
SURAT tagihan dari debt collector yang menumpuk di meja kontrakan membuat iman Joko (nama samaran), goyah. Gaji pas-pasan sebagai penjaga toko kelontong rasanya cuma numpang lewat. Puncak kekesalannya terjadi saat pria 32 tahun itu mau beli gorengan, tapi uang di dompet cuma cukup buat bayar kantong plastik.
Di tengah keputusasaan, ia tak sengaja membuka sosial media tengah malam dan menemukan jalan pintas sesat: Pesugihan Instan Tanpa Tumbal Nyawa, Cukup Modal Niat dan Nyali.
Joko yang sudah kadung puyeng karena selalu ditagih hutang, tergiur. Singkat cerita, Joko tergiur untuk pergi ke dukun kenalan temannya, sebut saja namanya Ki Geni, di daerah Malang Selatan. Jaraknya tentu lebih dari 100 kilometer dari rumahnya.
Dia nekat nekat berangkat sendirian dengan mengendarai motor dari rumahnya yang berada di Lumbang, Pasuruan, ke sebuah tempa yang wingit.
“Berada dekat makam keramat di lereng bukit yang kesan angkernya sangat terlihat dari sejak awal saya pergi ke sana,” kata Joko mengingat.
Malam itu, angin bertiup kencang. Bau kemenyan pekat bercampur aroma kopi tubruk. Dia langsung menuju sebuah rumah yang ternyata cukup dikenal masyarakat sekitar. Rumah yang begitu jauh dari pemukiman. Di situlah Ki Geni tinggal.
"Kalau kau serius ingin kaya, kau harus jalani syarat terakhir," bisik dukun dengan suara bariton menyeramkan sembari menunjuk sebuah kendi tanah liat.
"Masukkan tanganmu ke dalam kendi ini, ambil segenggam tanah kuburan keramat, lalu bawa pulang tanpa menoleh ke belakang!"
Joko menelan ludah. Kakinya gemetar hebat. “Wah, beneran horor nih,” batinnya mulai ciut.



