Tantangan Anak Tidak Hanya Covid-19

SAAT ini pemerintah bersama-sama masyarakat sedang fokus menghadapi Covid-19. Kita tidak tahu sampai kapan wabah ini akan berakhir, karena sampai saat ini belum ditemukan obat atau vaksinnya.

Intervensi yang bisa kita lakukan saat ini adalah dengan sering mencuci tangan, menjaga jarak, menggunakan masker untuk semua orang, termasuk anak-anak. Serta, mengisolasi diri di rumah atau di rumah sakit bagi mereka yang terinfeksi.

Bagi anak-anak, terutama balita yang sedang tumbuh dan berkembang yang dihadapi bukan hanya virus korona. Masih banyak virus dan bakteri lainnya yang mengancam kehidupan mereka yang dapat mengganggu tumbuh kembangnya.

Di antaranya, penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi, seperti tuberkulosis, polio, campak, difteri, pertusis, tetanus, diare, serta infeksi oleh karena haemophilus influenza dan pneumokokus.

Karena itu, program imunisasi jangan sampai diabaikan selama pandemi ini. Jika kita tidak ingin bencana lain mengancam anak-anak. Penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan kematian atau sakit parah. Seperti wabah difteri yang pernah melanda Jawa Timur.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah program perbaikan gizi bagi anak-anak yang menderita kurang gizi atau stunting. Dalam keadaan kurang gizi, anak sangat rentan terkena penyakit infeksi. Serta, infeksi yang dialami akan memperburuk status gizi mereka.

Dalam keadaan ekonomi sulit saat ini, kebutuhan nutrisi balita dan ibu hamil harus diutamakan agar generasi mendatang lebih berkualitas dan lebih cerdas. Bayi yang lahir dari ibu hamil kekurangan gizi akan melahirkan bayi berat lahir rendah yang selanjutnya akan tumbuh menjadi remaja yang kurang gizi. Selanjutnya, bisa menjadi calon ibu yang kurang energi kronis.

Nutrisi untuk bayi sampai umur 6 bulan cukup diberi air susu ibu (ASI) saja. ASI mengandung zat kekebalan yang dapat melawan berbagai macam virus dan mungkin termasuk virus korona.

Setelah 6 bulan, harus segera diberi makanan pendamping ASI. Di samping memberikan nutrisi anak, juga perlu distimulasi dengan mengajak mereka bermain, bersenang-senang, serta mengajarkan berbagai keterampilan sesuai umurnya.

Sisi positif yang bisa dipetik dari pandemi Covid-19, bila masyarakat patuh memakai masker, transportasi diatur, maka polusi udara berkurang. Udara menjadi bersih, sehingga penyakit yang dipicu polusi seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan penyakit alergi bisa ditekan.

ISPA merupakan penyakit terbanyak yang menyerang balita dan bila sampai mengenai paru-paru bisa mengakibatkan kematian. Kebiasakan mencuci tangan akan sangat mengurangi penyakit yang ditularkan melalui makanan dan minuman, seperti diare dan tifus. Semoga perubahan gaya hidup ini bisa berlanjut setelah pandemi ini berakhir. (*)