ANJELO merupakan sebutan bagi penyedia jasa pengantar dan pencari pemandu karaoke di tempat-tempat hiburan ataupun wanita kupu-kupu malam. Pekerjaan inilah yang digeluti, Risdi (bukan nama sebenarnya), 35. Sudah lima tahun ia bergelut di dunia ini.
“Karena pekerjaan ini, saya jadi tahu dimana tempat kos-kos atau bahkan rumah mereka,” ungkap ayah dengan satu anak ini.
Anehnya, sang istri, Lina (nama samaran), 37, mengaku tak keberatan dengan pekerjaan suaminya tersebut. Lina mengatakan bahwa itu bukan pekerjaan utama Risdi, melainkan hanya sambilan. Sebab pekerjaan utama suaminnya adalah seorang pedagang di pasar.
Dari pagi hingga sore, Risdi berjualan. Malam harinya, baru Risdi nyabi jadi anjelo. “Hasil berdagang di pasar, ia berikan pada saya sebagai nafkah. Sementara hasil dari ngojek para wanita itu tidak pernah ia berikan pada saya. Dia habiskan sendiri untuk beli cemilan karena memang dia tidak merokok juga,” terang Lina.
Menurut Risdi, ia paham betul pekerjaan sambilannya itu sangat erat dengan perbuatan zina. Oleh sebab itu, ia tak mau hasil uang dari jadi anjelo dikonsumsi keluarganya.
“Saya tidak ingin anak saya kemasukan makanan dari hasil itu. Meski saya tidak turut berzina, hanya mengantar saja, tapi saya khawatir,” ujarnya.
Tapi untunglah, kini Risdi sudah keluar dari dunia itu. Kini dia full hanya bekerja sebagai pedagang.
Meski demikian, Risdi menceritakan beberapa pengalamannya ketika menjadi anjelo. Salah satunya mencarikan klien seorang aparatur pemerintahan. “Saya tak sengaja bertemu beliau. Kami saling lembar gurauan saat itu. Sampai akhirnya beliau bertanya pekerjaan saya. Ya saya jawab, jualan. Dia malah balik tanya, jualan apa itu? Saya jawab balik, lho Bapak carinya apa? Eh dia bilang cari perempuan, ya saya jawab ada,” kisahnya sambil tertawa.
Ternyata gurauan tak hanya berakhir di sana. Sang pejabat malah bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu. Ia memesan seorang wanita untuk menemaninya. Risdi pun mencarikannya.
Ada juga ketika Risdi dimintai tolong oleh aparat penegak hukum. Ceritanya mereka hendak meringkus bandar narkoba. Tapi caranya dengan menjebak bandar tersebut untuk check in ke hotel bersama wanita.
“Ya akhirnya saya carikan wanitanya dan mereka berhasil meringkus bandar tersebut,” terangnya.
Risdi mengaku, ketika menjalani anjelo, ia kerap mangkal di hotel kelas melati. Hotel yang menyediakan waktu jam-jaman untuk check in.
“Kadang ada bapak-bapak, yang dibawa masih anak-anak. Ada juga yang bahkan ke hotel itu pakai seragam. Ada yang SMP dan SMA. Kadang saya tanyai, kenapa berbuat demikian?” ungkapnya.
Beberapa mengaku karena desakan kebutuhan ekonomi. Namun ada juga yang hanya ingin beli handphone bagus seperti teman-teman seusianya.
“Padahal cuma untuk beli HP, dia sampai harus jual diri. Mana masih pakai baju seragam. Saya jadi ingat anak saya. Menangis saya dan pulang saat itu juga. Sampai di rumah saya tanya anak saya kemana? Istri saya jawab ada masih tidur,” terangnya.
Selain ditanyai, ada juga beberapa yang Risdi buntuti dari belakang. “Ternyata cewek itu turun di sebuah indekos. Akhirnya saya sapa, enak pamit ke orangtuanya belajar, ternyata masuk hotel. Setelah itu saya tinggal. Dia hanya bisa melongo liat perilaku saya itu,” ungkapnya.
Di sisi lain, ada juga beberapa perempuan langganan ojeknya menelpon Risdi. Mereka menawarkan jasanya untuk dicarikan tamu.
“Biasanya mereka telpon untuk minta tolong dicarikan tamu, karena sudah tidak punya uang untuk keperluan sehari-hari,” katanya.
Ada juga kisah seorang sales yang tertipu ketika check in dengan seorang wanita. Setelah berbuat mesum, si sales ditinggalkan tertidur pulas di kamar hotel. Sementara si perempuan sudah pergi membawa tas seisinya milik si sales.
“Jadi, pagi-pagi sales itu bangung, ia kebingunan mencari tasnya dan perempuan yang dibawanya. Ia mengaku bertemu perempuan itu di pinggir jalan dan dibawalah check in. Sementara di dalam tas tersebut ada uang senilai Rp 10 juta. Dia bingung harus bilang apa pada sang istri ketika pulang, sebab katanya uang itu untuk modal usaha jualan semangka. Kini malah hilang dibawa gundik,” terangnya sambil tersenyum tipis.
Untunglah kini Risdi sudah tidak hidup di dunia seperti itu. Tapi menurutnya, pernah berkecimpung di dunia tersebut membawa sejuta pengalaman. Terutama mengetahui lebih dekat terkait dunia malam. Apa-apa yang menjadi alasan para pekerjanya. Berjuta cerita pekerja malam ia dapati. (gus/fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni