Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Maling yang Tobat Usai Menikah

F
Penulis: Fuad Alyzen❯
ILUSTRASI
ILUSTRASI

Advertisement

 

Kehilangan sosok ibu saat masih duduk di bangku sekolah dasar menjadi salah satu babak paling berat dalam hidup Mil (nama samaran), 32. Warga Kabupaten Probolinggo itu harus menjalani masa kecil tanpa kasih sayang seorang ibu. Di usia ketika anak-anak lain masih bisa menikmati perhatian dan kebutuhan dari orang tua secara utuh, Mil justru harus belajar menjalani hidup dengan segala keterbatasan.

 SEPENINGGAL ibunya, kehidupan Mil tak berjalan mudah. Sang ayah kemudian menikah lagi. Sementara itu, Mil tinggal di rumah peninggalan ibunya bersama sang adik. Kesehariannya dia tinggal bersama nenek, tepatnya adik dari nenek kandungnya.

Advertisement

Nenek kandungnya sudah lama meninggal. Sementara nenek yang tinggal bersama Mil kondisinya sudah menua. Kehidupan keluarga yang tak lagi utuh membuat Mil tumbuh dengan keadaan yang jauh dari kata berkecukupan.

Bukan hanya kehilangan tempat bercerita, Mil juga mengaku tak pernah mendapatkan uang saku sejak kecil. Untuk kebutuhan sederhana yang mungkin dianggap biasa oleh anak-anak seusianya, ia tak selalu bisa merasakannya. Kondisi itu perlahan membentuk kesehariannya. Ada kebutuhan, ada keinginan, tetapi tak ada uang di tangan untuk memenuhinya.

Di usia yang masih belia, Mil belum sepenuhnya memahami bagaimana menghadapi keadaan tersebut. Ia hanya menjalani hari-harinya dengan lingkungan yang ada di sekelilingnya. Sayangnya, lingkungan itu justru membawanya semakin jauh dari jalan yang benar.

Advertisement

Teman sepergaulan Mil saat itu bukanlah anak-anak yang terbiasa melakukan hal positif. Sebagian besar justru dikenal nakal dan terlibat aksi pencurian, minum miras dan mengkonsumsi baranf haram. Hampir setiap hari, Mil berinteraksi dengan mereka. Apa yang semula hanya dilihatnya dari kejauhan, lambat laun mulai dianggap biasa.

“Awalnya saya hanya ikut bergaul. Namun, pergaulan yang terus-menerus dengan teman-teman yang salah membuat batas antara benar dan salah semakin kabur,” kata Mil yang mengaku ikut terjerumus dalam aksi pencurian. Dari situlah perjalanan kelamnya dimulai.

Bagi Mil, uang hasil mencuri memberikan sesuatu yang selama ini sulit didapatkannya. Ia bisa memegang uang sendiri, membeli sesuatu, dan memenuhi keinginan yang sebelumnya hanya bisa dipendam. Sayangnya, uang yang didapat dengan cara mudah itu justru menumbuhkan keinginan untuk mengulanginya.

Sekali berhasil, ia tergoda untuk melakukannya lagi. Begitu seterusnya. Kebiasaan yang awalnya mungkin dianggap sebagai jalan pintas untuk mendapatkan uang, perlahan berubah menjadi bagian dari kehidupannya.

Advertisement
Editor : Fandi Armanto

Artikel Terkait

Perempuan yang Menunda Menikah Demi Dua Adiknya

Perempuan yang Menunda Menikah Demi Dua Adiknya

Sang Bapak bekerja sebagai kuli bangunan. Sementara ibunya hanya ibu rumah tangga yang terkadang juga menjadi buruh rumah tangga seperti men

Tidur Pulas, Motor Vario Warga Nguling Pasuruan Amblas Digondol Maling

Tidur Pulas, Motor Vario Warga Nguling Pasuruan Amblas Digondol Maling

Proses penyelidikan masih berjalan. Polisi mengumpulkan keterangan dari korban dan saksi untuk menelusuri pelaku.

Sembunyi di Rumah Istri Siri, Buron Curanmor asal Malang ini Diringkus Polisi

Sembunyi di Rumah Istri Siri, Buron Curanmor asal Malang ini Diringkus Polisi

Ruang geraknya terendus polisi, saat ia bersembunyi di rumah istri sirinya, yang berlokasi di Dusun Wunut, Desa Sumberejo, Kecamatan Pandaan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer