Begitu fundamental dan pentingnya memperlakukan struktur huruf dalam sebuah karya desain grafis menjadi tolok ukur berhasil atau tidaknya sebuah karya desain di mata audien atau pembaca.
Sobat desain tentu setuju anggapan bahwa pembaca sejatinya melihat bukan membaca. Ketertarikan akan media promosi ditentukan pada kesan pertama yang ditangkap indra penglihat. Selanjutnya, akan memahami isi dengan membaca. Atau, bisa jadi tanpa membaca, dengan visual yang baik, audien sudah memahami pesan di dalamnya.
Bagaimana bentuk perlakuan pada huruf yang tepat? Apa saja yang perlu dihindari?
Serif dan San Serif
Sobat desain perlu mengetahui perbedaan utama antara serif dan sans serif. Dua jenis huruf berbeda pada keberadaan atau ketiadaan ekor atau penambahan pada bagian ujung huruf.
Serif memiliki ekor atau penambahan kecil di bagian ujung setiap hurufnya, sedangkan sans serif tidak memiliki ekor atau penambahan. Huruf-huruf pada keluarga serif didesain untuk teks atau naskah yang super panjang. Biasanya terdapat pada naskah koran, majalah, atau novel.
Sedangkan untuk judul, paling tepat menggunakan jenis huruf dari marga sans serif, ketegasan dan lugas sangat membantu pembaca dalam mencerna kalimat. Sobat desain bisa memilih dan menentukan jenis mana yang tepat pada projek desain sobat.
Ukuran Huruf
Menentukan hirarki huruf tentu menjadi langkah yang rumit. Sobat desain tentu sering dihadapkan pada tingkat keterbacaan dan layout font yang ideal pada bidang desain yang sudah ditentukan.
Satu trik yang biasa saya lakukan yaitu dengan rumus golden ratio. Sobat bisa mengalikan dan membagi dengan angka 1,618 pada kolom size font. Sobat bisa mengikuti artikel saya sebelumnya untuk penjelasan fungsi golden ratio.
Shadow
Mengatifkan fungsi shadow atau efek bayangan pada huruf sesekali diperlukan. Efek ini seperti dua mata pisau. Bisa membatu atau justru menjadi gagal pada tingkat keterbacaan huruf.
Seringkali sobat desain terlalu bersemangat akan naluri penempatan fungsi efek justru akan menjadikan font akan terlihat dark, gelap, dan terkesan kotor.
Tip dari saya, sebaiknya hindari efek shadow pada jenis font yang berstruktur kurus dan dari keluarga serif (berkaki atau berekor).
Outline Stroke
Trik ini sangat keren dan mengasyikkan jika digunakan dengan tepat. Ya, bisa jadi menjadi penyebab kegagalan desain jika digunakan pada huruf yang kurang tepat. Outline stroke atau garis luar pada sebuah susunan kata sangat membantu tingkat keterbacaan pada backgroun yang full color, kesan bersih, tegas, lugas akan tercipta dengan efek ini.
Huruf dengan ouline stoke sebaiknya tidak diberi tambahan effek shadow, kesan kotor, serta mengganggu dan tingkat keterbacaan akan berkurang. Jika dirasa perlu hadirnya shadow, sobat bisa gunakan shadow solit bukan blur.
Setidaknya, empat panduan di atas dari sekian banyak aturan tipografi, bisa membantu sobat desain dalam mendesain projek seni desain grafis menjadi lebih keren dan enak dilihat. Salam desain dan jangan takut berkarya! (*) Editor : Jawanto Arifin