alexametrics
25 C
Probolinggo
Thursday, 25 February 2021
Desktop_AP_Top Banner

Berisiko Besar, Lebih Baik Tunda Kehamilan Selama Pandemi

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Selama pandemi Covid-19 berlangsung, seseorang lebih baik menunda kehamilan. Pasalnya kehamilan saat pandemi seperti saat ini lebih berisiko pada kesehatan ibu dan bayi. Mereka bisa mudah terserang penyakit daripada sebelum pandemi terjadi.

——————

WALAU tidak ada larangan khusus, hamil saat pandemi memang butuh perhatian ekstra. Lebih berat jika dibandingkan kondisi normal atau biasa. Karena penyesuaian tatanan kehidupan baru, adaptasinya perlu waktu.

Hal ini diungkapkan Kepala Puskesmas Kandangsapi, dr Ahmad Shohib. Dia mengatakan, menunda kehamilan selama pandemi dengan program keluarga berencana (KB) sangat dianjurkan. Sebab seseorang yang sedang hamil berada dalam kondisi yang lebih lemah daripada yang tidak. Tidak hanya virus Covid-19, namun penyakit lain juga lebih rawan bagi ibu hamil.

“Sebab ibu hamil itu kadang tidak suka makan. Makan ini dan itu tidak bisa masuk, jadi kondisinya lebih lemah. Hal ini membuat virus lebih mudah menyerang. Jadi kalau bisa, kehamilan ditunda dahulu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, bagi wanita yang ingin tetap hamil, maka kesehatan lebih diperhatikan. Mereka harus mengecek kondisi tubuh dan antibodi dengan tes rapid dan swab. Sehingga saat ibu hamil diketahui positif Covid-19, bisa segera dilakukan penanganan. Terutama agar janin yang dikandungnya tetap selamat.

Saat ibu hamil diketahui terpapar virus Covid-19, janin di dalam kandungannya belum tentu ikut terpapar. Namun yang patut diwaspadai adalah virus ini menyerang saluran pernapasan. Sehingga bisa berdampak pada asupan oksigen yang kurang. Jika pernapasan terganggu, dapat membahayakan janin.

“Memang belum tentu ibu hamil yang positif terjangkit Covid-19, janinnya juga kena. Tapi kalau salah penanganan dan sampai terlambat, oksigen yang diterima janin kurang dan bisa menyebabkan kematian pada janin,” jelasnya.

Bagi ibu hamil yang terpapar Covid-19, tidak bisa dirawat oleh posyandu saja. Mereka harus menerima perawatan khusus yang intensif langsung dari spesialis kandungan. Tentunya juga harus menjalani karantina, hingga ia dinyatakan sembuh dan bebas dari Covid-19.

Namun usai dinyatakan sembuh, pengecekan rutin tetap harus dilakukan.

“Masalahnya itu kadang ada yang tidak mau dirujuk. Kalau dalam kondisi normal, ibu hamil bisa cek kesehatan di posyandu setiap puskesmas, bisa. Tapi kalau terpapar Covid-19, ya harus ke rumah sakit dan dirawat khusus di sana,” sebut Shohib.

 

Kontrol Kehamilan Tetap Harus

Ibu hamil memiliki kondisi yang lebih rentan dibandingkan wanita yang tidak hamil. Karena itulah, pemeriksan pada kehamilan atau ante natal care harus dilaksanakan dengan baik. Selain itu, sebisa mungkin ibu hamil dapat mengurangi aktivitas yang membahayakan di luar rumah.

Shohib menyebutkan, pelayanan bagi ibu hamil selama masa kehamilan adalah sebanyak empat kali. Yaitu masing masing satu kali pada triwulan pertama dan kedua, serta dua kali saat triwulan ketiga. Tentunya, pemeriksaan ini sudah dilakukan penjadwalan sebelumnya. Namun jika ibu hamil tidak bisa datang di waktu yang ditentukan, masih bisa dijadwal ulang.

Selain pemeriksaan rutin ini, ibu hamil selama masa pandemi harus patuh pada aturan 3M + 2M. Yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Serta mengurangi mobilitas keluar rumah dan menjauhi kerumunan. Kecuali, memang ada kegiatan yang mendesak dan tidak bisa ditinggalkan, asalkan tetap memakai masker.

“Pemeriksaan pada kehamilan saat pandemi maupun sebelumnya, tidak berbeda. Ibu hamil bisa mengkonsultasikan apa saja keluhannya termasuk jika merasa kondisinya kurang baik. Nanti akan diberi penanganan usai diketahui penyebabnya,” sebutnya.

Pria berkacamata ini menerangkan persiapan melahirkan itu sang ibu harus diperiksa dengan rapid test dahulu dengan antigen atau antibodi. Ini bisa dilakukan di posyandu di setiap puskesmas. Dan jika memang reaktif, maka sang ibu harus dirujuk ke rumah sakit. Selanjutnya usai kehamilan, kontrol dan pemeriksaan pada ibu dan bayi sangat penting.

Dan aturannya, ada pemeriksaan sebanyak tiga kali usai kelahiran. Pertama, saat bayi berusia enam sampai 48 jam, wajib dikunjungi langsung di rumah dengan membawa catatan formulir berupa laporan kondisi kesehatan bayi tersebut.

Lalu saat bayi berusia kurang dari satu minggu, kunjungan dari petugas posyandu dilakukan sebanyak dua kali. Terakhir, saat bayi dalam usia 28 hari, pemeriksaan akan dilakukan pada bayi sekaligus ibunya.

Kondisi berbeda akan dilakukan jika sang ibu terpapar Covid-19. Maka pemeriksaan bisa dilakukan secara terpisah. Di mana si ibu dirawat dan diisolasi di rumah sakit hingga sembuh sementara bayi dirawat di rumah.

“Di luar itu yang terpenting juga ibu hamil harus diperiksa apa dua bebas dari hepatitis, HIV dan sipilis. Kalau ketahuan ada virus tersebut, maka direncanakan ke rumah sakit untuk sambil diobati. Tidak boleh di rumah sakit bersalin,” terang Shohib.

Terpisah, bidan posyandu ibu dan anak di Puskesmas Kandangsapi, Diah Andarini menambahkan, tidak ada perbedaan dari pemeriksaan ibu hamil saat pandemi maupun sebelum pandemi. Hanya, saat ini ibu hamil tidak bisa sebebas dahulu.

Selama pandemi, ibu hamil harus memakai masker dan menjaga jarak saat di ruang tunggu di posyandu. Begitu pula, petugas yang memeriksa juga harus menggunakan alat perlindungan diri (APD) lengkap.

“Kami tetap melayani setiap Senin sampai Sabtu. Tidak ada bedanya. Cuma saat ini sebelum diperiksa, ibu hamil harus di-rapid dahulu untuk yang usia kandungannya di atas 36 minggu. Bagi kandungan awal tidak harus di-rapid,” bebernya. (riz/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

Selama pandemi Covid-19 berlangsung, seseorang lebih baik menunda kehamilan. Pasalnya kehamilan saat pandemi seperti saat ini lebih berisiko pada kesehatan ibu dan bayi. Mereka bisa mudah terserang penyakit daripada sebelum pandemi terjadi.

——————

WALAU tidak ada larangan khusus, hamil saat pandemi memang butuh perhatian ekstra. Lebih berat jika dibandingkan kondisi normal atau biasa. Karena penyesuaian tatanan kehidupan baru, adaptasinya perlu waktu.

Mobile_AP_Half Page

Hal ini diungkapkan Kepala Puskesmas Kandangsapi, dr Ahmad Shohib. Dia mengatakan, menunda kehamilan selama pandemi dengan program keluarga berencana (KB) sangat dianjurkan. Sebab seseorang yang sedang hamil berada dalam kondisi yang lebih lemah daripada yang tidak. Tidak hanya virus Covid-19, namun penyakit lain juga lebih rawan bagi ibu hamil.

“Sebab ibu hamil itu kadang tidak suka makan. Makan ini dan itu tidak bisa masuk, jadi kondisinya lebih lemah. Hal ini membuat virus lebih mudah menyerang. Jadi kalau bisa, kehamilan ditunda dahulu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, bagi wanita yang ingin tetap hamil, maka kesehatan lebih diperhatikan. Mereka harus mengecek kondisi tubuh dan antibodi dengan tes rapid dan swab. Sehingga saat ibu hamil diketahui positif Covid-19, bisa segera dilakukan penanganan. Terutama agar janin yang dikandungnya tetap selamat.

Saat ibu hamil diketahui terpapar virus Covid-19, janin di dalam kandungannya belum tentu ikut terpapar. Namun yang patut diwaspadai adalah virus ini menyerang saluran pernapasan. Sehingga bisa berdampak pada asupan oksigen yang kurang. Jika pernapasan terganggu, dapat membahayakan janin.

“Memang belum tentu ibu hamil yang positif terjangkit Covid-19, janinnya juga kena. Tapi kalau salah penanganan dan sampai terlambat, oksigen yang diterima janin kurang dan bisa menyebabkan kematian pada janin,” jelasnya.

Bagi ibu hamil yang terpapar Covid-19, tidak bisa dirawat oleh posyandu saja. Mereka harus menerima perawatan khusus yang intensif langsung dari spesialis kandungan. Tentunya juga harus menjalani karantina, hingga ia dinyatakan sembuh dan bebas dari Covid-19.

Namun usai dinyatakan sembuh, pengecekan rutin tetap harus dilakukan.

“Masalahnya itu kadang ada yang tidak mau dirujuk. Kalau dalam kondisi normal, ibu hamil bisa cek kesehatan di posyandu setiap puskesmas, bisa. Tapi kalau terpapar Covid-19, ya harus ke rumah sakit dan dirawat khusus di sana,” sebut Shohib.

 

Kontrol Kehamilan Tetap Harus

Ibu hamil memiliki kondisi yang lebih rentan dibandingkan wanita yang tidak hamil. Karena itulah, pemeriksan pada kehamilan atau ante natal care harus dilaksanakan dengan baik. Selain itu, sebisa mungkin ibu hamil dapat mengurangi aktivitas yang membahayakan di luar rumah.

Shohib menyebutkan, pelayanan bagi ibu hamil selama masa kehamilan adalah sebanyak empat kali. Yaitu masing masing satu kali pada triwulan pertama dan kedua, serta dua kali saat triwulan ketiga. Tentunya, pemeriksaan ini sudah dilakukan penjadwalan sebelumnya. Namun jika ibu hamil tidak bisa datang di waktu yang ditentukan, masih bisa dijadwal ulang.

Selain pemeriksaan rutin ini, ibu hamil selama masa pandemi harus patuh pada aturan 3M + 2M. Yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Serta mengurangi mobilitas keluar rumah dan menjauhi kerumunan. Kecuali, memang ada kegiatan yang mendesak dan tidak bisa ditinggalkan, asalkan tetap memakai masker.

“Pemeriksaan pada kehamilan saat pandemi maupun sebelumnya, tidak berbeda. Ibu hamil bisa mengkonsultasikan apa saja keluhannya termasuk jika merasa kondisinya kurang baik. Nanti akan diberi penanganan usai diketahui penyebabnya,” sebutnya.

Pria berkacamata ini menerangkan persiapan melahirkan itu sang ibu harus diperiksa dengan rapid test dahulu dengan antigen atau antibodi. Ini bisa dilakukan di posyandu di setiap puskesmas. Dan jika memang reaktif, maka sang ibu harus dirujuk ke rumah sakit. Selanjutnya usai kehamilan, kontrol dan pemeriksaan pada ibu dan bayi sangat penting.

Dan aturannya, ada pemeriksaan sebanyak tiga kali usai kelahiran. Pertama, saat bayi berusia enam sampai 48 jam, wajib dikunjungi langsung di rumah dengan membawa catatan formulir berupa laporan kondisi kesehatan bayi tersebut.

Lalu saat bayi berusia kurang dari satu minggu, kunjungan dari petugas posyandu dilakukan sebanyak dua kali. Terakhir, saat bayi dalam usia 28 hari, pemeriksaan akan dilakukan pada bayi sekaligus ibunya.

Kondisi berbeda akan dilakukan jika sang ibu terpapar Covid-19. Maka pemeriksaan bisa dilakukan secara terpisah. Di mana si ibu dirawat dan diisolasi di rumah sakit hingga sembuh sementara bayi dirawat di rumah.

“Di luar itu yang terpenting juga ibu hamil harus diperiksa apa dua bebas dari hepatitis, HIV dan sipilis. Kalau ketahuan ada virus tersebut, maka direncanakan ke rumah sakit untuk sambil diobati. Tidak boleh di rumah sakit bersalin,” terang Shohib.

Terpisah, bidan posyandu ibu dan anak di Puskesmas Kandangsapi, Diah Andarini menambahkan, tidak ada perbedaan dari pemeriksaan ibu hamil saat pandemi maupun sebelum pandemi. Hanya, saat ini ibu hamil tidak bisa sebebas dahulu.

Selama pandemi, ibu hamil harus memakai masker dan menjaga jarak saat di ruang tunggu di posyandu. Begitu pula, petugas yang memeriksa juga harus menggunakan alat perlindungan diri (APD) lengkap.

“Kami tetap melayani setiap Senin sampai Sabtu. Tidak ada bedanya. Cuma saat ini sebelum diperiksa, ibu hamil harus di-rapid dahulu untuk yang usia kandungannya di atas 36 minggu. Bagi kandungan awal tidak harus di-rapid,” bebernya. (riz/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2