Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sopir yang Tak Pernah Absen Salat Berjamaah

Jawanto Arifin • Sabtu, 19 November 2022 | 20:33 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi
BEKERJA menjadi sopir tentu lebih sering menghabiskan waktu di jalan. Tapi sebagai seorang muslim, AS, 63, tak pernah meninggalkan yang namanya salat. Karena salat menjadi tiang agama. Keistiqomahan AS dalam menjaga salat lima waktu juga layak diacungi jempol. Sebab warga Kota Probolinggo itu, sebisa mungkin melakukannya dengan berjamaah.

Pekerjaan apapun sejatinya bukan menjadi alasan untuk tetap menjaga ibadah. Apalagi kewajiban salat lima waktu. Seperti halnya yang dijalani AS. Sopir truk perusahaan swasta di Kota Probolinggo itu, sudah belasan tahun istiqomah salat lima waktu dengan berjamaah di masjid atau musala. Meskipun dia harus bepergian sampai luar kota.

AS, dulunya sopir pribadi pemilik perusahaan otobus di Kota Probolinggo. Hingga akhirnya tahun 1993, AS memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai sopir pribadi.

Dari situ, AS sempat menjadi sopir travel. Kemudian, tahun 1998 lalu, AS pun bekerja di perusahaan swasta sebagai sopir truk.

Beberapa tahun menjadi sopir truk, AS tentu saja kerap mendapatkan tugas keliling luar kota. Dalam sepekan, dia bisa dua kali keliling luar kota untuk mengantarkan barang pabrik tersebut.

Jadwal keliling luar kota pertama, wilayah selatan Jember dan bermalam sehari. Keesokannya pulang lewat jalur arah Banyuwangi. Jadwal keliling kedua, kebalikannya. AS ke arah timur wilayah Situbondo lebih dulu dan lanjut ke Bondowoso dan Jember. Itu pun dijalani sama selama dua hari.

”Saya keliling luar kota itu dua kali dalam seminggu. Karena tiap keliling luar kota bermalam, jadi total empat hari saya keliling luar kota dalam seminggu. Itu hampir rutin dilakukan,” katanya.



AS yang sudah memiliki 6 cucu mengaku, dirinya teringat dengan pesan orang tuanya. Sejak kecil dia diminta untuk menjaga salat lima waktu. Bahkan, orang tuanya mengingatkan dan menasihati, jangan pernah menunda-nunda untuk salat lima waktu. Apapun kesibukan dan pekerjaannya, jangan menunda untuk salat lima waktu.

”Bapak saya itu mengingatkan, jangan pernah tinggalkan salat lima waktu. Usahakan salat lima waktu di awal waktu,” ingatnya.

Dari situ, diakui AS, dirinya yang bekerja sebagai sopir merasa harus bisa menjaga salat lima waktu. Tantangannya memang berat untuk dipraktikkan. Apalagi bagi AS yang tentu saja lebih banyak di jalan.

Tapi justru inilah yang memotivasi AS. Karena dirinya sebagai sopir, dia justru merasa bisa berhenti kapan saja dan di mana saja, untuk salat lima waktu. Dan hingga kini, dirinya selalu sempatkan berhenti di masjid atau musala saat sudah mendengar azan atau sudah masuk waktunya salat.

Ternyata, kebiasaan itu dijalani membuat dirinya nyaman dan selalu tepat waktu. Bahkan, dirinya hafal masjid atau musala mana yang bisa didatangi saat waktu salat dhuhur, ashar, magrib ataupun isya.

”Kalau subuh, biasa jamaah di masjid dekat penginapan,” ujarnya.

AS pun merasa bersyukur, karena dirinya bisa istiqomah untuk salat berjamaah lima waktu tersebut. Bahkan hingga saat ini. Meskipun tidak sedang bekerja keliling luar kota, dirinya bisa salat jamaah tiap lima waktunya.



Selain disiplin, AS mengaku, di awal-awal bekerja, dia memang sempat merasa khawatir. Apalagi tempatnya bekerja, tentu harus berkutat dengan waktu. Sopir dituntut lebih cepat agar barang bisa segera diterima.

Tetapi dirinya selalu minta izin pada atasannya, jika sudah masuk waktu salat, untuk pergi ke masjid atau musala. Termasuk waktu istirahat. ”Saat itu saya sudah siap konsekuensi diberhentikan. Ini jika memang saya izin istirahat salat berjamaah pas waktunya azan. Tapi alhamdulillah, atasan saya tidak pernah melarang itu,” terangnya.

Baginya, apa yang dijalani dan dialami suatu nikmat luar biasa. Dirinya sangat bersyukur bisa pensiun dari tempat kerjaannya dengan cara baik-baik. Dia berpikir, keberkahan salat berjamaah sangat dirasakan. Seperti halnya dirinya sudah menunaikan ibadah umrah dua kali. Semua itu, tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Tetapi, ternyata Allah takdirkan dirinya untuk bisa umrah.

”Kalau dipikir logika, sopir seperti saya tidak ada pikiran bisa umrah. Tapi ternyata Allah berikan jalan yang tak pernah diduga, sampai bisa umrah dua kali. Alhamdulillah juga sudah daftar haji. Tinggal menunggu antrean pemberangkatan. Semoga diparingi umur berkah dan panjang. Sehingga, bisa sampai menunaikan ibadah haji yang sangat saya inginkan,” ungkapnya. (mas/fun) Editor : Jawanto Arifin
#salat berjamaah #sopir #salat lima waktu