alexametrics
26.8 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Mangkok Aum, Salah Satu Andalan Pawang Hujan

Pawang hujan sudah lama akrab dengan budaya Nusantara. Sejak zaman nenek moyang sampai sekarang, pawang hujan masih eksis di tengah masyarakat. Terutama saat ada hajatan. Fenomena apa sebenarnya yang mengelilingi pawang hujan? Sekadar kearifan lokal atau memang masuk akal?

 

SAAT MotoGP Mandalika digelar di Indonesia, nama Rara Istiati Wulandari, pawang hujan di MotoGP Mandalika sempat terkenal. Dengan mangkok Aum yang dibawanya, dia menyedot perhatian dunia karena dinilai berhasil menaklukkan hujan yang turun di sirkuit.

Mereka yang tidak percaya mungkin menganggap mangkok itu sekedar pelengkap ritual si pawang. Namun, mangkok Aum sebenarnya memiliki frekuensi khusus di setiap putarannya. Bahkan, dengan teknologi modern saat ini, frekuensi yang dihasilkan mangkok Aum bisa ditiru. Walaupun, efek dari frekuensi itu belum tentu sama.

Seperti yang diterangkan Dhatu, pemerhati sejarah Mataraman dan Islam Kejawen. Pria 48 tahun asal Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, itu menerangkan, apa yang dilakukan Rara pada dasarnya riil. Rara memang bisa meminta atau berdoa agar tidak hujan atau hujan dipindah ke tempat lain untuk sementara waktu.

“Terlepas itu ada unsur kepentingan lain, sehingga dimunculkan atau sengaja di-shooting. Namun, Mbak Rara memang bisa,” terang pria yang juga kerap dimintai tolong sebagai pawang hujan, meskipun ia kurang sepakat dengan sebutan sebagai pawang hujan.

Mangkok Aum sendiri hanyalah satu dari sekian banyak media yang dipakai pawang hujan. Lebih dari itu, setiap pawang hujan punya media khusus biasanya. Termasuk mangkok Aum yang ditunjukanya atau yang sejenis dengan mangkok yang digunakan oleh Rara.

“Mangkok ini sebetulnya bisa didapat di mana saja. Mangkok Aum ini memiliki frekuensi suara 200-300 hz ketika digesekan dengan batangnya. Frekuensi ini digunakan sebagai tanda bahwa seseorang memohon atau berdoa untuk minta hujan atau menunda atau memindahkan hujan,” bebernya.

Pawang hujan sudah lama akrab dengan budaya Nusantara. Sejak zaman nenek moyang sampai sekarang, pawang hujan masih eksis di tengah masyarakat. Terutama saat ada hajatan. Fenomena apa sebenarnya yang mengelilingi pawang hujan? Sekadar kearifan lokal atau memang masuk akal?

 

SAAT MotoGP Mandalika digelar di Indonesia, nama Rara Istiati Wulandari, pawang hujan di MotoGP Mandalika sempat terkenal. Dengan mangkok Aum yang dibawanya, dia menyedot perhatian dunia karena dinilai berhasil menaklukkan hujan yang turun di sirkuit.

Mereka yang tidak percaya mungkin menganggap mangkok itu sekedar pelengkap ritual si pawang. Namun, mangkok Aum sebenarnya memiliki frekuensi khusus di setiap putarannya. Bahkan, dengan teknologi modern saat ini, frekuensi yang dihasilkan mangkok Aum bisa ditiru. Walaupun, efek dari frekuensi itu belum tentu sama.

Seperti yang diterangkan Dhatu, pemerhati sejarah Mataraman dan Islam Kejawen. Pria 48 tahun asal Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, itu menerangkan, apa yang dilakukan Rara pada dasarnya riil. Rara memang bisa meminta atau berdoa agar tidak hujan atau hujan dipindah ke tempat lain untuk sementara waktu.

“Terlepas itu ada unsur kepentingan lain, sehingga dimunculkan atau sengaja di-shooting. Namun, Mbak Rara memang bisa,” terang pria yang juga kerap dimintai tolong sebagai pawang hujan, meskipun ia kurang sepakat dengan sebutan sebagai pawang hujan.

Mangkok Aum sendiri hanyalah satu dari sekian banyak media yang dipakai pawang hujan. Lebih dari itu, setiap pawang hujan punya media khusus biasanya. Termasuk mangkok Aum yang ditunjukanya atau yang sejenis dengan mangkok yang digunakan oleh Rara.

“Mangkok ini sebetulnya bisa didapat di mana saja. Mangkok Aum ini memiliki frekuensi suara 200-300 hz ketika digesekan dengan batangnya. Frekuensi ini digunakan sebagai tanda bahwa seseorang memohon atau berdoa untuk minta hujan atau menunda atau memindahkan hujan,” bebernya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/