27 C
Probolinggo
Saturday, March 25, 2023

Rela Makan Sehari Sekali demi Cita-Cita Jadi Dokter

Menjadi dokter itu sulit. Ada anekdot, jika bukan karena sang ayah dokter dan punya rumah sakit, minimal harus punya banyak uang. Kalau beruntung dapat beasiswa. Ini pula yang dirasakan drg Dian Meiria. Dia berjuang keras untuk mewujudkan cita-citanya itu. Sekalipun harus makan sehari sekali.

——————————————————————————————————

BIAYA pendidikan kedokteran memang tidak murah. “Tapi jika ada niat dan keinginan sungguh-sungguh, bisa diwujudkan,” kata Dian Meiria.

Sebelum menjadi dokter, dia lima tahun menempuh sekolah kedokteran di Universitas Airlangga Surabaya. Orang tuanya bukan dari keluarga kaya. Ayahnya, Hayat hanyalah karyawan perusahaan sementara ibunya. Sementara Tri Elia bekerja sebagai guru SD.

Sejak masih duduk di bangku SMA, dia sudah memiliki keinginan menjadi dokter. Dia ingin bisa menyembuhkan sakit yang dialami oleh orang lain. Bak gayung bersambut, kedua orang tuanya mendukung keinginannya itu.

Baca Juga:  Berhenti Suka Sesama Jenis saat Punya Anak

Sebelum kuliah, dia menempuh pendidikan menengahnya di SMA Taruna Leces, Kabupaten Probolinggo. Saat duduk di bangku kelas 3, mayoritas temannya memilih Universitas Gajah Mada (UGM) Yogya. Namun, ia memilih Unair dengan pilihan pertama, kedokteran umum dan kedokteran gigi sebagai pilihan kedua.

“Saya memilih Unair karena tidak jauh dari rumah di Kota Probolinggo. Waktu itu saya ikut jalur reguler melalui seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Sebab jalur mandiri mahal, sudah ratusan juta,” ungkapnya.

Ternyata dia lulus di pilihan kedua pada 2006 silam. Karena keterima di jalur reguler, ia harus membayar uang gedung sebesar Rp 3,8 juta dan uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) Rp 700 ribu tiap semesternya.

Baca Juga:  Jakaria Pernah Sekolah Nyambi Tukang Angkut Sampah, Kini Jadi Marinir

Menjadi dokter itu sulit. Ada anekdot, jika bukan karena sang ayah dokter dan punya rumah sakit, minimal harus punya banyak uang. Kalau beruntung dapat beasiswa. Ini pula yang dirasakan drg Dian Meiria. Dia berjuang keras untuk mewujudkan cita-citanya itu. Sekalipun harus makan sehari sekali.

——————————————————————————————————

BIAYA pendidikan kedokteran memang tidak murah. “Tapi jika ada niat dan keinginan sungguh-sungguh, bisa diwujudkan,” kata Dian Meiria.

Sebelum menjadi dokter, dia lima tahun menempuh sekolah kedokteran di Universitas Airlangga Surabaya. Orang tuanya bukan dari keluarga kaya. Ayahnya, Hayat hanyalah karyawan perusahaan sementara ibunya. Sementara Tri Elia bekerja sebagai guru SD.

Sejak masih duduk di bangku SMA, dia sudah memiliki keinginan menjadi dokter. Dia ingin bisa menyembuhkan sakit yang dialami oleh orang lain. Bak gayung bersambut, kedua orang tuanya mendukung keinginannya itu.

Baca Juga:  Cerita Dua Mantan Maling Sebelum Tobat

Sebelum kuliah, dia menempuh pendidikan menengahnya di SMA Taruna Leces, Kabupaten Probolinggo. Saat duduk di bangku kelas 3, mayoritas temannya memilih Universitas Gajah Mada (UGM) Yogya. Namun, ia memilih Unair dengan pilihan pertama, kedokteran umum dan kedokteran gigi sebagai pilihan kedua.

“Saya memilih Unair karena tidak jauh dari rumah di Kota Probolinggo. Waktu itu saya ikut jalur reguler melalui seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Sebab jalur mandiri mahal, sudah ratusan juta,” ungkapnya.

Ternyata dia lulus di pilihan kedua pada 2006 silam. Karena keterima di jalur reguler, ia harus membayar uang gedung sebesar Rp 3,8 juta dan uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) Rp 700 ribu tiap semesternya.

Baca Juga:  Jangan Pernah Terpuruk dengan Keadaan, Selalu Percaya Kekuatan Doa

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru