alexametrics
26.9 C
Probolinggo
Wednesday, 18 May 2022

Wawancara dengan Bupati Probolinggo Setahun Memimpin di Periode Kedua

DILANTIK pada 24 September 2018, saat ini pemerintahan Bupati Hj. P. Tantriana Sari dan Wabup Timbul Prihanjoko sudah mencapai satu tahun. Selama satu tahun memimpin Kabupaten Probolinggo di periode lima tahun kedua ini, Bupati menegaskan rasa syukurnya. Sebab, selama satu tahun pemerintahannya diberi kemudahan untuk mewujudkan visi dan misi mereka.

Semangat dan kinerja semua OPD, menurut Bupati, juga makin kompak. Sehingga, Pemkab Probolinggo terus bisa menjalankan pembangunan di semua sisi dengan lebih baik daripada sebelumnya. Urusan wajib seperti pendidikan, kesehatan, dan kemiskinan, terus menjadi prioritas. Sementara urusan lain yang notabene terus berkembang sesuai dengan relevansi yang ada, juga mendapat perhatian serius. Selain itu, pembangunan sumber daya manusia dan ekonomi untuk menjawab tantangan global pertumbuhan ekonomi, menjadi fokus selama empat tahun ke depan. Berikut wawancara Jawa Pos Radar Bromo dengan Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari tentang satu tahun pemerintahannya.

 

Secara umum bagaimana bupati melihat capaian pemerintahan selama satu tahun ini?

Bupati dalam satu periode, bekerja selama lima tahun. Tentunya seluruh program akan berkelanjutan sampai dengan lima tahun. Dalam kurun waktu selama satu tahun ini, tentu kita patut mengucapkan syukur. Bahwasanya apa yang kita rencanakan dan cita-citakan, sudah dalam proses. Untuk pembangunan desa misalnya, sudah banyak perkembangan yang secara kasat mata dan dirasakan masyarakat langsung. Dan itu layak diapresiasi.

Pada intinya, bersyukur itu. Karena setahun ini diberi kemudahan. Dan saya melihat, semangat OPD dan kekompakan OPD, lebih terasa dibanding lima tahun sebelumnya. Mungkin selama lima tahun sebelumnya banyak belajar dari keberhasilan, dari karakter masing-masing, sehingga perfomance-nya hari ini lebih bagus.

 

Selama setahun pertama di periode kedua ini, apakah sekadar melanjutkan program periode lalu? Bagaimana dengan fokus untuk menjawab tantangan ke depan?

Perjalanan lima tahun sebelumnya, kita jadikan intisari. Napasnya sama, semangatnya sama. Tapi, di lima tahun kedua ini, kita improvisasi. Belajar dari lima tahun sebelumnya, pasti ada sesuatu yang sudah tidak relevan dilakukan. Begitu juga, tentunya masih ada yang sangat relevan dilakukan. Improvisasi, kreativitas, dan inovasi ini terus kita dorong, bahkan di tahun pertama ini. Napasnya sama, tujuannya sama, tapi caranya menuju ke sana yang berbeda. Artinya, apa yang berubah dan tidak relevan, terus kita update. Disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan yang ada.

 

Selain masalah wajib, ada hal-hal yang selama beberapa tahun ini menjadi fokus baru, bahkan secara nasional. Contohnya perkembangan ekonomi kreatif. Bagaimana cara menyikapinya?

Kami ingin ekonomi kreatif ini menjadi salah satu fondasi ekonomi yang imbasnya pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kita lihat saat ini ada resesi dan perlambatan ekonomi hampir di semua negara. Kalau tidak kita sikapi mulai hari ini, pasti tidak hanya nunggu dua atau tiga tahun. Hari ini pun, pasti kita hanya jadi penonton. Dengan menyikapi tantangan itu, saya pikir ekonomi kreatif menjadi salah satu harapan besar untuk jadi fondasi.

Ekonomi kreatif ini akan kita mulai di tahun 2019 ini. Dan Alhamdulillah juga, sudah disahkan UU berkaitan dengan ekonomi kreatif. Ini memberikan semangat pada pemerintah daerah juga untuk memberikan perhatian dan anggaran yang layak bagi pembangunan ekonomi kreatif.

Tahun ini telah kita mulai Desa Kreatif. Pemkab bersama pemerintah desa memotret potensi desa seperti apa. Dengan kebudayaan lokal dan sumber daya lokal, kita angkat agar menjadi usaha bagi desa itu. Seluruh potensi desa, tidak melulu pariwisata.

Di proyek awal ini, kita menetapkan 20 desa sebagai desa kreatif. Sektornya memang di pariwisata. Kita pilih pariwisata dengan memanfaatkan Bromo sebagai trigger untuk ekonomi kreatif ini. Karena ini pilot project ya. Kalau memulai dari nol, effort-nya akan luar biasa. Sebanyak 20 desa ini kita create dulu di 2020. Insyaallah 6 bulan selesai. Kemudian kita replikasi di desa yang lain.

Bagaimana kalau sebuah desa tidak punya potensi wisata untuk diangkat? Bisa kita pakai yang lain. Contohnya di Gili Ketapang. Di Gili Ketapang ini ada sektor wisata, tapi ada juga masalah sampah yang belum terselesaikan. Sampah ini bisa diubah menjadi sesuatu yang berkah. Pendekatannya dengan pembangkit listrik tenaga sampah. Bisa juga dengan sampah, memperkuat sektor wisata. Misalnya di Bentar, dengan sampah kita buat ecobrick.

Yang terpenting mendorong masyarakat berpikir kritis. Karena desa kreatif itu, bukan pemerintah desanya. Tapi masyarakat desanya yang kita paksa untuk melakukan hal bagi desa.

 

Fokus nasional yang lain yaitu menjangkau generasi milenial. Bagaimana menjangkau generasi milenial dengan program ini?

Desa kreatif ini operatornya para anak muda, para milenial. Jadi, desa kreatif ini akan menjawab semua permasalahan jika berhasil. Kemiskinan, bonus demografi, anak muda usia produktif, termasuk teknologi digital dan lain sebagainya. Ekonomi kreatif itu bukan hanya pariwisata, IKM, dan UKM. Bisa aplikasi. Termasuk lima dan enam tahun terakhir ini, terus kita dorong agar OPD di pemerintah daerah berinovasi dalam bidang teknologi. Bagaimana memanfaatkan teknologi untuk memudahkan pekerjaan kita. OPD punya masalah apa, kita bayar orang untuk buat aplikasi. Ini juga salah satu penguatan ekonomi kreatif. IKM dan UKM juga kita minta punya market place. Saat ini orang banyak belanja di Tokopedia, kenapa kita tidak meniru. Pakai punya kita sendiri, market place sendiri.

 

Bagaimana menyamakan ritme kerja pemkab dengan kecamatan dan desa misalnya untuk mewujudkan semua program ini?

Kalau kecamatan masih bisa kita drive. Dengan desa, memang ini jadi tantangan sendiri. Kita akan terus mendorong. Misalnya sumber daya manusia kepala desa untuk juga mampu menyeimbangkan diri kecepatannya dengan pemkab. Apalagi kalau kita lihat undangundangnya sekarang, desa ini sudah jadi daerah otonomi sendiri. Kalau kepala desa tidak punya keinginan atau goodwill untuk membangun desanya ya susah. Tapi, tentunya dengan kekuatan kita dan pengawasan kita pada desa, bisa jadi pendorong pada desa untuk berbenah.

Tantangan kita semua dan kepala desa yaitu menyamakan langkah dan membentuk pola pikir yang sama. Hari ini kita patut syukuri, desa membangun sudah mendominasi di Kabupaten Probolinggo. Walaupun masih ada desa tertinggal.

Pekerjaan rumah bagi kita, ya menyamakan pola pikir. Kalau pola pikirnya sama, tantangan apapun harapan saya bisa dikomunikasikan. Pemerintah daerah berbuat apa dan desa berbuat apa, seiring. Sehingga, harapannya bisa meningkatkan derajat pembangunan.

 

Ada urusan wajib yang tidak bisa ditinggalkan, sementara tantangan ke depan juga bertambah?

Lima tahun terakhir ini kita sudah coba pilah dengan kehadiran dana desa. Apa sih kewajiban pemerintah daerah pada desa, apa pilihan pemerintah daerah untuk desa. Ini sudah kita petakan. Kewajiban pemerintah desa saat ini sudah banyak terfasilitasi sendiri oleh desa. Dari situ, peluang apa yang harus kita sentuh? Yang belum dilakukan oleh desa, kita masuk di situ. Dengan sistem ini, kita jauh mengurangi overlap di lapangan.

 

Selama ini Pemkab Probolinggo banyak melakukan pembangunan jalan, sementara pemerintah desa juga?

Karena masalahnya kan memang lebih banyak di situ. Hampir empat tahun ini kita memberikan keleluasaan pada desa untuk memprioritaskan apa sih yang menjadi permasalahan utama di desa. Hari ini memang lebih banyak pada infrastruktur. Seperti jalan, gedung, dan yang lain. Tapi, mulai tahun lalu dan tahun-tahun setelah ini, saya juga mengajak pada kepala desa untuk tidak melulu infrastruktur. Harus ada sekian persen untuk pembangunan ekonomi, pemberdayaan masyarakat, kesehatan, dan yang lain. Dan, ini sudah dimandatorikan dari bupati pada pemerintah desa. Harapannya, semua bisa berjalan.

Ada juga kondisi yang pemerintah seharusnya membangun tidak hanya infrastruktur, tapi berkaitan dengan pola pikir juga.

Itu juga bergantung pada kepala desa bagaimana meng-create suatu program yang cocok dengan masyarakat. Tapi, sekali lagi kita bersama-sama. Stunting misalnya. Pemerintah desa berbuat apa, mulai posyandu, merawat kades, dan sebagainya. Tapi, mereka tidak sendiri. Ada Dinas Kesehatan, PPKB, Bappeda, Perikanan, semua ada. Siapa berbuat apa, sudah jelas. Sekali lagi kita ingin meyakinkan bahwa pemerintah desa di bidang apapun, tidak sendiri. Asal ada komunikasi yang baik dengan pemerintah di atasnya. Misalnya dengan kecamatan dan camat pun sesuai dengan tupoksinya, tugasnya membina dan mengawal seluruh program pembangunan, sekaligus memberikan saran bagi pemerintah desa. Sehingga, perfomance pemerintah desa lebih bagus.

 

Untuk pendidikan bagaimana?

Pemkab Probolinggo memiliki banyak program bagus. Namun, memang masih banyak masalah di sana sini.Tidak hanya bidang pendidikan, tapi semua. Utamanya pendidikan, kesehatan, dan kemiskinan. Tiga ini kan masalah yang complicated. Yang pendekatannya harus multi dan lintas sektoral. Perkembangan dunia pendidikan saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan dulu. Dari eksisting 2013 saja, sudah luar biasa lompatannya. Kalau hari ini masih tersisa masalah, ya wajar. Dengan skala kompleksitas masalah yang luar biasa, yang hari ini belum tersentuh atau belum maksimal tersentuh, ya wajar. Karena kita baru berbuat enam tahun, dan akan terus berbuat sampai 10 tahun. Jadi biarkan ini berproses. Yang harus jadi catatan, jika kita buat grafik, grafik itu harus terus naik. Kalau grafiknya ada perlambatan dan sebagainya, harus kita pahami, bahwa dari titik nol sampai hari ini, itu terus naik. Tantangannya adalah kembali lagi bahwa semua butuh improvisasi, kreativitas, dan inovasi yang terus kita update sesuai dengan perkembangan jalan.

 

Bagaimana mengelola tantangan tahun tahun berikutnya dengan kondisi eksisting yang satu tahun ini?

Yang jelas, kami optimistis. Satu tahun telah berjalan, tersisa empat tahun dengan renstra yang sudah kita susun bersama. Kita optimistis empat tahun ke depan bisa berjalan sesuai dengan keinginan. Termasuk target sudah sangat jelas. Bahkan, lebih jelas dari periode pertama.

 

Untuk empat tahun ke depan apa yang dilihat sebagai hal yang prioritas?

Sumber daya manusia, pintunya melalui pembangunan ekonomi kreatif untuk menjawab kemiskinan, menjawab tantangan global pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya. Karena dengan itu semua, berawal dari kesejahteraan masyarakat, saya pikir ini menjadi pintu untuk SDM yang unggul. Unggul di bidang pendidikan, kesehatan, dari daya beli dan sebagainya. (*/hn)

DILANTIK pada 24 September 2018, saat ini pemerintahan Bupati Hj. P. Tantriana Sari dan Wabup Timbul Prihanjoko sudah mencapai satu tahun. Selama satu tahun memimpin Kabupaten Probolinggo di periode lima tahun kedua ini, Bupati menegaskan rasa syukurnya. Sebab, selama satu tahun pemerintahannya diberi kemudahan untuk mewujudkan visi dan misi mereka.

Semangat dan kinerja semua OPD, menurut Bupati, juga makin kompak. Sehingga, Pemkab Probolinggo terus bisa menjalankan pembangunan di semua sisi dengan lebih baik daripada sebelumnya. Urusan wajib seperti pendidikan, kesehatan, dan kemiskinan, terus menjadi prioritas. Sementara urusan lain yang notabene terus berkembang sesuai dengan relevansi yang ada, juga mendapat perhatian serius. Selain itu, pembangunan sumber daya manusia dan ekonomi untuk menjawab tantangan global pertumbuhan ekonomi, menjadi fokus selama empat tahun ke depan. Berikut wawancara Jawa Pos Radar Bromo dengan Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari tentang satu tahun pemerintahannya.

 

Secara umum bagaimana bupati melihat capaian pemerintahan selama satu tahun ini?

Bupati dalam satu periode, bekerja selama lima tahun. Tentunya seluruh program akan berkelanjutan sampai dengan lima tahun. Dalam kurun waktu selama satu tahun ini, tentu kita patut mengucapkan syukur. Bahwasanya apa yang kita rencanakan dan cita-citakan, sudah dalam proses. Untuk pembangunan desa misalnya, sudah banyak perkembangan yang secara kasat mata dan dirasakan masyarakat langsung. Dan itu layak diapresiasi.

Pada intinya, bersyukur itu. Karena setahun ini diberi kemudahan. Dan saya melihat, semangat OPD dan kekompakan OPD, lebih terasa dibanding lima tahun sebelumnya. Mungkin selama lima tahun sebelumnya banyak belajar dari keberhasilan, dari karakter masing-masing, sehingga perfomance-nya hari ini lebih bagus.

 

Selama setahun pertama di periode kedua ini, apakah sekadar melanjutkan program periode lalu? Bagaimana dengan fokus untuk menjawab tantangan ke depan?

Perjalanan lima tahun sebelumnya, kita jadikan intisari. Napasnya sama, semangatnya sama. Tapi, di lima tahun kedua ini, kita improvisasi. Belajar dari lima tahun sebelumnya, pasti ada sesuatu yang sudah tidak relevan dilakukan. Begitu juga, tentunya masih ada yang sangat relevan dilakukan. Improvisasi, kreativitas, dan inovasi ini terus kita dorong, bahkan di tahun pertama ini. Napasnya sama, tujuannya sama, tapi caranya menuju ke sana yang berbeda. Artinya, apa yang berubah dan tidak relevan, terus kita update. Disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan yang ada.

 

Selain masalah wajib, ada hal-hal yang selama beberapa tahun ini menjadi fokus baru, bahkan secara nasional. Contohnya perkembangan ekonomi kreatif. Bagaimana cara menyikapinya?

Kami ingin ekonomi kreatif ini menjadi salah satu fondasi ekonomi yang imbasnya pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kita lihat saat ini ada resesi dan perlambatan ekonomi hampir di semua negara. Kalau tidak kita sikapi mulai hari ini, pasti tidak hanya nunggu dua atau tiga tahun. Hari ini pun, pasti kita hanya jadi penonton. Dengan menyikapi tantangan itu, saya pikir ekonomi kreatif menjadi salah satu harapan besar untuk jadi fondasi.

Ekonomi kreatif ini akan kita mulai di tahun 2019 ini. Dan Alhamdulillah juga, sudah disahkan UU berkaitan dengan ekonomi kreatif. Ini memberikan semangat pada pemerintah daerah juga untuk memberikan perhatian dan anggaran yang layak bagi pembangunan ekonomi kreatif.

Tahun ini telah kita mulai Desa Kreatif. Pemkab bersama pemerintah desa memotret potensi desa seperti apa. Dengan kebudayaan lokal dan sumber daya lokal, kita angkat agar menjadi usaha bagi desa itu. Seluruh potensi desa, tidak melulu pariwisata.

Di proyek awal ini, kita menetapkan 20 desa sebagai desa kreatif. Sektornya memang di pariwisata. Kita pilih pariwisata dengan memanfaatkan Bromo sebagai trigger untuk ekonomi kreatif ini. Karena ini pilot project ya. Kalau memulai dari nol, effort-nya akan luar biasa. Sebanyak 20 desa ini kita create dulu di 2020. Insyaallah 6 bulan selesai. Kemudian kita replikasi di desa yang lain.

Bagaimana kalau sebuah desa tidak punya potensi wisata untuk diangkat? Bisa kita pakai yang lain. Contohnya di Gili Ketapang. Di Gili Ketapang ini ada sektor wisata, tapi ada juga masalah sampah yang belum terselesaikan. Sampah ini bisa diubah menjadi sesuatu yang berkah. Pendekatannya dengan pembangkit listrik tenaga sampah. Bisa juga dengan sampah, memperkuat sektor wisata. Misalnya di Bentar, dengan sampah kita buat ecobrick.

Yang terpenting mendorong masyarakat berpikir kritis. Karena desa kreatif itu, bukan pemerintah desanya. Tapi masyarakat desanya yang kita paksa untuk melakukan hal bagi desa.

 

Fokus nasional yang lain yaitu menjangkau generasi milenial. Bagaimana menjangkau generasi milenial dengan program ini?

Desa kreatif ini operatornya para anak muda, para milenial. Jadi, desa kreatif ini akan menjawab semua permasalahan jika berhasil. Kemiskinan, bonus demografi, anak muda usia produktif, termasuk teknologi digital dan lain sebagainya. Ekonomi kreatif itu bukan hanya pariwisata, IKM, dan UKM. Bisa aplikasi. Termasuk lima dan enam tahun terakhir ini, terus kita dorong agar OPD di pemerintah daerah berinovasi dalam bidang teknologi. Bagaimana memanfaatkan teknologi untuk memudahkan pekerjaan kita. OPD punya masalah apa, kita bayar orang untuk buat aplikasi. Ini juga salah satu penguatan ekonomi kreatif. IKM dan UKM juga kita minta punya market place. Saat ini orang banyak belanja di Tokopedia, kenapa kita tidak meniru. Pakai punya kita sendiri, market place sendiri.

 

Bagaimana menyamakan ritme kerja pemkab dengan kecamatan dan desa misalnya untuk mewujudkan semua program ini?

Kalau kecamatan masih bisa kita drive. Dengan desa, memang ini jadi tantangan sendiri. Kita akan terus mendorong. Misalnya sumber daya manusia kepala desa untuk juga mampu menyeimbangkan diri kecepatannya dengan pemkab. Apalagi kalau kita lihat undangundangnya sekarang, desa ini sudah jadi daerah otonomi sendiri. Kalau kepala desa tidak punya keinginan atau goodwill untuk membangun desanya ya susah. Tapi, tentunya dengan kekuatan kita dan pengawasan kita pada desa, bisa jadi pendorong pada desa untuk berbenah.

Tantangan kita semua dan kepala desa yaitu menyamakan langkah dan membentuk pola pikir yang sama. Hari ini kita patut syukuri, desa membangun sudah mendominasi di Kabupaten Probolinggo. Walaupun masih ada desa tertinggal.

Pekerjaan rumah bagi kita, ya menyamakan pola pikir. Kalau pola pikirnya sama, tantangan apapun harapan saya bisa dikomunikasikan. Pemerintah daerah berbuat apa dan desa berbuat apa, seiring. Sehingga, harapannya bisa meningkatkan derajat pembangunan.

 

Ada urusan wajib yang tidak bisa ditinggalkan, sementara tantangan ke depan juga bertambah?

Lima tahun terakhir ini kita sudah coba pilah dengan kehadiran dana desa. Apa sih kewajiban pemerintah daerah pada desa, apa pilihan pemerintah daerah untuk desa. Ini sudah kita petakan. Kewajiban pemerintah desa saat ini sudah banyak terfasilitasi sendiri oleh desa. Dari situ, peluang apa yang harus kita sentuh? Yang belum dilakukan oleh desa, kita masuk di situ. Dengan sistem ini, kita jauh mengurangi overlap di lapangan.

 

Selama ini Pemkab Probolinggo banyak melakukan pembangunan jalan, sementara pemerintah desa juga?

Karena masalahnya kan memang lebih banyak di situ. Hampir empat tahun ini kita memberikan keleluasaan pada desa untuk memprioritaskan apa sih yang menjadi permasalahan utama di desa. Hari ini memang lebih banyak pada infrastruktur. Seperti jalan, gedung, dan yang lain. Tapi, mulai tahun lalu dan tahun-tahun setelah ini, saya juga mengajak pada kepala desa untuk tidak melulu infrastruktur. Harus ada sekian persen untuk pembangunan ekonomi, pemberdayaan masyarakat, kesehatan, dan yang lain. Dan, ini sudah dimandatorikan dari bupati pada pemerintah desa. Harapannya, semua bisa berjalan.

Ada juga kondisi yang pemerintah seharusnya membangun tidak hanya infrastruktur, tapi berkaitan dengan pola pikir juga.

Itu juga bergantung pada kepala desa bagaimana meng-create suatu program yang cocok dengan masyarakat. Tapi, sekali lagi kita bersama-sama. Stunting misalnya. Pemerintah desa berbuat apa, mulai posyandu, merawat kades, dan sebagainya. Tapi, mereka tidak sendiri. Ada Dinas Kesehatan, PPKB, Bappeda, Perikanan, semua ada. Siapa berbuat apa, sudah jelas. Sekali lagi kita ingin meyakinkan bahwa pemerintah desa di bidang apapun, tidak sendiri. Asal ada komunikasi yang baik dengan pemerintah di atasnya. Misalnya dengan kecamatan dan camat pun sesuai dengan tupoksinya, tugasnya membina dan mengawal seluruh program pembangunan, sekaligus memberikan saran bagi pemerintah desa. Sehingga, perfomance pemerintah desa lebih bagus.

 

Untuk pendidikan bagaimana?

Pemkab Probolinggo memiliki banyak program bagus. Namun, memang masih banyak masalah di sana sini.Tidak hanya bidang pendidikan, tapi semua. Utamanya pendidikan, kesehatan, dan kemiskinan. Tiga ini kan masalah yang complicated. Yang pendekatannya harus multi dan lintas sektoral. Perkembangan dunia pendidikan saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan dulu. Dari eksisting 2013 saja, sudah luar biasa lompatannya. Kalau hari ini masih tersisa masalah, ya wajar. Dengan skala kompleksitas masalah yang luar biasa, yang hari ini belum tersentuh atau belum maksimal tersentuh, ya wajar. Karena kita baru berbuat enam tahun, dan akan terus berbuat sampai 10 tahun. Jadi biarkan ini berproses. Yang harus jadi catatan, jika kita buat grafik, grafik itu harus terus naik. Kalau grafiknya ada perlambatan dan sebagainya, harus kita pahami, bahwa dari titik nol sampai hari ini, itu terus naik. Tantangannya adalah kembali lagi bahwa semua butuh improvisasi, kreativitas, dan inovasi yang terus kita update sesuai dengan perkembangan jalan.

 

Bagaimana mengelola tantangan tahun tahun berikutnya dengan kondisi eksisting yang satu tahun ini?

Yang jelas, kami optimistis. Satu tahun telah berjalan, tersisa empat tahun dengan renstra yang sudah kita susun bersama. Kita optimistis empat tahun ke depan bisa berjalan sesuai dengan keinginan. Termasuk target sudah sangat jelas. Bahkan, lebih jelas dari periode pertama.

 

Untuk empat tahun ke depan apa yang dilihat sebagai hal yang prioritas?

Sumber daya manusia, pintunya melalui pembangunan ekonomi kreatif untuk menjawab kemiskinan, menjawab tantangan global pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya. Karena dengan itu semua, berawal dari kesejahteraan masyarakat, saya pikir ini menjadi pintu untuk SDM yang unggul. Unggul di bidang pendidikan, kesehatan, dari daya beli dan sebagainya. (*/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/