Bukan Misi yang Mustahil, Semoga Ethan Hunt Berhasil Curi Vaksin

CARA John Woo mengemas film MI2 di tahun 2000, benar-benar membuat saya punya pemikiran empiris soal virus. Seakan-akan menjadi komoditas bisnis, tapi juga senjata pemusnah masal seperti yang disebutkan George W Bush Jr, seperti yang ditudingkannya ke Irak. Tapi belakangan, dampak covid-19 sungguh dahsyat.

“Jangan Panik Covid-19”. Judul itu saya ambil saat membuat berita gabungan di Jawa Pos Radar Bromo, saat kawan-kawan menuliskan kesiapan empat pemerintahan daerah menghadapi virus yang sudah merenggut ribuan nyawa tersebut. Saya mendukung pemerintah agar masyarakat jangan panik, kalau memang virus ini “mampir” ke Pasuruan ataupun Probolinggo. Ndak gopo.

Lambat laun, covid-19 selalu menjadi pembuka-pengakhir bagi saya. Bayangkan saja. Bangun tidur buka handphonecovid-19 selalu menjadi tajuk teratas berita. Grup WA, tiap detik juga selalu ada kata-kata covid-19. Pun saat melintasi televisi, selalu ada berita ini. Saat mau tidur pun, istri bilang cuci tangan dan kaki, bila perlu mandi. Katanya, untuk antisipasi virus.

Hingga saat di republik ini penderitanya semakin banyak, justru saya sendiri yang merasa ngeri. Segala informasi yang saya dapat tentang virus ini, saya forward ke kawan-kawan di lapangan, cek dan ricek. Jika memang hoax, telusuri. Supaya tidak ada mis-informasi.

Bunga-bunga berita terkait virus ini, juga saya pantau. Dari yang kelasnya harga gula naik, hingga kebutuhan pokok sehari-hari. Kenaikan harga tersebut, pasti ada kaitannya meskipun kecil.

Covid-19 saya sebut memang menjadi pemusnah masal. Apa sebab? Sejak merebak ke Indonesia, saya sudah mendengar ada kawan-kawan yang bisnisnya terganggu. Bahkan, ada yang sudah lama tak mendapat pemasukan. Seperti teman saya di pulau Dewata. Mereka yang bekerja di bidang wisata, mulai lesu. Padahal, ini masih bulan keempat sejak covid-19 muncul di publik.

Contohnya, mereka yang kerja di hotel. Sejak penerbangan di Bali berkurang, semenjak itu okupansi turun. Hotel banting harga pun tak membawa dampak besar. Kawan saya mulai khawatir. Apakah saat Lebaran nanti dia bisa pulang kampung atau tidak.

Begitu juga di sektor pendukung wisata lainnya. Termasuk pelaku usaha kecil menengah, yang pemasarannya mayoritas ke Bali. Mereka diminta untuk mengurangi pengiriman sudah sebulan ini. Tentu, dampaknya ke pemasukan pula.

Belum lagi kawan yang meraup rupiah dari tamu travel. Bukan hanya wisatawan mancanegara. Sekelas domestik pun, mulai terjadi pengurangan. “Kalau high season nanti sama, saya gak tahu, apakah bisa kirim uang ke istri atau tidak,” kata kawan saya.

Bikin kaget lagi saat Italia memberlakukan lockdown. Cara ekstrem mereka tempuh karena tingkat ke-gopo-an yang pasti tak bisa dipandang remeh lagi. Dampaknya, penggemar Serie-A harus gigit jari. Pasti ada yang rugi dalam jumlah besar di sana. Bayangkan, itu baru dari sepak bola.

Lockdown bukan tidak mungkin diberlakukan di negara kita. Cuma yang gak bisa saya bayangkan, kalau itu diberlakukan, siapkah kita untuk merugi? Bisa-bisa krisis ekonomi terjadi lagi. Inilah yang belum saya baca di media massa. Solusi dan skema apakah yang disiapkan pemerintah soal ini.

Wong untuk beras saja, kita masih impor. Bayangkan kalau obat-obatan dari luar distop. Kita tidak bisa ekspor maupun impor. Negara kita bisa akan merasakan seperti apa yang dialami negaranya Kim Jong Un.

Sungguh sangat mudah bagi Tuhan Yang Maha Kuasa jika ingin memberi kita selamat. Tapi, di balik semua itu, harus ada upaya.

Di sini saya juga berharap ada profesor, doktor, dan peneliti-peneliti hebat yang bisa segera menemukan vaksin virus ini. Tak terkecuali orang-orang hebat di Republik Indonesia. Jika mereka bisa menemukan vaksin covid-19, kemudian vaksin itu dijual dan laris, pasti negara kita mendadak terkenal.

Dan yang paling penting, bila vaksin itu bisa mengobati orang-orang Indonesia terbebas dari covid-19, masyarakat bisa pro seluruhnya ke pemerintah. Percaya kepada pemerintah, dan gak ada yang menjatuh-jatuhkan dari sisi manapun.

Belum sampai ada penemu vaksin atau obat, negara Indonesia saja sudah ramai. Termasuk soal kebijakan yang dibuat atas pagebluk (baca pandemik) covid-19. Contohnya seperti, kerja dari rumah, sementara liburkan kegiatan belajar mengajar, tak datang ke tempat keramaian, atau menunda acara yang melibatkan banyak massa. Aduh duh

Saya tidak bisa lagi membayangkan, bagaimana kalau Israel bisa menemukan vaksin atau obat virus ini. Kemudian vaksin itu dijual mahal ke kita. Dan penemuan vaksin itu, tidak bisa dimodifikasi oleh orang-orang pintar nan hebat dari negara kita. Akan semakin ironi, bila harga vaksin itu tak terbeli oleh orang-orang yang tidak kaya seperti saya. Apakah saya harus jual ginjal? Naudzubillah.

Dari lubuk hati yang paling dalam, untuk saat ini, saya berharap ada “pahlawan” yang bisa mendapatkan solusi atas covid-19. Tentu menjadi harapan bagi banyak orang bisa melihat anaknya tumbuh berkembang menjadi dewasa. Melihat orang tuanya sehat sampai tua, dan tak ada keluarga yang mati akibat virus korona ini.

Dan saya kembali ingat tentang John Woo, yang apik menggambarkan Ethan Hunt, yang berhasil membawa vaksin dari virus mematikan dan bisa digunakan untuk umat manusia. Terlepas dari cerita agen rahasia itu jatuh cinta ke Nyah Nordoff-Hall, sekarang banyak yang menerka bahwa virus ini buatan dan bisa menjadi komoditas bisnis.

Covid-19 memang sebuah virus, tapi setidaknya kita harus bisa menepis bahwa ini bukan senjata pemusnah masal yang dampaknya bukan hanya soal kesehatan semata. Tapi juga bisa menimbulkan krisis ekonomi. Jangan sampai covid-19 juga menimbulkan krisis kepercayaan. (*)

 

*Wartawan Jawa Pos Radar Bromo