Apa Itu Puasa Siti Maryam dan Nabi Daud?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Disebutkan bahwa puasa itu juga diwajibkan bagi umat-umat terdahulu. Yang unik, ada puasa dengan tidak berbicara selama tiga hari sebagaimana puasanya Siti Maryam. Ada puasa Nabi Daud dan lainnya. Apakah puasanya umat dahulu itu sama dengan puasa Ramadan dilihat dari perspektif pendidikan dan sosial?

Nadia Hilyat Auliya, mahasiswi UNUJA Paiton

 

Jawaban:

Waalaikumsalam Wr. Wb

Alhamdulillah wassolatu wassalamu ala Rasulillah, wa ba’d.

Puasa secara etimologi adalah; Menahan, termasuk menahan dari suatu ucapan (tidak berbicara), seperti yang dikatakan maryam dalam Alquran surat Maryam ayat 26: “Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk tuhan yang maha pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapapun pada hari ini”. Secara terminologi puasa adalah; Menahan diri dari sesuatu yang membatalkan (makan minum dll) pada waktu tertentu (dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari) dengan niyat tertentu.

Puasa adalah suatu ibadah mulai zaman dahulu kala, yaitu sejak zaman Nabi Adam as. Puasa bukan hanya khusus untuk generasi mereka yang diajak berdialog pada masa turunnya ayat yang mewajibkannya, tetapi juga terhadap umat-umat terdahulu, walaupun rincian cara pelaksanaannya berbeda-beda, seperti puasanya Nabi Musa 40 hari, dan puasanya nabi daud sehari puasa sehari tidak puasa.

Puasa suatu ibadah yang berat, dan apabila sesuatu yang berat sudah menjadi umum (dikerjakan semua orang) maka akan terasa ringan untuk dikerjakan, dan orang-orang yang melaksanakan merasa santai dan tentram, karena perkara-perkara (yang berat) tersebut berlandaskan kebenaran, keadilan, dan persamaan.

Puasa merealisasikan konsep persamaan antara orang kaya atau miskin, orang terpandang atau rakyat biasa, muda atau tua, lelaki atau perempuan, orang modern yang hidup masa kini atau manusia primitif yang hidup masa lalu, bahkan perorangan atau kelompok, dalam pelaksanaan satu kewajiban yang sama, ini adalah salahsatu faidah sosial puasa.

Puasa membiasakan kedisiplinan dalam penghidupan, pengekangan kehendak dalam tempo antara waktu sahur dan berbuka dalam satu waktu, puasa mewujudkan kehematan apabila etika-etika puasa dipatuhi, ini adalah salah satu faidah pendidikan puasa.

Puasa memupuk dalam jiwa rasa takut kepada Allah SWT, pada saat sepi dan ramai, sebab tidak ada yang mengawasi orang yang berpuasa kecuali tuhannya, kalau ia merasa amat lapar atau haus, dan ia mencium aroma makanan yang lezat atau melihat air yang jernih menggiurkan, namun ia tidak mau menyentuh perkara yang membatalkan puasanya itu karena dorongan imannya dan takutnya kepada tuhannya. Wallahu A’lam walmusta’an. (*)

 

 

KETERANGAN:
Bagi pembaca yang ingin mengajukan pertanyaan dalam rubrik ini, bisa mengirimkannya melalui WhatsApp ke +62 852-5886-1975.
Terkait banyaknya pertanyaan, tim redaksi berhak menentukan atau memilih pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab.