Tim Fact Finding Inotek Award 2019 Kunjungi Nominasi Asal Kabupaten Probolinggo

TANYA JAWAB: Dua juri dari Tim Fact Finding Dr. Edy Soedjono (Dosen Teknik Lingkungan ITS Surabaya, kanan) dan Dr. Tarzan Purnomo, M.Si., (Dosen Jurusan Biologi, FMIPA Unesa, kiri) melakukan tanya jawab di laboratorium milik Siti Nur Seha. (Jamaludin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Limbah identik dengan masalah. Namun, limbah akan menjadi berkah bila dimanfaatkan dengan benar. Seperti dilakukan Siti Nur Seha, lima besar nominator Inotek Award 2019, Bidang Lingkungan. Dia memanfaatkan limbah sisik ikan menjadi gelika atau gelatin halal dari limbah sisik ikan kakap. Lihat videonya disini.

JAMALUDIN, Pakuniran, Radar Bromo

Wajah Siti Nur Seha, terlihat berseri-seri. Senin (19/8) lalu, gadis kelahiran 10 Juli 1996 ini begitu bahagia ketika Tim Fact Finding lomba Inovasi Teknologi (Inotek) Award 2019, Balitbang Provinsi Jawa Timur berkunjung ke rumahnya, di Desa Bimo, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo.

INOVATIF: Siti Nur Seha (tiga dari kanan) bersama dua juri Tim Fact Finding Dr. Edy Soedjono dan Dr. Tarzan Purnomo. Serta, Kasubid Teknologi Terapan Balitbang Provinsi Jatim Eka Prabawati bersama stafnya, Hariyadi. Juga Kabid Program dan Litbang Bappeda Kabupaten Probolinggo Umi Setyowati. (Jamaludin/Jawa Pos Radar Bromo)

Alumni Universitas Airlangga (Unair) Surabaya jurusan fisika ini menjadi salah satu dari 5 peserta lain di Jawa Timur untuk Bidang Lingkungan yang berhasil lolos hingga tahapan terakhir, fact finding. Saat itu, Tim Fact Finding juga mengunjungi laboratorium milik Siti Nur Seha di belakang rumahnya.

Ruangan berukuran 3,5 meter kali 4 meter itu, dilengkapi meja keramik, wastafel, dan meja kayu. Sejumlah peralatan menghiasi ruangan yang rapi dan bersih itu. Salah satunya di dinding ruangan terpampang tulisan “Budayakan 5 R,” yang merupakan akronim dari ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin. Di ruangan ini gelatin dibuat.

Ada dua juri dari Tim Fact Finding. Yakni, Dr. Tarzan Purnomo, M.Si., dosen Jurusan Biologi, FMIPA Unesa dan Dr. Edy Soedjono, dosen Teknik Lingkungan ITS Surabaya. Mereka didampingi oleh Kasubid Teknologi Terapan Balitbang Provinsi Jatim Eka Prabawati bersama stafnya, Hariyadi.

Hadir juga Kabid Program dan Litbang Bappeda Kabupaten Probolinggo Umi Setyowati bersama Kasubbid Litbang Alfiatul Khoiriyah serta stafnya, Nur Sugeng Rahadi.

Seha –panggilan Siti Nur Seha- mengungkapkan, ide pembuatan gelatin dari sisik ikan terinspirasi dari banyaknya gelatin impor yang beredar di Indonesia. Menurutnya, gelatin dari luar negeri itu juga diragukan kehalalannya.

“Gelatin impor itu terbuat dari tulang dan kulit sapi. Kami tidak tahu proses penyembelihannya sudah sesuai syariat Islam apa belum,” ujar peraih juara I Inovasi Sains dan Riset Ilmiah Tingkat Nasional 2019 itu.

Karenanya, sejak awal 2018, Seha melakukan penelitian dan pembuatan gelatin berbahan dasar sisik ikan. Uniknya, bahan yang digunakan berasal dari limbah sisik ikan kakap. “Sisiknya saya dapat dari pabrik ikan di Kota Probolinggo hingga dari rumah makan di sekitar Paiton. Kalau bahannya dari ikan sudah pasti halal,” katanya.

Gadis yang pernah meraih penghargaan internasional sebagai finalist of Youth Entrepreneurship Symposium 2017 itu mengatakan, gelatin memiliki beberapa produk turunan. Di dunia industri pangan digunakan untuk pembuatan es krim, yoghurt, jelly, dan marshmallow. Di industri farmasi untuk bahan cangkang kapsul. “Ada juga di industri kosmetik yang digunakan sebagai masker untuk angkat komedo. Di bidang fotografi digunakan untuk menyimpan film foto,” urainya.

Dr. Tarzan Purnomo, salah satu juri mengatakan, kunjungan yang dilakukan di rumah Seha, merupakan tahapan akhir dari Lomba Inotek Award 2019. Menurutnya, Seha bisa lolos hingga tahapan terakhir karena beberapa poin. “Di antaranya, mampu mengatasi limbah sisik ikan. Di samping itu, hasil dari limbah diubah menjadi gelatin yang banyak dibutuhkan. Produknya juga halal,” ujarnya.

Juri lainnya, Dr. Edy Soedjono mengaku, sangat mengapresiasi gelatin halal dari sisik ikan ini. Pihaknya berharap karya itu ke depan bisa mengurangi, bahkan menyetop impor gelatin. “Apalagi bahannya juga dari limbah sisik ikan. Jadi, juga bisa menjaga lingkungan dari permasalahan limbah,” ujarnya.

Sementara itu, dalam Inotek Award 2019, Pemkab Probolinggo melalui Bappeda sebelumnya mengirim 21 proposal. Puluhan proposal itu berasal dari para nominator yang mengikuti Lomba Inovasi Daerah 2019 gelaran Bappeda.

Dari puluhan karya itu, 9 di antaranya melaju hingga tahapan paparan atau 10 besar dari lima bidang yang dilombakan. Di antaranya, bidang energi 2 karya, bidang TIK 1 karya, bidang Agribisnis 1 karya, bidang lingkungan 4 karya, dan bidang kesehatan 1 karya.

Inotek Award yang diikuti peserta dari kota/kabupaten di Jawa Timur itu, diawali pengumpulan proposal karya inovasi. Karya inovasi itu dinilai dan diambil 10 nominasi dari masing-masing bidang. Para nominasi itu, kemudian diundang ke kantor Balitbang Provinsi Jawa Timur untuk tahapan paparan. Hasilnya, setiap bidang diambil 5 nominator. Mereka kemudian mendapat kunjungan lapangan atau tahapan terkahir dari Tim Fact Finding. (uno/*)