alexametrics
25.9 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Ada dan Tidak Ada Bencana, BPBD Kab Probolinggo Selalu Siaga

BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo memiliki peran penting dalam penanggulangan bencana. Baik saat tidak terjadi bencana, berpotensi bencana, terjadi bencana, dan pascabencana.

Pada fase ketika tidak terjadi bencana, BPBD melalui Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan melakukan peningkatan kapasitas masyarakat. Caranya, menggelar pelatihan-pelatihan, sosialisasi kepada komunitas dan masyarakat.

KERJA BAKTI: Warga bersama petugas BPBD Kabupaten Probolinggo kerja bakti pascabencana tanah longsor di Curah Kendil, Desa Sumberanom, Kecamatan Sumber.

”Kegiatan yang lain adalah dengan membentuk DesaTangguh Bencana di Desa Andungbiru Kecamtan Tiris. Tujuannya, agar desa/kelurahan memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan mampu menghadapi ancaman bencana serta memulihkan diri segera dari dampak bencana yang merugikan,” kata Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo Anggit Hermanuadi.

Bukan hanya kepada komunitas dan masyarakat. Sasaran yang lain adalah lembaga pendidikan. Baik sekolah atau madrasah yang lebih dikenal dengan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

”Mitigasi dan Penyebaran informasi Daerah Rawan Bencana yang sudah dilakukan antara lain dengan pembuatan dan pemasangan rambu-rambu jalur evakuasi di Desa Andungbiru Kecamatan Tiris dan tempat lainnya,” ujarnya.

Selain itu, dikatakan Anggit, BPBD juga memanfaatkan teknologi informasi dalam upaya mitigasi. Yaitu dengan mengembangkan aplikasi PROSIGAB (Probolinggo Siaga Bencana).

Aplikasi ini berbasis android yang bisa diunduh di PlayStore secara gratis oleh masyarakat. Fungsinya, menampilkan informasi cuaca (hujan) di wilayah Kabupaten Probolinggo. “Melalui aplikasi ini, masyarakat bisa melaporkan kejadian bencana,” tuturnya.

Ketika terjadi bencana, lanjut Anggit, BPBD melalui Bidang Kedaruratan dan Logistik melaksanakan Kaji Cepat dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi korban bencana. Serta, penyiapan peralatan dan kebutuhan logistik.

“Dalam tahun 2019 hingga bulan September tercatat pada Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) sejumlah kejadian di musim hujan. Antara lain 6 kejadian banjir, 19 kejadian longsor, 30 kejadian angin kencang, 5 kejadian kebakaran hutan dan lahan,” ungkapnya.

Sedangkan pada musim kemarau, kejadian bencana yang tercatat lain lagi. Yaitu, kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Lumbang, Sukapura, Krucil, Tiris, Gading, Pakuniran. Ditambah krisis air bersih yang melanda selama musim kemarau.

“Hingga September 2019 ada 25 dusun yang tersebar di 10 desa pada 6 kecamatan mengalami krisis air. Untuk penanganannya, BPBD sudah mendistribusikan sebanyak kurang lebih 310.000 liter air bersih dengan perkiraan jiwa yang terdampak sebanyak kurang lebih 15.500 jiwa,” terangnya.

Terakhir, dikatakan Anggit, pascabencana, BPBD masih memiliki tanggung jawab. Melalui Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, berkoordinasi dengan OPD terkait untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

”Di antaranya perbaikan pipa saluran air pascabanjir bandang yang menerjang Desa Andungbiru, Tiris. Saat ini pipa sudah diperbaiki dan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga di dua desa. Yakni, Desa Andungbiru dan Telogoargo,” katanya. (*/mas/hn)

BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo memiliki peran penting dalam penanggulangan bencana. Baik saat tidak terjadi bencana, berpotensi bencana, terjadi bencana, dan pascabencana.

Pada fase ketika tidak terjadi bencana, BPBD melalui Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan melakukan peningkatan kapasitas masyarakat. Caranya, menggelar pelatihan-pelatihan, sosialisasi kepada komunitas dan masyarakat.

KERJA BAKTI: Warga bersama petugas BPBD Kabupaten Probolinggo kerja bakti pascabencana tanah longsor di Curah Kendil, Desa Sumberanom, Kecamatan Sumber.

”Kegiatan yang lain adalah dengan membentuk DesaTangguh Bencana di Desa Andungbiru Kecamtan Tiris. Tujuannya, agar desa/kelurahan memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan mampu menghadapi ancaman bencana serta memulihkan diri segera dari dampak bencana yang merugikan,” kata Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo Anggit Hermanuadi.

Bukan hanya kepada komunitas dan masyarakat. Sasaran yang lain adalah lembaga pendidikan. Baik sekolah atau madrasah yang lebih dikenal dengan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

”Mitigasi dan Penyebaran informasi Daerah Rawan Bencana yang sudah dilakukan antara lain dengan pembuatan dan pemasangan rambu-rambu jalur evakuasi di Desa Andungbiru Kecamatan Tiris dan tempat lainnya,” ujarnya.

Selain itu, dikatakan Anggit, BPBD juga memanfaatkan teknologi informasi dalam upaya mitigasi. Yaitu dengan mengembangkan aplikasi PROSIGAB (Probolinggo Siaga Bencana).

Aplikasi ini berbasis android yang bisa diunduh di PlayStore secara gratis oleh masyarakat. Fungsinya, menampilkan informasi cuaca (hujan) di wilayah Kabupaten Probolinggo. “Melalui aplikasi ini, masyarakat bisa melaporkan kejadian bencana,” tuturnya.

Ketika terjadi bencana, lanjut Anggit, BPBD melalui Bidang Kedaruratan dan Logistik melaksanakan Kaji Cepat dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi korban bencana. Serta, penyiapan peralatan dan kebutuhan logistik.

“Dalam tahun 2019 hingga bulan September tercatat pada Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) sejumlah kejadian di musim hujan. Antara lain 6 kejadian banjir, 19 kejadian longsor, 30 kejadian angin kencang, 5 kejadian kebakaran hutan dan lahan,” ungkapnya.

Sedangkan pada musim kemarau, kejadian bencana yang tercatat lain lagi. Yaitu, kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Lumbang, Sukapura, Krucil, Tiris, Gading, Pakuniran. Ditambah krisis air bersih yang melanda selama musim kemarau.

“Hingga September 2019 ada 25 dusun yang tersebar di 10 desa pada 6 kecamatan mengalami krisis air. Untuk penanganannya, BPBD sudah mendistribusikan sebanyak kurang lebih 310.000 liter air bersih dengan perkiraan jiwa yang terdampak sebanyak kurang lebih 15.500 jiwa,” terangnya.

Terakhir, dikatakan Anggit, pascabencana, BPBD masih memiliki tanggung jawab. Melalui Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, berkoordinasi dengan OPD terkait untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

”Di antaranya perbaikan pipa saluran air pascabanjir bandang yang menerjang Desa Andungbiru, Tiris. Saat ini pipa sudah diperbaiki dan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga di dua desa. Yakni, Desa Andungbiru dan Telogoargo,” katanya. (*/mas/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/