alexametrics
30 C
Probolinggo
Sunday, 14 August 2022

Setahun, Razia 81 Gepeng-ODGJ di Pasuruan, Mayoritas dari Luar Daerah

PASURUAN-Jumlah gelandangan dan pengemis (gepeng) serta orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Pasuruan sepanjang 2018 cukup banyak. Dari catatan Dinas Sosial (Dinsos) setempat, setahun ada 81 orang yang ditangani. Dari jumlah itu, 70 persen berasal dari luar daerah.

Plt Kepala Dinsos Kabupaten Pasuruan Gunawan Wicaksono mengatakan, Penanganan Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti pengemis, gelandangan, dan ODGJ tetap harus segera ditangani. Sebab, mereka cenderung mengganggu tatanan masyarakat. “Selain mengganggu keindahan kota, juga bisa mengganggu pengguna jalan. Kadang ODGJ bisa mengganggu jiwa mereka sendiri,” ujarnya.

Selain dirazia dari Satpol PP, secara mandiri Dinsos melalui Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) juga sering turun langsung. Terutama, bila mendapati laporan dari masyarakat.

Biasanya setelah diamankan, gepeng itu dibawa ke rumah singgah untuk dibersihkan. Juga ditanyai terkait jati diri dan dilakukan penanganan secara psikologis.

Gunawan mengatakan, biasanya gepeng dan ODGJ ada yang karena fakir miskin. Serta, karena sudah pikun sehingga lupa jalan pulang.

“Karena itu, biasanya kami akan mendata, apakah ada yang diingat. Kalau ada yang ingat keluarganya, maka kami telusuri agar bisa kembali ke keluarganya,” ujarnya.

Dari 81 orang, tercatat ada 8 orang gelandangan, 39 pengemis, dan 34 ODGJ. Dari 34 ODGJ ini 32 orang dibawa ke UPT atau Panti Asuhan Bina Laras di Kecamatan Grati.

Ada juga yang dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). “Ada yang benar-benar lupa sama sekali sampai ke tingkat merusak juga. Bagi yang mengalami gangguan yang cukup parah, kami bawa ke RSJ atau kalau lupa jati dirinya, kami bawa Panti Asuhan Bina Laras,” jelasnya.

Gunawan mengatakan, dari 81 orang itu, 70 persen berasal dari luar daerah di Jawa Timur. Karenanya, pihaknya juga bekerja sama dengan Dinsos daerah asal mereka untuk memulangkannya ke keluarganya.

Katanya, adanya razia dan pendampingan di rumah singgah menjadi salah satu upaya agar jumlah gepeng dan ODGJ bisa berkurang. Sehingga, tidak mengganggu ketertiban dan PMKS bisa segera dikembalikan kepada keluarganya untuk dirawat. (eka/rud)

PASURUAN-Jumlah gelandangan dan pengemis (gepeng) serta orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Pasuruan sepanjang 2018 cukup banyak. Dari catatan Dinas Sosial (Dinsos) setempat, setahun ada 81 orang yang ditangani. Dari jumlah itu, 70 persen berasal dari luar daerah.

Plt Kepala Dinsos Kabupaten Pasuruan Gunawan Wicaksono mengatakan, Penanganan Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti pengemis, gelandangan, dan ODGJ tetap harus segera ditangani. Sebab, mereka cenderung mengganggu tatanan masyarakat. “Selain mengganggu keindahan kota, juga bisa mengganggu pengguna jalan. Kadang ODGJ bisa mengganggu jiwa mereka sendiri,” ujarnya.

Selain dirazia dari Satpol PP, secara mandiri Dinsos melalui Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) juga sering turun langsung. Terutama, bila mendapati laporan dari masyarakat.

Biasanya setelah diamankan, gepeng itu dibawa ke rumah singgah untuk dibersihkan. Juga ditanyai terkait jati diri dan dilakukan penanganan secara psikologis.

Gunawan mengatakan, biasanya gepeng dan ODGJ ada yang karena fakir miskin. Serta, karena sudah pikun sehingga lupa jalan pulang.

“Karena itu, biasanya kami akan mendata, apakah ada yang diingat. Kalau ada yang ingat keluarganya, maka kami telusuri agar bisa kembali ke keluarganya,” ujarnya.

Dari 81 orang, tercatat ada 8 orang gelandangan, 39 pengemis, dan 34 ODGJ. Dari 34 ODGJ ini 32 orang dibawa ke UPT atau Panti Asuhan Bina Laras di Kecamatan Grati.

Ada juga yang dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). “Ada yang benar-benar lupa sama sekali sampai ke tingkat merusak juga. Bagi yang mengalami gangguan yang cukup parah, kami bawa ke RSJ atau kalau lupa jati dirinya, kami bawa Panti Asuhan Bina Laras,” jelasnya.

Gunawan mengatakan, dari 81 orang itu, 70 persen berasal dari luar daerah di Jawa Timur. Karenanya, pihaknya juga bekerja sama dengan Dinsos daerah asal mereka untuk memulangkannya ke keluarganya.

Katanya, adanya razia dan pendampingan di rumah singgah menjadi salah satu upaya agar jumlah gepeng dan ODGJ bisa berkurang. Sehingga, tidak mengganggu ketertiban dan PMKS bisa segera dikembalikan kepada keluarganya untuk dirawat. (eka/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/