alexametrics
30.6 C
Probolinggo
Friday, 1 July 2022

Mangkok Aum, Salah Satu Andalan Pawang Hujan

Hal senada diungkapkan Edi Martono. Pengamat sejarah yang juga kerap dimintai tolong menjadi pawang hujan. Bila kondisinya memungkinkan, menurut Edi, dia memakai media tiga siung bawang dan cabai. Masing-masing ditusukkan ke lidi yang kemudian ditancapkan ke tanah.

“Sementara di bagian bawahnya ada sejumlah bumbu dapur lainnya. Tapi, jika tidak ada, cukup pakai rokok juga bisa,” ucapnya.

Yang jelas, semua tetap ada etikanya. Tidak boleh memindah hujan sembarangan. Misalnya memindah hujan ke laut atau yang lain.

“Kadang orang yang bisa atau biasa disebut pawang hujan itu membuang hujan seenaknya ke luat. Sementara laut itu juga ada yang punya. Jadi, suatu saat pasti yang punya laut marah. Sehingga kemudian terjadi bencana seperti banjir,” tandas warga Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, itu.

Sementara Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo di era modern, rekayasa hujan bisa dilakukan secara ilmiah dengan memperhatikan arah angin, kelembapan udara, dan media tertentu.

Contohnya, saat pesawat Casa TNI AU menabur 3 ton garam untuk mencegah hujan di Sirkuit MotoGP Mandalika. Hujan akhirnya turun, tapi tidak terpusat di area sirkuit.

“Cara modern seperti itu saat ini bisa dilakukan. Namun, memang harus dengan pengukuran yang tepat. Misalnya kecepatan angin dan arahnya ke mana,” tuturnya. (rpd/hn)

Hal senada diungkapkan Edi Martono. Pengamat sejarah yang juga kerap dimintai tolong menjadi pawang hujan. Bila kondisinya memungkinkan, menurut Edi, dia memakai media tiga siung bawang dan cabai. Masing-masing ditusukkan ke lidi yang kemudian ditancapkan ke tanah.

“Sementara di bagian bawahnya ada sejumlah bumbu dapur lainnya. Tapi, jika tidak ada, cukup pakai rokok juga bisa,” ucapnya.

Yang jelas, semua tetap ada etikanya. Tidak boleh memindah hujan sembarangan. Misalnya memindah hujan ke laut atau yang lain.

“Kadang orang yang bisa atau biasa disebut pawang hujan itu membuang hujan seenaknya ke luat. Sementara laut itu juga ada yang punya. Jadi, suatu saat pasti yang punya laut marah. Sehingga kemudian terjadi bencana seperti banjir,” tandas warga Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, itu.

Sementara Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo di era modern, rekayasa hujan bisa dilakukan secara ilmiah dengan memperhatikan arah angin, kelembapan udara, dan media tertentu.

Contohnya, saat pesawat Casa TNI AU menabur 3 ton garam untuk mencegah hujan di Sirkuit MotoGP Mandalika. Hujan akhirnya turun, tapi tidak terpusat di area sirkuit.

“Cara modern seperti itu saat ini bisa dilakukan. Namun, memang harus dengan pengukuran yang tepat. Misalnya kecepatan angin dan arahnya ke mana,” tuturnya. (rpd/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/