alexametrics
27.1 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

17 Sapi di Kota Probolinggo Suspect PMK, Belum Pikirkan Penutupan Pasar Ternak

MAYANGAN, Radar Bromo– Cepatnya penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) menjadi perhatian banyak pihak. Bahkan, sejumlah daerah memutuskan untuk menutup akses keluar masuk penjualan hewan ternak. Namun, Pemkot Probolinggo belum ambil tindakan tersebut. Termasuk belum menyediakan tempat isolasi hewan ternak yang terjangkit.

Hal itu terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPRD Kota Probolinggo. Ketua Komisi II Muklas Kurniawan mengatakan, persoalan isolasi hewan ternak yang terjangkit PMK belum dilakukan. Karena sejauh ini 17 sapi yang suspect belum diketahui hasil labnya.

Namun, kata Muklas, hal ini tentunya menjadi bahan pemikiran guna mengambil langkah ke depan seperti apa. “Kami sempat tanyakan persoalan langkah antisipasinya. Termasuk adanya tempat isolasi bagi hewan yang terjangkit. Namun, masih belum butuh lantaran masih tunggu hasil lab dari Surabaya,” ujarnya.

Informasinya, di Kota Probolinggo, ada seribu lebih ekor sapi yang tersebar di lima kecamatan. Tentunya hal itu juga akan dijadikan bahan pertimbangan. Termasuk menutup akses jual beli hewan ternak seperti dilakukan sejumlah daerah.

“Jika memang nantinya perlu, maka pendirian lokasi isoter bagi hewan yang terjangkit bisa dijadikan pertimbangan. Untuk penutupan pasar hewan, ini perlu kajian yang mendalam. Sebab, hal ini berkaitan dengan masalah roda perekonomian,” jelasnya.

Kabid Peternakan Dispertahankan Kota Probolinggo Suryanto Suwares mengatakan, sejumlah langkah antisipasi, termasuk membuka diri ketika adanya laporan masyarakat atau pertenak yang masuk langsung dilakukan. “Termasuk pendampingan hingga sembuh oleh dokternya,” tuturnya.

Namun, untuk melangkah lebih jauh, seperti masalah penutupan pasar hewan dan mendirikan tempat isolasi terpadu hewan, belum dibahas. Mengingat, sampai Selasa (17/5), di Kota Probolinggo masih zero dari PMK. “Hasilnya kan masih belum diketahui. Sehingga sampai saat ini Kota Probolinggo belum ada yang terjangkit. Berbeda lagi ketika hasilnya positif,” ujarnya.

MAYANGAN, Radar Bromo– Cepatnya penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) menjadi perhatian banyak pihak. Bahkan, sejumlah daerah memutuskan untuk menutup akses keluar masuk penjualan hewan ternak. Namun, Pemkot Probolinggo belum ambil tindakan tersebut. Termasuk belum menyediakan tempat isolasi hewan ternak yang terjangkit.

Hal itu terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPRD Kota Probolinggo. Ketua Komisi II Muklas Kurniawan mengatakan, persoalan isolasi hewan ternak yang terjangkit PMK belum dilakukan. Karena sejauh ini 17 sapi yang suspect belum diketahui hasil labnya.

Namun, kata Muklas, hal ini tentunya menjadi bahan pemikiran guna mengambil langkah ke depan seperti apa. “Kami sempat tanyakan persoalan langkah antisipasinya. Termasuk adanya tempat isolasi bagi hewan yang terjangkit. Namun, masih belum butuh lantaran masih tunggu hasil lab dari Surabaya,” ujarnya.

Informasinya, di Kota Probolinggo, ada seribu lebih ekor sapi yang tersebar di lima kecamatan. Tentunya hal itu juga akan dijadikan bahan pertimbangan. Termasuk menutup akses jual beli hewan ternak seperti dilakukan sejumlah daerah.

“Jika memang nantinya perlu, maka pendirian lokasi isoter bagi hewan yang terjangkit bisa dijadikan pertimbangan. Untuk penutupan pasar hewan, ini perlu kajian yang mendalam. Sebab, hal ini berkaitan dengan masalah roda perekonomian,” jelasnya.

Kabid Peternakan Dispertahankan Kota Probolinggo Suryanto Suwares mengatakan, sejumlah langkah antisipasi, termasuk membuka diri ketika adanya laporan masyarakat atau pertenak yang masuk langsung dilakukan. “Termasuk pendampingan hingga sembuh oleh dokternya,” tuturnya.

Namun, untuk melangkah lebih jauh, seperti masalah penutupan pasar hewan dan mendirikan tempat isolasi terpadu hewan, belum dibahas. Mengingat, sampai Selasa (17/5), di Kota Probolinggo masih zero dari PMK. “Hasilnya kan masih belum diketahui. Sehingga sampai saat ini Kota Probolinggo belum ada yang terjangkit. Berbeda lagi ketika hasilnya positif,” ujarnya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/