alexametrics
30.3 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Terlambat Dikirim, Nelayan di Pelabuhan Tanjung Tembaga Kesulitan Solar

MAYANGAN, Radar Bromo – Sejumlah nelayan di Kota Probolinggo resah. Mereka kesulitan untuk mendapatkan solar bersubsidi sebagai bahan bakar utama kapalnya untuk melaut. Bukan minimnya stok, namun keterlambatan pengiriman.

Seperti yang diungkapkan salah satu petugas kapal penyeberangan dari Kota Probolinggo menuju Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Zaelani. Menurutnya, keterlambatan solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) cukup meresahkan. Karenanya, pihaknya terpaksa membeli di SPBU reguler. “Repot. Jika di SPBUN enak, langsung isi berapa pun dengan membawa kapal,” ujarnya.

Berbeda dengan Didik Hariyanto. Nelayan dengan kapal jonggrang mengatakan, solar bersubsidi tidak langka. Tetapi, pembelian di SPBU reguler dibatasi. “Kalau orang yang sama beli dua kali tidak dilayani. Jadi, yang beli harus orang lain,” ujarnya.

Pengurus SPBUN di area Pelabuhan Perikanan Mayangan Choirul Anam mengatakan stok solar di SPBUN-nya kosong. “Bukan langka, tetapi belum dikirim oleh Pertamina,” ujarnya, Minggu (3/11). Ia mengaku sudah order Kamis lalu. Namun, sampai Minggu belum dikirim.

Menurutnya, sekali kirim, Pertamina memasok ke SPBUN yang dikelola PT Bintang Samudra Mayangan, 16.000 ton. Namun, pengirimannya tidak setiap hari, melainkan sesuai pesanan. “Solar subsidi ada ketentuannya, untuk kapal di bawah 10 gross tonase,” ujarnya.

Terpisah, Unit Manager Communication, Relations, & CSR-Pertamina MOR V Rustam Aji membenarkan jika ada kendala pengiriman solar. Namun, ia berjanji akan mengirimnya hari ini. “Untuk SPDN atau SPBUN di Mayangan, pengiriman masih sesuai alokasi setiap bulannya 128 kiloliter,” ujarnya. (rpd/rud)

MAYANGAN, Radar Bromo – Sejumlah nelayan di Kota Probolinggo resah. Mereka kesulitan untuk mendapatkan solar bersubsidi sebagai bahan bakar utama kapalnya untuk melaut. Bukan minimnya stok, namun keterlambatan pengiriman.

Seperti yang diungkapkan salah satu petugas kapal penyeberangan dari Kota Probolinggo menuju Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Zaelani. Menurutnya, keterlambatan solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) cukup meresahkan. Karenanya, pihaknya terpaksa membeli di SPBU reguler. “Repot. Jika di SPBUN enak, langsung isi berapa pun dengan membawa kapal,” ujarnya.

Berbeda dengan Didik Hariyanto. Nelayan dengan kapal jonggrang mengatakan, solar bersubsidi tidak langka. Tetapi, pembelian di SPBU reguler dibatasi. “Kalau orang yang sama beli dua kali tidak dilayani. Jadi, yang beli harus orang lain,” ujarnya.

Pengurus SPBUN di area Pelabuhan Perikanan Mayangan Choirul Anam mengatakan stok solar di SPBUN-nya kosong. “Bukan langka, tetapi belum dikirim oleh Pertamina,” ujarnya, Minggu (3/11). Ia mengaku sudah order Kamis lalu. Namun, sampai Minggu belum dikirim.

Menurutnya, sekali kirim, Pertamina memasok ke SPBUN yang dikelola PT Bintang Samudra Mayangan, 16.000 ton. Namun, pengirimannya tidak setiap hari, melainkan sesuai pesanan. “Solar subsidi ada ketentuannya, untuk kapal di bawah 10 gross tonase,” ujarnya.

Terpisah, Unit Manager Communication, Relations, & CSR-Pertamina MOR V Rustam Aji membenarkan jika ada kendala pengiriman solar. Namun, ia berjanji akan mengirimnya hari ini. “Untuk SPDN atau SPBUN di Mayangan, pengiriman masih sesuai alokasi setiap bulannya 128 kiloliter,” ujarnya. (rpd/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/