28.7 C
Probolinggo
Monday, February 6, 2023

Mencoba Bangkit setelah Terpuruk karena Gagal Nyaleg

SUDAH menjadi rahasia umum, menjadi wakil rakyat butuh modal besar. Itu pun tak akan menjamin seseorang bisa duduk di parlemen. Pengalaman Atiq Ali Rahbini, adalah salah satunya. Bahkan setelah nyaleg, dia sempat terpuruk.

Pengalaman itu Atiq alami saat dia mengikuti kontestasi politik, tepatnya di pemilihan legislatif (pileg) tahun 2014 lalu. Pengalaman itulah yang mengantarkan Atiq ke lembah kehidupan. Betapa tidak, dia menghabiskan biaya hampir Rp 1 miliar, tapi duit sebesar itu tetap gagal mengantarkannya duduk di kursi legislatif.

Kehidupannya sempat semakin terpuruk, seiring ekonominya merosot pasca pileg 8 tahun lalu. Seiring waktu berjalan setelah beberapa tahun berusaha bangkit, Atiq harus memulai perjalanan kehidupannya. Meski harus dari nol lagi.

Baca Juga:  Dua Pekan, Bawaslu Temukan Lima Pelanggaran Kampanye

Atiq mengaku, dia memulai karir kehidupannya sebagai jurnalis. Seiring waktu berjalan, dia membuka usaha mebeler. Usaha mebelnya terus berkembang. Hingga akhirnya, sebelum pileg 2014, dirinya mendapatkan tantangan saat itu. Dirinya ditantang untuk maju di pileg.

”Saya sebenarnya waktu itu jadi penumpang, karena bukan kader partai. Hanya saja, saya sebagai jurnalis tergerak saat diberi tantangan untuk bertarung di pileg,” katanya.

Mendapatkan tantangan itu, diakui Atiq, dia tertarik. Apalagi jiwa muda dan sebagai jurnalis, dia ingin membuktikan bahwa dia bisa. Kebetulan, dirinya miliki usaha yang dirasa cukup untuk menjadi modal. Ditambah ada gerbong partai politik (parpol) yang siap menampung. Akhirnya, dirinya pun memutuskan untuk terjun di politik dan maju dalam pileg 2014.

Baca Juga:  Pesan PSK di Aplikasi Malah Di-Prank

”Tapi ternyata, politik praktis tidak seperti tataran ideal pada teori. Masyarakat kita cenderung pada praktis dan pragmatis,” ujar pria yang sering menetap di Desa Seboro, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo itu.

SUDAH menjadi rahasia umum, menjadi wakil rakyat butuh modal besar. Itu pun tak akan menjamin seseorang bisa duduk di parlemen. Pengalaman Atiq Ali Rahbini, adalah salah satunya. Bahkan setelah nyaleg, dia sempat terpuruk.

Pengalaman itu Atiq alami saat dia mengikuti kontestasi politik, tepatnya di pemilihan legislatif (pileg) tahun 2014 lalu. Pengalaman itulah yang mengantarkan Atiq ke lembah kehidupan. Betapa tidak, dia menghabiskan biaya hampir Rp 1 miliar, tapi duit sebesar itu tetap gagal mengantarkannya duduk di kursi legislatif.

Kehidupannya sempat semakin terpuruk, seiring ekonominya merosot pasca pileg 8 tahun lalu. Seiring waktu berjalan setelah beberapa tahun berusaha bangkit, Atiq harus memulai perjalanan kehidupannya. Meski harus dari nol lagi.

Baca Juga:  Mbah Buyut Pejuang Veteran yang Pernah Jadi Mata-mata Cilik

Atiq mengaku, dia memulai karir kehidupannya sebagai jurnalis. Seiring waktu berjalan, dia membuka usaha mebeler. Usaha mebelnya terus berkembang. Hingga akhirnya, sebelum pileg 2014, dirinya mendapatkan tantangan saat itu. Dirinya ditantang untuk maju di pileg.

”Saya sebenarnya waktu itu jadi penumpang, karena bukan kader partai. Hanya saja, saya sebagai jurnalis tergerak saat diberi tantangan untuk bertarung di pileg,” katanya.

Mendapatkan tantangan itu, diakui Atiq, dia tertarik. Apalagi jiwa muda dan sebagai jurnalis, dia ingin membuktikan bahwa dia bisa. Kebetulan, dirinya miliki usaha yang dirasa cukup untuk menjadi modal. Ditambah ada gerbong partai politik (parpol) yang siap menampung. Akhirnya, dirinya pun memutuskan untuk terjun di politik dan maju dalam pileg 2014.

Baca Juga:  Pesan PSK di Aplikasi Malah Di-Prank

”Tapi ternyata, politik praktis tidak seperti tataran ideal pada teori. Masyarakat kita cenderung pada praktis dan pragmatis,” ujar pria yang sering menetap di Desa Seboro, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru