Dimintai Rp 270 Juta, Manajemen 888 Akui Sudah Lapor, Tapi Polisi Bilang Begini

MAYANGAN Polemik perizinan tempat Karaoke 888 di Kota Probolinggo, terus berlanjut. Terlebih, setelah pihak manajemen 888 mengaku dimintai duit Rp 270 juta oknum yang mengaku suruhan Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin.

Manajemen 888 mengaku, sudah melaporkan kasus ini ke Mapolres Probolinggo Kota, Jumat (19/7) siang. Namun, laporannya tidak diterima karena kurang cukup bukti. Pihak Sentra Pelayanan Kepolisian terpadu (SPKT) meminta 888 mengumpulkan bukti dan datang kembali untuk melapor.

Denis Willy Arnandi Manager 888 mengaku, usai melakukan pers rilis, pihaknya mendatangi SPKT Mapolresta untuk melapor. Namun, laporanya hanya lisan. Sehingga, petugas SPKT meminta pihaknya mengumpulkan bukti. “Kami sudah melapor, tapi karena hanya lisan dan dianggap kurang cukup bukti, kami disuruh kumpulkan buktinya dulu,” ujarnya.

Pengelola 888 Teddy Hindrata mengatakan, masalah pers rilis adanya oknum yang memakai mengatasnamakan Wali Kota untuk menipunya, benar adanya. Pihaknya juga telah melaporkan masalah ini pada yang berwajib. “Sudah kami laporkan juga. Sebab, saya yakin dia bukan Wali Kota. Selain itu, masalah ini bisa merusak citra Wali Kota Probolinggo, juga,” ujarnya.

Diketahui, sebelumnya Pemkot Probolinggo tidak berkenan memperpanjang izin Karaoke 888. Nah, kasus ini ditumpangi oleh orang tak bertanggung jawab. Manajemen 888 menyebut, ada orang yang menelepon dan mengaku ajudan dari Wali Kota Probolinggo. Orang itu, meminta Rp 270 juta dengan alasan untuk menjembatani masalah yang dihadapi 888.

Adanya upaya penipuan ini disampaikan manajemen 888 kepada awak media. Mendapati itu, Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin menegaskan, seharusnya 888 melaporkan masalah ini kepada kepolisian. Sehingga, jelas siapa yang mencatut namanya.

“Pihak 888 seharusnya melaporkan jika ada yang menelepon dan mengaku Wali Kota. Sehingga, ada kejelasan siapa yang memanfaatkan situasi ini. Bukan malah membuat opini,” ujarnya.

Soal izin 888, Hadi mengatakan, izinnya sudah mati sejak 2018. Artinya, sebelum era pemerintahannya izinya sudah tidak diperpanjang. Karena itu, 888 tidak diperkenankan beroperasional. “Izin 888 sudah mati sejak 2018,” ujarnya.

Terpisah, menyikapi laporan manajemen 888, Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota AKP Nanang Fendy Dwi Susanto menegaskan, sampai Sabtu (20/7) belum ada laporan. “Belum ada,” ujarnya singkat. (rpd/rud)