alexametrics
29.4 C
Probolinggo
Sunday, 29 May 2022

Atasi Pengangguran di Kab Probolinggo, Gandeng DUDI-Program Magang

Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Probolinggo memiliki peran untuk mengentaskan kemiskinan dengan mengurangi angka pengangguran. Melalui Balai Latihan Kerja (BLK), Disnaker telah meningkatkan muatan materi soft skill pada peserta pelatihan.

————–

Penguasaan keahlian atau kemampuan teknis saja tidak cukup bagi peserta pelatihan untuk menjadi tenaga kerja yang siap bekerja. Baik di sektor formal mau­pun nonformal.

Kepala Disnaker Kabupaten Probolinggo Hudan Syarifuddin menjelaskan, ada dua faktor penyebab masih tingginya pengangguran di Kabupaten Probolinggo. Pertama, kompetensi yang dimiliki pencari kerja masih kurang. Kedua, program yang dilakukan lembaga pendidikan dan pelatihan belum sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

“Tahun ini kami (Disnaker) semakin meningkatkan hubungan dengan dunia usaha dan dunia industri. Karena program pelatihan yang dilakukan harus mendukung dan menguntungkan dunia usaha dan dunia industri,” ujarnya.

Hudan mengatakan, peserta pelatihan yang lulus tidak hanya cerdas dan mampu memiliki kompetensi yang sesuai. Tetapi, juga harus mengikuti kebutuhan pasar, sehingga usai dilatih dapat diterima dan bekeja di perusahaan.

“Beberapa perusahaan yang bersedia menjadi mitra dalam membuka kesempatan bekerja peserta pelatihan terus bertambah. Mulai dari PT Eratex dan CV Trijaya Mulya sudah jalin kerja sama dan diwujudkan pada 2020,” ujarnya.

Demi meningkatkan penempatan tenaga kerja di DUDI profesional, Hudan menambahkan, pihaknya mempunyai program pemagangan bagi pencari kerja. Harapannya, setelah magang dapat diberi ke­sempatan bekerja di perusahaan ter­sebut.

“Tahun 2020 sudah ada beberapa pihak yang siap meneriam pencari kerja magang. Mulai dari Yoschi Hotel, Lava View Hotel, Rumah Sakit Rizani Paiton, dan RSUD Waluyo Jati Kraksaan,” ujarnya.

Hudan menjelaskan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Probolinggo pada 2018 ada 4,19 persen atau 24 ribu jiwa. Penyumbang pengangguran terbesar dari SMK sebesar 9,08 persen; SMA 7,09 persen; dan lulusan perguruan tinggi 5,12 persen. “Kami terus berusaha agar para lulusan SMK, SMA, perguruan tinggi untuk siap dan dapat be­kerja,” ujarnya. (*/mas/rud)

Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Probolinggo memiliki peran untuk mengentaskan kemiskinan dengan mengurangi angka pengangguran. Melalui Balai Latihan Kerja (BLK), Disnaker telah meningkatkan muatan materi soft skill pada peserta pelatihan.

————–

Penguasaan keahlian atau kemampuan teknis saja tidak cukup bagi peserta pelatihan untuk menjadi tenaga kerja yang siap bekerja. Baik di sektor formal mau­pun nonformal.

Kepala Disnaker Kabupaten Probolinggo Hudan Syarifuddin menjelaskan, ada dua faktor penyebab masih tingginya pengangguran di Kabupaten Probolinggo. Pertama, kompetensi yang dimiliki pencari kerja masih kurang. Kedua, program yang dilakukan lembaga pendidikan dan pelatihan belum sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

“Tahun ini kami (Disnaker) semakin meningkatkan hubungan dengan dunia usaha dan dunia industri. Karena program pelatihan yang dilakukan harus mendukung dan menguntungkan dunia usaha dan dunia industri,” ujarnya.

Hudan mengatakan, peserta pelatihan yang lulus tidak hanya cerdas dan mampu memiliki kompetensi yang sesuai. Tetapi, juga harus mengikuti kebutuhan pasar, sehingga usai dilatih dapat diterima dan bekeja di perusahaan.

“Beberapa perusahaan yang bersedia menjadi mitra dalam membuka kesempatan bekerja peserta pelatihan terus bertambah. Mulai dari PT Eratex dan CV Trijaya Mulya sudah jalin kerja sama dan diwujudkan pada 2020,” ujarnya.

Demi meningkatkan penempatan tenaga kerja di DUDI profesional, Hudan menambahkan, pihaknya mempunyai program pemagangan bagi pencari kerja. Harapannya, setelah magang dapat diberi ke­sempatan bekerja di perusahaan ter­sebut.

“Tahun 2020 sudah ada beberapa pihak yang siap meneriam pencari kerja magang. Mulai dari Yoschi Hotel, Lava View Hotel, Rumah Sakit Rizani Paiton, dan RSUD Waluyo Jati Kraksaan,” ujarnya.

Hudan menjelaskan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Probolinggo pada 2018 ada 4,19 persen atau 24 ribu jiwa. Penyumbang pengangguran terbesar dari SMK sebesar 9,08 persen; SMA 7,09 persen; dan lulusan perguruan tinggi 5,12 persen. “Kami terus berusaha agar para lulusan SMK, SMA, perguruan tinggi untuk siap dan dapat be­kerja,” ujarnya. (*/mas/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/