alexametrics
28.6 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Realisasi Pajak Impor di Pasuruan Masih 45,32 Persen dari Target

BANGIL, Radar Bromo – Sampai kuartal kedua atau akhir Agustus, penerimaan pajak barang impor atau bea masuk yang diterima di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Pasuruan mencapai Rp 19,622 miliar. Jumlah ini masih di angka 45,32 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp 43,3 miliar.

Edi Budi Santoso, kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi KPPBC Pasuruan mengatakan, secara persentase penerimaan bea masuk di kuartal kedua memang masih tergolong minim. Sebab, belum mencapai separo target yang ditentukan.

“Secara persentase sebenarnya trennya normal, kendati belum mencapai separo dari target. Ini, lantaran ada berbagai sebab,” terang Edi Budi.

Ia lantas mengatakan, kurs dolar yang naik tahun ini, cukup berpengaruh pada permintaan order barang ke luar negeri. Imbasnya, berkurangnya barang yang diproduksi membuat penerimaan bea masuk menjadi berkurang.

Selain itu, untuk bea masuk memang terasa lonjakan produksi saat akhir tahun. Sebab, banyak perusahaan yang mengejar target produksi. “Trennya juga akan melonjak saat bulan-bulan akhir tahun. Jadi, biasanya persentase penerimaan terasa tinggi menjelang akhir tahun,” terangnya.

Dari data KPPBC Pasuruan, sampai bulan kedepalan tercatat hanya 3 bulan pertama penerimaan bea masuk yang mencapai target. Yakni, Januari sampai Maret.

Sedangkan April sampai Agustus rata-rata mencapai 51 persen. Sehingga tercatat sampai akhir Agustus lalu penerimaan masih di angka Rp 19,622 miliar atau 45,32 persen dari target.

Meski begitu, Kantor Bea Cukai Pasuruan tetap optimistis target sebesar Rp 43,3 miliar itu bisa tercapai sampai akhir tahun nanti. Karena melihat tren-tren tahun sebelumnya, penerimaan bea masuk memang melonjak saat akhir tahun.

“Dari realisasi sementara ini, kami tetap optimistis target bisa terlampaui. Utamanya di bulan-bulan akhir tahun yang biasanya produksi juga tinggi,” terangnya.

Edi mengatakan, tingginya penerimaan bea masuk sendiri lantaran Kabupaten Pasuruan merupakan daerah industri dan memiliki kawasan berikat.

Dalam kebijakan kawasan berikat yang mewajibkan bahwa kegiatan produksi untuk bahan impor, 50 persennya harus dipasarkan di dalam negeri. Pemasaran produk di dalam negeri inilah yang membuat penerimaan bea masuk ini menjadi tinggi. (eka/mie)

BANGIL, Radar Bromo – Sampai kuartal kedua atau akhir Agustus, penerimaan pajak barang impor atau bea masuk yang diterima di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Pasuruan mencapai Rp 19,622 miliar. Jumlah ini masih di angka 45,32 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp 43,3 miliar.

Edi Budi Santoso, kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi KPPBC Pasuruan mengatakan, secara persentase penerimaan bea masuk di kuartal kedua memang masih tergolong minim. Sebab, belum mencapai separo target yang ditentukan.

“Secara persentase sebenarnya trennya normal, kendati belum mencapai separo dari target. Ini, lantaran ada berbagai sebab,” terang Edi Budi.

Ia lantas mengatakan, kurs dolar yang naik tahun ini, cukup berpengaruh pada permintaan order barang ke luar negeri. Imbasnya, berkurangnya barang yang diproduksi membuat penerimaan bea masuk menjadi berkurang.

Selain itu, untuk bea masuk memang terasa lonjakan produksi saat akhir tahun. Sebab, banyak perusahaan yang mengejar target produksi. “Trennya juga akan melonjak saat bulan-bulan akhir tahun. Jadi, biasanya persentase penerimaan terasa tinggi menjelang akhir tahun,” terangnya.

Dari data KPPBC Pasuruan, sampai bulan kedepalan tercatat hanya 3 bulan pertama penerimaan bea masuk yang mencapai target. Yakni, Januari sampai Maret.

Sedangkan April sampai Agustus rata-rata mencapai 51 persen. Sehingga tercatat sampai akhir Agustus lalu penerimaan masih di angka Rp 19,622 miliar atau 45,32 persen dari target.

Meski begitu, Kantor Bea Cukai Pasuruan tetap optimistis target sebesar Rp 43,3 miliar itu bisa tercapai sampai akhir tahun nanti. Karena melihat tren-tren tahun sebelumnya, penerimaan bea masuk memang melonjak saat akhir tahun.

“Dari realisasi sementara ini, kami tetap optimistis target bisa terlampaui. Utamanya di bulan-bulan akhir tahun yang biasanya produksi juga tinggi,” terangnya.

Edi mengatakan, tingginya penerimaan bea masuk sendiri lantaran Kabupaten Pasuruan merupakan daerah industri dan memiliki kawasan berikat.

Dalam kebijakan kawasan berikat yang mewajibkan bahwa kegiatan produksi untuk bahan impor, 50 persennya harus dipasarkan di dalam negeri. Pemasaran produk di dalam negeri inilah yang membuat penerimaan bea masuk ini menjadi tinggi. (eka/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/