MENJELANG Lebaran, permintaan uang baru di masyarakat seringkali meningkat dari tahun ke tahun.
Salah satu sebabnya, karena tradisi memberi uang kepada keluarga, teman, dan kerabat saat Lebaran atau angpao.
Meningkatnya permintaan uang baru itu menimbulkan masalah tersendiri bagi bank dan lembaga keuangan lainnya.
Mereka harus memastikan ketersediaan uang baru tercukupi untuk memenuhi permintaan masyarakat.
Di lain sisi juga menjaga kelancaran operasional dalam menghadapi lonjakan permintaan.
Kepala KPw BI Malang, Febrina mengatakan, untuk Lebaran 2024 pihaknya menyiapkan uang Rp 4,69 Triliun.
Jumlah tersebut meningkat sebesar 1,7 persen dibandingkan Lebaran tahun lalu yang sebesar Rp 4,61 Triliun.
Uang Lebaran ini terdiri dari dua jenis. Yaitu, Uang Pecahan Besar (UPB) dan Uang Pecahan Kecil (UPK).
“Khusus untuk UPK kami siapkan semuanya uang baru. Namun, untuk UPB menggunakan campuran Uang Layak Edar eks peredaran (ULE) dan uang baru. Sebab tidak semua bank membutuhkan UPB dalam kondisi baru,” katanya.
ULE sendiri sejatinya merupakan uang yang dalam pandangan KPw BI Malang masih layak digunakan dalam transaksi. Karena memiliki tingkat kelusuhan (soil level) di atas 8 dari sekala 16.
“Makin tinggi soil levelnya, menunjukkan semakin bagus kondisi uangnya,” tutur Febrina.
Peningkatan uang kartal ketika Lebaran menurut Febrina, merupakan hal yang rutin terjadi setiap tahun akibat terjadinya peningkatan aktivitas ekonomi di periode tersebut. Selain didorong oleh tradisi masyarakat untuk berbagi.
Setelah Lebaran, uang-uang tersebut akan kembali masuk ke perbankan dan berujung di Bank Indonesia. Dan ini terjadi secara alamiah.
Terhadap uang yang masuk tersebut, Bank Indonesia akan melakukan pengolahan untuk memisahkan uang yang masih layak edar (ULE) dan uang yang tidak layak edar (UTLE).
“ULE akan disimpan dan diedarkan kembali. Sementara UTLE akan dihancurkan dengan tujuan agar uang yang beredar di masyarakat tetap dalam kondisi yang baik atau layak edar,” jelas Febrina. (gus/hn)
Editor : Jawanto Arifin