Doa Pengujung Ramadan

Ya Allah, di ujung bulan mulia ini terimalah ibadah kami. Bulan yang penuh maghfirah-Mu akan segera meninggalkan kami. Maka, jadikanlah kami termasuk golongan yang beruntung mendapatkan pengampunan-Mu, Ya Rahman.

Ya Allah, semoga Engkau perkenankan mengantar kami kembali ke Ramadan berikutnya sebagai kesempatan bagi kami untuk memperbaiki diri.

 

TANPA terasa Ramadan sebentar lagi akan segera pergi meninggalkan kita. Kesedihan yang teramat dalam menyelimuti relung hati dan jiwa. Ramadan adalah tamu istimewa yang membawa segala keutamaan dan keberkahan pahala sebagai bekal kehidupan nanti di akhirat ketika menghadap sang Kholiq.

Ramadan akan segera berlalu. Hendaklah kita benar-benar memanfaatkan hari-hari terakhir ini dengan sebaik-baiknya. Mengisinya dengan ketaatan kepada Allah SWT serta meninggalkan segala maksiat.

Doa adalah permohonan hamba kepada Khaliqnya (Allah SWT). Dikabulkan atau tidak, semuanya terserah kepada-Nya. Tetapi, Allah SWT telah memberi jaminan, bahwa setiap doa yang dipanjatkan seseorang atau sekelompok orang dari hamba Allah SWT akan dikabulkan dengan prasyarat yang jelas.

Salah seorang sahabat tercinta Rasulullah SAW pernah menceritakan bahwa suatu ketika beliau bersabda; “Ada tujuh komunitas manusia yang senantiasa akan mendapatkan naungan perlindungan Allah di saat tiada lagi perlindungan dari, oleh, dan bagi siapa pun selain perlindungan dari-Nya: (1) pemimpin yang adil; (2) anak muda yang memiliki antusiasme untuk selalu beribadah kepadaTuhannya (Allah); (3) yang hatinya selalu tertaut pada masjid-masjid (tempat-tempat sujud); (4) dua anak manusia yang saling mencintai dalm koridor aturan dan karena Allah, yang keduanya (senantiasa) bertemu dan berpisah karena-Nya; (5) seorang lali-laki yang dirayu (untuk berbuat sesuatu yang dilarang oleh Allah) oleh perempuan yang berkarisma dan cantik-molek, lalu ia pun mengelak, seraya berkata: ”aku takut kepada Allah” (6) yang bersedekah secara tersembunyi, hingga tangan kirinya pun tah pernah tahu apa yang dilakukan oleh tangan kanannya (ketika bersedekah), dan – yang terakhir – (7) yang berzikir untuk (mengingat) Allah dalan keadaan menyendiri dan ketika itu air matanya mengalir deras (karena doa-doanya).” [Hadis Riwayat Al-Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah dan At-Tirmidzi mengutipnya secara khusus dalam kitab Al-Hub Fillâh [Cinta Kepada Allah] dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudriy).

Hadis di atas mengisahkan bahwa ada satu komunitas dari tujuh komunitas khusus yang selalu akan mendapatkan perlindungan dari Allah SWT ketika tiada lagi perlindungan dalam bentuk apapun dari, oleh, dan bagi siapapun selain perlindungan dari Allah SWT. Yaitu, komunitas yang senantiasa berkemauan dan berkemampuan memanjatkan doa-doanya kepada Allah SWT dengan mata-hatinya. Sehingga, pada saat ia memanjatkan doa-doanya secara spontan berlinanglah air matanya karena sikap ihsan-nya.

Ia ucapkan doa-doanya dari lubuk hatinya yang terdalam hingga ia sadar bahwa tengah berhadapan langsung dengan Tuhannya yang selalu menyimak dengan seksama seluruh rangkaian ungkapan kata-hatinya. Ia pun menangis di hadapan Allah SWT dengan sikap raja’ dan khauf (harap dan cemas).

Saat ini masih banyak orang menyangka bahwa air mata adalah simbol “ketidak-berdayaan.” Orang yang sering meneteskan air matanya, bahkan dianggap sebagai makhluk yang cengeng. Kucuran air mata, bahkan  sering diberi stigma negatif, lemah, dan rapuh. Namun, bila kita cermati, ternyata tidaklah sesederhana itu. Air mata bisa saja menandai sikap terbaik sesorang hamba ketika bermunajat kepada Allah SWT.

Kita juga bisa berkata bahwa setelah membaca lembaran hidup sendiri, mencermati apa yang dikatakan siapapun tentang kita atau bahkan berempati terhadap penderitaan orang lain, tanpa sadar tiba-tiba air mata menetes. Bahkan dalam pengalaman hidup kita, sebuah kabar yang sangat menyenangkan diri terkadang mengakibatkan air mata mengalir deras.

Dan yang paling sering seseorang alami hal itu terjadi pada saat seseorang yang tengah berdoa di antara salat-salat yang dilakukan. Hingga seseorang seolah-olah bisa berteriak di dalam hatinya berbahagialah siapapun yang selalu berzikir dengan tetesan air mata karena ia sadar bahwa Allah SWT tengah bersamanya.

Kita mungkin pernah mengalami seperti apa air mata mengalir. Ketika cobaan datang dan menyesakkan dada, Anda pun menangis. Melihat kepedihan orang lain dan mencoba berempati dengan berandai-andai bahwa Andalah yang menanggung kepedihan itu, air mata Anda pun bisa menetes.

Yang sungguh luar biasa, andaikata tetesan air mata itu berlanjut pada saat kita mengingat Allah SWT dengan berdoa untuk keselamatan kesejahteraan bagi orang-orang yang tengah menderita, Anda pun menangis, bisa bermakna Anda orang yang lembut-hati.

Kini, saatnya kita berdoa: “Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun, maafkan keangkuhan hamba, lembutkan hati hamba untuk bisa merasakan semua ketentuan-Mu tanpa harus bersedih. Kuatkan sinyal hati hamba agar selalu bisa menangkap dengan cerdas semua sinyal kebesaran-Mu tanpa harus merasa kecil hati, lemah, dan takut.

Jadikanlah air mata kami sebagai tanda kedekatan kami kepada-Mu. Sapulah mendung kepedihan dalam diri kami. Ringankan semua penderitaan kami yang begitu banyak datang silih-berganti di muka bumi ini. Peliharalah kami ya Allah dari segala macam godaan setan dan mudahkanlah untuk menggapai dan mengamalkan petunjuk-Mu. Jadikan sejak saat ini juga air mata kami mengalir bersama doa-doa kami, karena kami selalu mengingat-Mu. Aamiin-aamiin aamiin Yaa Robbal’alamin. (*)