28.7 C
Probolinggo
Monday, February 6, 2023

Sebulan Makan Mi Instan setelah Kalah Taruhan

AJANG World Cup tak hanya sekadar menjadi hiburan. Turnamen empat tahunan ini juga kerap dijadikan momen untuk bertaruh. Banyak dari mereka memanfaatkan momen ini untuk beradu nasib. Menang banyak supaya bisa foya-foya. Tapi tak sedikit pula yang jatuh miskin karena kalah taruhan.

“Kalau tak masang, rasa-rasanya menonton pertandingan sepak bola itu hambar. Tapi, kalau masang, ada seninya. Agak ndredeg gimana gitu,” kata Rifai (nama samaran), 34.

Pria yang seharinya karyawan perusahaan swasta di Pasuruan itu, memang gemar akan judi bola. Jauh sebelum judi online mewabah seperti sekarang, Rifai sudah hafal betul akan situs-situs taruhan. Mulai Asia, Eropa, hingga Amerika.

Kalah maupun menang adalah hal biasa baginya. Tapi, jika dihitung-hitung, Rifai lebih sering menang. Katanya, taruhan bola adalah mainannya sejak dia masih SD. Entah itu bersama teman sekelas, tetangga, maupun saudara.

Baca Juga:  Jiwa Ibu yang Terbebani saat Anak Diadopsi Orang

“Dulu waktu sekolah, uang saku yang dipakai. Skalanya kecil. Yang kalah, nraktir di kantin,” katanya.

Hingga dia belajar dan fasih setelah warung internet menjamur. Hampir tiap malam, hari-harinya diisi dengan duduk di warnet sembari memasang taruhan. Liga-liga di Eropa adalah favoritnya.

Bahkan “hobi” taruhan inilah yang membuatnya nyaris jadi mahasiswa abadi. “Dulu kiriman orang tua banyak. Aku tak suka minum, apalagi narkoba. Tetapi, aku begitu suka taruhan,” beber Rifai.

Sebagai pejudi, Rifai mengaku pernah menghabiskan uang hingga Rp 50 juta dalam semalam. Tetapi, dia juga pernah menang hingga seperempat miliar. Dia pun kerap jalan-jalan keluar negeri, bahkan membeli mobil dari hasil taruhan itu.

Baca Juga:  Menderitanya saat Istri Selingkuh dengan Kades meski Sudah Punya Empat Anak

AJANG World Cup tak hanya sekadar menjadi hiburan. Turnamen empat tahunan ini juga kerap dijadikan momen untuk bertaruh. Banyak dari mereka memanfaatkan momen ini untuk beradu nasib. Menang banyak supaya bisa foya-foya. Tapi tak sedikit pula yang jatuh miskin karena kalah taruhan.

“Kalau tak masang, rasa-rasanya menonton pertandingan sepak bola itu hambar. Tapi, kalau masang, ada seninya. Agak ndredeg gimana gitu,” kata Rifai (nama samaran), 34.

Pria yang seharinya karyawan perusahaan swasta di Pasuruan itu, memang gemar akan judi bola. Jauh sebelum judi online mewabah seperti sekarang, Rifai sudah hafal betul akan situs-situs taruhan. Mulai Asia, Eropa, hingga Amerika.

Kalah maupun menang adalah hal biasa baginya. Tapi, jika dihitung-hitung, Rifai lebih sering menang. Katanya, taruhan bola adalah mainannya sejak dia masih SD. Entah itu bersama teman sekelas, tetangga, maupun saudara.

Baca Juga:  Cerita Dua Mantan Maling Sebelum Tobat

“Dulu waktu sekolah, uang saku yang dipakai. Skalanya kecil. Yang kalah, nraktir di kantin,” katanya.

Hingga dia belajar dan fasih setelah warung internet menjamur. Hampir tiap malam, hari-harinya diisi dengan duduk di warnet sembari memasang taruhan. Liga-liga di Eropa adalah favoritnya.

Bahkan “hobi” taruhan inilah yang membuatnya nyaris jadi mahasiswa abadi. “Dulu kiriman orang tua banyak. Aku tak suka minum, apalagi narkoba. Tetapi, aku begitu suka taruhan,” beber Rifai.

Sebagai pejudi, Rifai mengaku pernah menghabiskan uang hingga Rp 50 juta dalam semalam. Tetapi, dia juga pernah menang hingga seperempat miliar. Dia pun kerap jalan-jalan keluar negeri, bahkan membeli mobil dari hasil taruhan itu.

Baca Juga:  Pasutri Ini Kompak Bertugas di Kamar Mayat RSUD dr Moh Saleh

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru