Hukum Salat Id Sendirian

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum

Bagaimana hukumnya salat Idul Fitri di rumah? Mengingat pemerintah mengimbau untuk salat Idul Fitri di rumah saja karena pandemi korona.

——————

Jawaban:

Waalaikumsalam. Alhamdulillah, wassolatu wassalamu ala Rasulillah, wa ba’d.

MENURUT mazhab Imam Syafi’I dan Imam Ahmad, salat Id boleh dilakukan secara sendirian atau secara berjamaah, bagi laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Baik yang musafir atau yang mukim, dilaksanakan di rumah, di masjid, atau di tempat terbuka (lapangan).

Menurut mazhab Imam Hanafi dan Imam Malik, salat Id tidak boleh dilakukan secara sendirian, harus dilakukan secara berjamaah. Adapun tempat pelaksanaannya, menurut mazhab Syafi’iyah, lebih utama dilaksanakan di masjid dengan alasan masjid adalah tempat yang paling mulia dan paling bersih daripada yang lainnya.’

Kecuali, jika masjid di daerah itu sempit dan biasanya orang yang melakukan salat Id lebih banyak daripada salat Jumat. Untuk mengantisipasi dari hal yang tidak diinginkan, maka disunahkan pelaksanaannya di tempat terbuka (lapangan). Jika tetap dilaksanakan dalam situasi yang sempit, maka hukumnya makruh. Namun, kalau kondisi masjid di daerah itu luas, kemudian salat Id dilaksanakan di tempat terbuka (lapangan), maka tidak ada masalah.

Menurut jumhur (mayoritas) ulama fiqh, tempat pelaksaan salat Id yaitu di tempat terbuka (lapangan), karena Rasulullah SAW melaksanakannya di tempat terbuka (lapangan). Hanya satu kali saja beliau melaksanakannya di masjid karena hujan.

Makruh hukumnya jika dilaksanakan di masjid, kecuali dalam keadaan terpaksa atau uzur seperti hujan. Demikian juga terkecuali di Makkah karena ada Masjidilaharam.

Kesimpulannya, melaksanakan salat Id di rumah boleh dan sah. Apalagi, sekarang dalam kondisi pandemi Covid-19 pemerintah mengimbau pelaksanaannya di rumah masing-masing. Khususnya, di daerah yang sangat dikhawatirkan. Baik pelaksanaannya secara berjamaah atau sendirian tanpa khatbah tidak ada masalah.

 

Referensi: “Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu.” “Fiqh As Sunnah.” “Zadul Ma’ad.” “Al Qawanin Al Fiqhiyah.” Wallahu A’lam walmusta’an. (*)