Kami akan memberikan pemahaman bahwa wilayah ini masuk daerah perkantoran,” terangnya. (rpd/hn)

 

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2