Radioterapi CERDIK di Era Covid-19

TUMOR ganas atau kanker adalah kelainan akibat pertumbuhan sel yang tidak normal yang dalam perkembangannya dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Radioterapi merupakan terapi (salah satunya dengan pemaparan sinar-X) bertujuan merusak jaringan sel kanker.

Terapi radiasi ini bersifat lokal. Diberikan setiap hari sampai total dosis tercapai, tergantung stadium dan jenis kanker karena kematian sel kanker tidak langsung terjadi saat proses radiasi selesai.

Radioterapi sejak dini dapat meningkatkan kualitas hidup pasien kanker hingga sekitar 85 persen. Serta, dapat menimbulkan efek samping secara lokal karena jaringan sehat di sekitar tumor akan terganggu. Tergantung area tubuh yang terkena target radiasi dan dosis yang digunakan.

Efek samping radioterapi sebagian besar bersifat sementara dan belum tentu dialami pasien yang menjalani radioterapi. Efek samping yang timbul, misalnya iritasi kulit, mudah lelah, diare (radiasi daerah perut), nyeri telan dan mulut kering (radiasi daerah kepala leher).

Efek tersebut biasanya berkurang beberapa hari atau minggu setelah pengobatan selesai. Untuk mengatasi mulut kering dengan minum air hangat, hindari makanan pedas atau asam, makan makanan yang lunak atau cair, kumur dan sikat gigi teratur.

Dalam proses radioterapi dalam masa pandemi Covid-19, diperlukan daya tahan tubuh yang tinggi agar terhindar dari Covid-19. Pasien radioterapi umumnya dianjurkan melakukan pola hidup sehat dengan “CERDIK,” yaitu Cek Rutin Kesehatan, Enyahkan Asap Rokok, Rajin Olahraga, Diet Seimbang, Istirahat Cukup, dan Kelola Stres.

Pasien sebaiknya kontrol ke dokter sesuai jadwal meski pasien tidak merasakan keluhan. Mencegah penularan Covid-19 dengan sering cuci tangan menggunakan sabun, batasi keluar rumah jika tidak ada keperluan penting, selalu memakai masker jika keluar rumah, dan menjarak minimal 1 meter dengan orang lain.

Asap rokok berbahaya pada pasien radioterapi, karena pasien akan memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena kanker paru-paru. Bahan kimia asap rokok memengaruhi sel-sel yang sehat maupun sel kanker. Merokok dapat menurunkan respons sel kanker terhadap radioterapi dan meningkatkan kemungkinan sel kanker menyebar ke stadium lanjut.

Pemenuhan nutrisi pasien kanker dengan pola diet tinggi kalori dan tinggi protein hingga dua kali lipat dari orang sehat. Protein yang mengandung asam amino esensial dan EPA yang bersumber dari ikan laut bermanfaat membantu menurunkan peradangan dalam tubuh dan menurunkan efek samping radioterapi.

Sayuran hijau mengandung zat antioksidan yang kaya zat antikanker. Oatmeal dapat meningkatkan nafsu makan dan menguatkan sistem kekebalan tubuh. Kacang-kacangan kaya zat antioksidan dapat mengurangi penyebaran sel kanker dalam tubuh.

Nutrisi yang baik menimbulkan energi cukup untuk melakukan aktivitas normal dan menunjang radioterapi. Istirahat yang cukup diperlukan untuk pemulihan kondisi pasca radioterapi.

Agar pola tidur dapat optimal sekitar 6-8 jam sehari dengan kualitas tidur baik, sebelum tidur pasien dapat melakukan olahraga ringan 2-3 jam sebelumnya, minum minuman hangat, dan hindari minum kopi 6-8 jam sebelumnya.

Kondisi emosional yang labil (mudah marah, stres, depresi) adalah salah satu efek samping radioterapi. Hal ini dapat diakibatkan rasa khawatir dengan penyakit atau kehidupan pribadinya dan perubahan fisik akibat pengobatan. Hal ini dapat diatasi dengan, misalnya berbagi pengalaman dengan pasien lain, berpikiran positif, dan lebih meningkatkan kualitas ibadah. (*)