alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Pandemi Membuat Umat Sembahyang di Rumah saat Imlek

PASURUAN, Radar Bromo- Suasana Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tjoe An Kiong Bangil tampak lengang, Rabu (11/2) siang. Tidak ada ornamen atau pernak-pernik spesial yang tampak, menyambut perayaan Imlek 2572. Hanya ada lampion-lampion yang sudah terpasang sebelum-sebelumnya di kelenteng itu.

Bukan hanya tampilan kelenteng yang tampak biasa. Bahkan, nyaris tidak ada umat yang datang ke kelenteng di Kelurahan Kauman, Kecamatan Bangil, itu. Padahal, sebelum pandemi Covid-19, umat sudah datang sejak H-7 Imlek.

Penjaga Kelenteng Tjoe An Kiong Bangil Imam Samsul Arifin menyampaikan, suasana Imlek tahun ini memang berbeda. Banyak masyarakat Tionghoa yang merayakannya di rumah. Terbukti, dengan sepinya umat yang datang ke kelenteng.

“Jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Menjelang perayaan Imlek, biasanya umat berdatangan untuk sembahyang,” ungkap dia.

Menurutnya, pandemi Covid-19 menjadi faktornya. Warga Tionghoa memilih untuk menikmati hari-harinya di rumah, ketimbang bepergian. Termasuk ke kelenteng. Apalagi, banyak kelenteng yang tutup.

“Di sini tidak (tutup, Red). Tapi sangat ketat. Tidak memakai masker dilarang masuk,” akunya.

Salah satu pengurus Kelenteng Tjoe An Kiong Bangil Irawati mengakui, antusiasme menyambut perayaan Imlek tahun ini tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada perayaan apapun untuk digelar. Kebanyakan, kaum Tionghoa menghabiskan dan merayakannya di rumah masing-masing.

Berkumpul dengan keluarga serta menyantap makanan khas Imlek seperti Yu Seng di rumah menjadi agenda yang dilakukan. Tidak ada kegiatan makan-makan di restoran atau rumah makan seperti sebelum-sebelumnya.

“Yang terpenting adalah sehat semua. Kami berharap jauh dari penyakit serta diberi umur panjang dan banyak rezeki. Kami memilih merayakan di rumah secara sederhana,” katanya.

Hal serupa terlihat di TITD Kelenteng Tjoe Tik Kiong Kota Pasuruan. Dari tahun ke tahun, ada serangkaian tradisi yang selalu digelar dalam momentum Tahun Baru Imlek. Namun tidak semua tradisi yang sudah dijalankan selama ini bisa tetap terlaksana dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang. Sebagian tradisi yang lekat dengan Tahun Baru Imlek kini ditiadakan. Sembahyang pun tidak lagi dilakukan secara bersama-sama.

Sepekan sebelum Tahun Baru Imlek, biasanya ada tradisi membersihkan altar suci di Kelenteng Tjoe Tik Kiong. Dulu, kegiatan itu bisa diikuti oleh banyak orang. Baik pengurus maupun umat. Kini, kegiatan itu hanya dibatasi 10 orang saja. Seluruhnya dilakukan pengurus Kelenteng Tjoe Tik Kiong.

Begitu pula dengan perayaan di malam pergantian tahun. Biasanya, sebelum sembahyang bersama-sama umat lebih dulu disuguhi penampilan barongsai dan tari-tarian. Kini, pagelaran seni itu juga ditiadakan. Malam Tahun Baru Imlek hanya dilalui dengan ritual sembahyang. Ritual itu juga tidak dilakukan secara bersama-sama. Melainkan individual masing-masing umat.

“Jadi sembahyang saat tutup tahun dan awal tahun yang biasanya dilaksanakan bersama, sekarang pribadi-pribadi. Kami juga menyerukan untuk sembahyang di rumah,” kata Sekretaris TITD Tjoe Tik Kiong Yudi Dharma Santoso.

Hari keempat juga dianggap penting dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Umat akan kembali melakukan sembahyang secara individual. Ritual itu dilakukan guna menyambut kedatangan Dewa-Dewi yang turun dari Kayangan. Menjelang hari kesembilan atau sering disebut dengan Hari Kebesaran Tuhan, ada sembahyang sujud.

Sebelum sembahyang, ada batang tebu yang diletakkan di dua sisi altar di Kelenteng Tjoe Tik Kiong. Tebu dianggap memiliki arti tumbuh dan semakin tinggi. Selain itu, lampion dan lilin-lilin juga dinyalakan. Baik di kelenteng maupun di rumah umat.

SEPI: Suasana di klenteng Tjoe Tik Kiong. (Foto: M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Lampion dan lilin lambang pencerahan batin dengan harapan, mata dan telinga batin selalu tercerahkan dalam menghadapi tugas kehidupan,” beber Yudi.

Hari kesembilan itu juga termasuk momentum yang sangat disakralkan. “Karena pada hari itulah momen pertobatan dalam memasuki tahun baru ini. Untuk mengambil pembelajaran di tahun kemarin dan selalu memperbaiki diri di tahun ini,” kata Yudi.

Pembatasan juga dilakukan di TITD Sumber Naga Kota Probolinggo. Di tempat ini, sembahyang yang biasa dilakukan pada  malam pergantian tahun dilakukan sederhana dan terbatas. Hanya boleh diikuti pengurus. Sedangkan umat diimbau sembahyang di rumah masing-masing.

“Kami tidak melakukan sembahyang virtual. Tapi kami minta umat sembahyang di rumah masing-masing,” terang Ketua II TITD Sumber Naga Kota Probolinggo Erfan Sujianto.

Tidak hanya itu, tradisi yang selalu ada di tempat ibadah saat Imlek pun ditiadakan. Seperti atraksi barongsai maupun penampilan wayang kulit.

“Dalam 50 tahun terakhir, baru tahun ini pertunjukan wayang kulit tidak dilakukan. Bahkan setelah kebakaran terjadi pada Mei 2019, wayang kulit tetap dilaksanakan,” terangnya. (tom/one/put/hn)

PASURUAN, Radar Bromo- Suasana Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tjoe An Kiong Bangil tampak lengang, Rabu (11/2) siang. Tidak ada ornamen atau pernak-pernik spesial yang tampak, menyambut perayaan Imlek 2572. Hanya ada lampion-lampion yang sudah terpasang sebelum-sebelumnya di kelenteng itu.

Bukan hanya tampilan kelenteng yang tampak biasa. Bahkan, nyaris tidak ada umat yang datang ke kelenteng di Kelurahan Kauman, Kecamatan Bangil, itu. Padahal, sebelum pandemi Covid-19, umat sudah datang sejak H-7 Imlek.

Penjaga Kelenteng Tjoe An Kiong Bangil Imam Samsul Arifin menyampaikan, suasana Imlek tahun ini memang berbeda. Banyak masyarakat Tionghoa yang merayakannya di rumah. Terbukti, dengan sepinya umat yang datang ke kelenteng.

“Jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Menjelang perayaan Imlek, biasanya umat berdatangan untuk sembahyang,” ungkap dia.

Menurutnya, pandemi Covid-19 menjadi faktornya. Warga Tionghoa memilih untuk menikmati hari-harinya di rumah, ketimbang bepergian. Termasuk ke kelenteng. Apalagi, banyak kelenteng yang tutup.

“Di sini tidak (tutup, Red). Tapi sangat ketat. Tidak memakai masker dilarang masuk,” akunya.

Salah satu pengurus Kelenteng Tjoe An Kiong Bangil Irawati mengakui, antusiasme menyambut perayaan Imlek tahun ini tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada perayaan apapun untuk digelar. Kebanyakan, kaum Tionghoa menghabiskan dan merayakannya di rumah masing-masing.

Berkumpul dengan keluarga serta menyantap makanan khas Imlek seperti Yu Seng di rumah menjadi agenda yang dilakukan. Tidak ada kegiatan makan-makan di restoran atau rumah makan seperti sebelum-sebelumnya.

“Yang terpenting adalah sehat semua. Kami berharap jauh dari penyakit serta diberi umur panjang dan banyak rezeki. Kami memilih merayakan di rumah secara sederhana,” katanya.

Hal serupa terlihat di TITD Kelenteng Tjoe Tik Kiong Kota Pasuruan. Dari tahun ke tahun, ada serangkaian tradisi yang selalu digelar dalam momentum Tahun Baru Imlek. Namun tidak semua tradisi yang sudah dijalankan selama ini bisa tetap terlaksana dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang. Sebagian tradisi yang lekat dengan Tahun Baru Imlek kini ditiadakan. Sembahyang pun tidak lagi dilakukan secara bersama-sama.

Sepekan sebelum Tahun Baru Imlek, biasanya ada tradisi membersihkan altar suci di Kelenteng Tjoe Tik Kiong. Dulu, kegiatan itu bisa diikuti oleh banyak orang. Baik pengurus maupun umat. Kini, kegiatan itu hanya dibatasi 10 orang saja. Seluruhnya dilakukan pengurus Kelenteng Tjoe Tik Kiong.

Begitu pula dengan perayaan di malam pergantian tahun. Biasanya, sebelum sembahyang bersama-sama umat lebih dulu disuguhi penampilan barongsai dan tari-tarian. Kini, pagelaran seni itu juga ditiadakan. Malam Tahun Baru Imlek hanya dilalui dengan ritual sembahyang. Ritual itu juga tidak dilakukan secara bersama-sama. Melainkan individual masing-masing umat.

“Jadi sembahyang saat tutup tahun dan awal tahun yang biasanya dilaksanakan bersama, sekarang pribadi-pribadi. Kami juga menyerukan untuk sembahyang di rumah,” kata Sekretaris TITD Tjoe Tik Kiong Yudi Dharma Santoso.

Hari keempat juga dianggap penting dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Umat akan kembali melakukan sembahyang secara individual. Ritual itu dilakukan guna menyambut kedatangan Dewa-Dewi yang turun dari Kayangan. Menjelang hari kesembilan atau sering disebut dengan Hari Kebesaran Tuhan, ada sembahyang sujud.

Sebelum sembahyang, ada batang tebu yang diletakkan di dua sisi altar di Kelenteng Tjoe Tik Kiong. Tebu dianggap memiliki arti tumbuh dan semakin tinggi. Selain itu, lampion dan lilin-lilin juga dinyalakan. Baik di kelenteng maupun di rumah umat.

SEPI: Suasana di klenteng Tjoe Tik Kiong. (Foto: M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Lampion dan lilin lambang pencerahan batin dengan harapan, mata dan telinga batin selalu tercerahkan dalam menghadapi tugas kehidupan,” beber Yudi.

Hari kesembilan itu juga termasuk momentum yang sangat disakralkan. “Karena pada hari itulah momen pertobatan dalam memasuki tahun baru ini. Untuk mengambil pembelajaran di tahun kemarin dan selalu memperbaiki diri di tahun ini,” kata Yudi.

Pembatasan juga dilakukan di TITD Sumber Naga Kota Probolinggo. Di tempat ini, sembahyang yang biasa dilakukan pada  malam pergantian tahun dilakukan sederhana dan terbatas. Hanya boleh diikuti pengurus. Sedangkan umat diimbau sembahyang di rumah masing-masing.

“Kami tidak melakukan sembahyang virtual. Tapi kami minta umat sembahyang di rumah masing-masing,” terang Ketua II TITD Sumber Naga Kota Probolinggo Erfan Sujianto.

Tidak hanya itu, tradisi yang selalu ada di tempat ibadah saat Imlek pun ditiadakan. Seperti atraksi barongsai maupun penampilan wayang kulit.

“Dalam 50 tahun terakhir, baru tahun ini pertunjukan wayang kulit tidak dilakukan. Bahkan setelah kebakaran terjadi pada Mei 2019, wayang kulit tetap dilaksanakan,” terangnya. (tom/one/put/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/