Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dicampakkan Mertua Matre hingga Akhir Hayat

Arif Mashudi • Sabtu, 27 Desember 2025 | 18:00 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

SONI (nama samaran), 44, pria asal Kota Probolinggo ini terbilang miliki paras wajah ganteng. Sayangnya, kehidupan bahagia bersama keluarga istri dan anaknya, tak dapat dirasakan hingga akhir hayat. Semua itu, karena si mertuanya yang memandang semua hanya dari segi materi.

Sekitar 14 tahun lalu, Soni menikah dengan wanita yang diidamkan, sebut saja Putri (nama samaran). Awal pernikahan, Soni tampak bahagia bersama istrinya hingga memiliki satu anak.

Untuk menghidupi keluarga kecilnya, Soni merantau ke Kalimantan. Soni merantau karena dia punya cita-cita untuk membahagiakan istri dan anaknya. Meski dia harus hidup terpisah dan biasanya pulang hanya ketika hari raya.

Di pulau Borneo, Soni membuka usaha yang bisa dibilang sukses. Soni selalu bertanggung jawab akan nafkah. Segala kebutuhan istri dan anaknya, selalu dipenuhi. Termasuk memberikan uang untuk keluarga istrinya yang ada di Probolinggo.

Namun pengorbanan Soni ternyata harus mengalami getir. Si mertua ternyata menerima Soni sebagai menantunya hanya selama kiriman uang bulanan dari Kalimantan lancar.

Saat usaha Soni di Kalimantan tak lancar, akhirnya kiriman uang bulanan ke mertuanya tak bisa berlanjut. Sejak itu pula, mertuanya tak lagi menganggap Soni sebagai menantunya. Bahkan sering ada upaya dari mertuanya, supaya Putri berpisah dengan Soni.

”Jadi Soni itu dianggap mantu, kalau kebutuhan mertuanya terpenuhi. Saat usaha Soni jatuh, mertuanya berubah 180 derajat. Sampai meminta anaknya Putri berpisah dengan Soni,” kata Hendrik (nama samaran), saudara Soni, yang mengetahui betul kehidupan Soni.

Karena persaingan, usaha Soni di Kalimantan yang bergerak di bidang jasa dan pedagangan, perlahan tergoncang. Hendrik menceritakan, akibat usahanya tidak lagi sukses di Kalimantan, akhirnya Soni memilih untuk pulang kampung.

Soni kembali ke Probolinggo dengan harapan dia akan bekerja seadanya. Apa pun itu walaupun harus bekerja serabutan. Semenjak itulah ekonomi Soni yang kembang-kempis ikut mempengaruhi kondisi keluarga kecilnya.

Hendrik masih ingat, saat Soni tak memiliki uang, sang mertua dengan tega mencampakannya.

“Yang dibilang mantu tidak berguna lah! Mantu yang cuma menumpang hidup lah. Bikin nyelekit di hati,” kata Hendrik.

Berkali-kali sang mertua meminta Soni berpisah dengan Putri. Lama-kelamaan, Putri pun akhirnya terhasut. Hingga akhirnya, Soni pun bercerai dengan Putri karena desakan dari mertuanya.

Mirisnya, mertua Soni, melarang menemui anak perempuannya. Padahal saat perceraian terjadi, pengadilan memutuskan Soni boleh menemui anaknya kapan pun.

Kondisi itu membuat Soni drop. Perlahan Soni kerap alami sakit-sakitan. Hendrik juga ingat, pada akhirnya Soni meninggal dunia dalam kondisi sengsara.

Nah, hingga Soni meninggal, Hendrik juga tak habis pikir. Saat keluarga Putri dikabari, anak Soni tidak boleh datang ke rumah duka untuk melihat jenazah Soni yang terakhir kalinya. ”Sampai dua kali dijemput anak Soni, tapi tidak diperbolehkan oleh mertuanya,” ujarnya.

Namun Hendrik melihat Soni adalah orang yang tabah. Saat Soni bercerai dengan Putri, lanjut Hendri, rasa sakit hati atau benci Soni pada mertuanya tidak ada sama sekali. Soni menerima dengan ikhlas atas ketetapan takdir Allah.

Hingga meninggal, Soni tidak menikah lagi. Hidup di rumahnya pun mandiri, semua dikerjakan sendiri.

”Saya salut dengan jiwa ikhlas dan suka membantu Soni, yang jarang ada. Sudah tahu diperlakukan seperti itu oleh mertuanya, tapi tetap ikhlas dan menerima,” ujarnya. (mas/fun)

Editor : Abdul Wahid
#mertua #matrealistis