Itsar, Mendahulukan Kepentingan Orang Lain

SETIAP musibah pasti ada hikmahnya. Demikian juga dengan wabah virus korona yang melanda negeri ini. Ada banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari makhluk ciptaan Allah SWT yang sangat kecil itu.

Salah satu hikmah yang bisa diambil adalah kepedulian kita kepada sesama. Virus korona mengajarkan kepada kita bahwa ada orang lain yang harus dibantu. Karena wabah ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan. Tapi, juga berimbas ke sektor ekonomi.

Seperti ditahui, sejak Maret 2020 virus Korona ditemukan di Kota Depok, Jawa Barat, imbasnya sudah dirasakan seluruh Indonesia. Misalnya, saat ini banyak bisnis yang hancur, pabrik tutup, rumah makan tutup, pemutusan hubungan kerja (PHK) di mana-mana. Bahkan, sektor UMKM yang konon kebal terhadap krisis, saat ini juga tidak berdaya.

Ramadan sebagai Syahrus Shadaqoh waz Zakaah, menjadi relevan dengan kondisi saat ini. Dengan berpuasa, umat Islam belajar peduli kepada sesama. Tidak makan dan minum mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, mengajarkan kepada umat Islam bagaimana rasanya lapar dan dahaga yang dirasakan orang-orang yang kekurangan.

Pelajaran ini diharapkan membuat umat Islam tergerak untuk berbagi dengan sesama. Salah satunya lewat zakat dan sedekah. Umat Islam diharapkan menyisihkan sebagian rezekinya untuk berbagi kepada sesama. Dengan berbagi, bisa ikut meringankan beban mereka yang terdampak virus Korona.

Secara sunnatullah, manusia adalah makhluk sosial. Filsuf Yunani Aristoteles menyebutnya sebagai zoon politicon. Manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa berinteraksi dengan orang lain. Antarmanusia saling membutuhkan pertolongan. Tidak hanya di waktu sulit. Di waktu lapang pun sama. Seperti yang termaktub dalam QS At Taubah ayat 71: “Dan orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka menjadi para penolong bagi sebagian yang lain…”

Karena itu, pada saat wabah virus korona mengakibatkan sektor ekonomi lumpuh. Kepedulian kepada sesama menjadi sangat penting. Kita tidak bisa egois hanya memikirkan kepentingan sendiri. Sementara di sekeliling kita banyak orang yang membutuhkan pertolongan.

Seperti dalam QS Al Maidah ayat 2: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah SWT, sesungguhnya Allah SWT amat berat siksa-Nya.”

Kepedulian kepada sesama juga konsekuensi kita sebagai orang beriman. Ketika kita mengaku beriman, tidaklah cukup hanya di hati dan lisan. Tapi, harus dibuktikan dengan amal. Seseorang tidak dikatakan sebagai mukmin yang sempurna imannya, bila bersikap acuh terhadap saudaranya. Seperti dalam hadis: “Salah seorang kalian tidak (dikatakan) beriman (dengan sempurna) sampai dia cinta kepada saudaranya seperti ia mencintai dirinya.”

Kaum muslimin ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka bagian tubuh lainnya ikut sakit. Karena itu, derita yang dialami saudara kita adalah derita kita semua. Sebagaimana kebahagiaan yang dirasakan mereka adalah kebahagiaan kita. Semangat kebersamaan dan jiwa kesetiakawanan harus selalu ditumbuhkembangkan. Akankah kita tega bila dia kenyang sementara saudaranya kelaparan? Rasulullah SAW bersabda: “Bukan seorang mukmin yang dia kenyang sementara tetangganya lapar.”

Di tengah kondisi seperti saat ini, umat Islam harus menumbuhkan sikap Itsar. Yakni, sikap melebihkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Sikap ini merupakan akhlak mulia yang mendatangkan kecintaan Allah SWT dan manusia. Banyak kisah tentang sikap paling tinggi tingkatannya dalam ukhuwah islamiyah ini.

Salah satunya sikap orang-orang Anshar saat menyambut Muhajirin. Hal ini diabadikan oleh Allah SWT dalam Alquran Surat Al-Hasyr ayat 9 yang artinya: “……Dan mereka (Anshar) mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan……”

Kisah lainnya adalah saat perang Yarmuk. Dari Abdullah bin Mush’ab Az Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit, keduanya menceritakan; “Telah syahid pada perang Yarmuk al-Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Suhail bin Amr. Mereka ketika itu akan diberi minum, sedangkan mereka dalam keadaan kritis, namun semuanya saling menolak. Sampai mereka bertiga syahid.”

Memang tidak mudah menumbuhkan sikap Itsar ini. Apalagi, kita memberikan harta atau apapun yang kita punya pada saat kita juga kekurangan atau butuh. Bahkan, saat kita berlebih terkadang berat untuk berbagi dengan orang lain yang sedang membutuhkan.

Namun, bagi orang yang beriman, sikap egois seperti ini bisa disingkirkan. Karena orang beriman yakin setiap kebaikan yang dilakukan akan mendapat balasan setimpal kelak di akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al Muzammil ayat 20 yang artinya: “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)-nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya……”

Inilah sikap seorang mukmin sejati. Dia bahagia saat bisa membahagiakan orang lain. Karena apa yang dilakukan semata-mata mencari rida Allah SWT. Bukan balasan di dunia yang sifatnya fana. Karena itu, orang seperti ini yang paling baik seperti sabda Rasulullah SAW,”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Wallahu A’lam. (*)