alexametrics
25.3 C
Probolinggo
Thursday, 19 May 2022

Manfaatkan Aplikasi, Tarif PSK Malah Lebih Tinggi

SAKIT hati dan cerita sedih tidak melulu datang dari perempuan pemuas hidung belang yang terjun di bisnis esek-esek. Sejumlah perempuan panggilan hidup serba berkecukupan karena tarif yang tinggi.

Mereka tidak lagi mangkal di warung, tentu saja. Bergeser memanfaatkan kecanggihan teknologi komunikasi dengan memanfaatkan aplikasi. Cara ini lebih personal dan dinilai lebih aman.

Seperti SK, 29, salah satu pelaku prostitusi asal Mayangan, Kota Probolinggo. Dia menggunakan aplikasi khusus untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan.

Dengan aplikasi yang sudah diketahui banyak orang itu, pelanggan bisa mengetahui jarak, tarif, termasuk foto perempuan yang akan dikencani. “Istilahnya COD (Cash on Delivery)-an,” kata SK tersenyum. Istilah lain yang juga banyak diketahui, open BO.

Pengguna aplikasi ini rata-rata memang perempuan muda dan tidak gaptek. Alasannya, karena lebih efektif, personal, rahasia, dan tidak harus mangkal. Tentu saja, alasan utamanya karena tarifnya yang jauh lebih tinggi dibanding prostitusi konvensional di warung-warung.

Di Kota Probolinggo, rata-rata tarifnya Rp 700 ribu sekali COD-an. “Rata-rata bukaan awal itu Rp 700 ribu. Kalau terlalu mahal tidak laku juga. Tapi, pelanggan bisa nawar sesuai kesepakatan,” katanya.

Harga patokan dasar untuk satu kali main juga Rp 700 ribu. Ini short time. Kalau pelanggan ingin nambah, tarifnya nambah Rp 500 ribu.

Ada juga pesanan long time atau satu malam. Untuk yang ini, tarifnya Rp 2 juta bersih. Tidak termasuk hotel yang menjadi tanggungan si pria.

Bagi SK sendiri, bekerja sebagai perempuan panggilan di saat muda jauh lebih menguntungkan. Sebab, mereka yang muda banyak diminati. Karena dinilai lebih segar atau fresh dan lebih menarik tentu saja.

Agar pelanggannya tidak lari, SK rutin merawat tubuhnya. Sebab, menjadi wanita pemuas nafsu lelaki baginya sudah menjadi profesi.

“Bagi saya yang sudah menjadi pekerjaan, ya harus terus melakukan perawatan. Mulai dari atas hingga ke bawah. Agar pelanggan betah dan nagih. Jadi kembali lagi ke saya,” katanya.

Uang yang didapat dari bisnis terselubung ini, bahkan mampu menghidupi SK dengan sangat layak. Dalam beberapa bulan saja, ia bisa membeli mobil, bahkan rumah.

“Kalau dihitung rata-rata saya dapat Rp 500 ribu untuk tiap pelanggan. Tapi tiap hari jumlahnya tidak pasti. Sehari rata-rata 10 pelanggan,” tuturnya.

Kehidupan SK ini jauh bertolak belakang dengan para perempuan yang memilih bisnis esek-esek di Babian, Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Seperti diungkapkan Mis, PSK Babian yang pernah tertangkap Satpol PP Kota Probolinggo.

Di usianya yang sudah 58 tahun, Mis merasakan pahitnya ditinggal pelanggan. Banyak pelanggannya yang pindah, mencari perempuan yang jauh lebih muda. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Lambe’ pas ngodeh, bennyak se terro. Setiyah la tuwah. Se terro yeh oreng watuah kiyah (dulu saat masih muda, banyak yang suka. Sekarang sudah tua. Yang suka ya yang tua juga),” katanya.

Saat ini, pelanggannya adalah para tukang becak, ABK, sopir, dan lelaki hidung belang dari kalangan bawah juga. Tarifnya pun sangat murah.

“Bukanya Rp 50 ribu. Tapi banyak yang nawar Rp 30 ribu. Kalau sudah sepi, kadang ada yang nawar Rp 10 ribu. Ya saya terima,” tuturnya.

Jangan berpikir juga, Mis dan pelanggannya berindehoi di hotel. Di warung pun tidak. Mereka biasa asyik masyuk di ladang jagung atau di semak-semak kering saat kemarau yang berubah basah setelah diguyur hujan.

Dengan tempat mangkal yang lebih terbuka, perempuan seperti Mis pun lebih berisiko ditangkap petugas Satpol PP. Juga lebih rawan terserang penyakit kelamin. Karena itu, dia selalu membawa kondom.

Ngebeh kondom. Tapeh mon la tade’, ye langsung lah. (Bawa kondom, tapi kalau kehabisan ya langsung saja) ungkapnya. (rpd/hn)

SAKIT hati dan cerita sedih tidak melulu datang dari perempuan pemuas hidung belang yang terjun di bisnis esek-esek. Sejumlah perempuan panggilan hidup serba berkecukupan karena tarif yang tinggi.

Mereka tidak lagi mangkal di warung, tentu saja. Bergeser memanfaatkan kecanggihan teknologi komunikasi dengan memanfaatkan aplikasi. Cara ini lebih personal dan dinilai lebih aman.

Seperti SK, 29, salah satu pelaku prostitusi asal Mayangan, Kota Probolinggo. Dia menggunakan aplikasi khusus untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan.

Dengan aplikasi yang sudah diketahui banyak orang itu, pelanggan bisa mengetahui jarak, tarif, termasuk foto perempuan yang akan dikencani. “Istilahnya COD (Cash on Delivery)-an,” kata SK tersenyum. Istilah lain yang juga banyak diketahui, open BO.

Pengguna aplikasi ini rata-rata memang perempuan muda dan tidak gaptek. Alasannya, karena lebih efektif, personal, rahasia, dan tidak harus mangkal. Tentu saja, alasan utamanya karena tarifnya yang jauh lebih tinggi dibanding prostitusi konvensional di warung-warung.

Di Kota Probolinggo, rata-rata tarifnya Rp 700 ribu sekali COD-an. “Rata-rata bukaan awal itu Rp 700 ribu. Kalau terlalu mahal tidak laku juga. Tapi, pelanggan bisa nawar sesuai kesepakatan,” katanya.

Harga patokan dasar untuk satu kali main juga Rp 700 ribu. Ini short time. Kalau pelanggan ingin nambah, tarifnya nambah Rp 500 ribu.

Ada juga pesanan long time atau satu malam. Untuk yang ini, tarifnya Rp 2 juta bersih. Tidak termasuk hotel yang menjadi tanggungan si pria.

Bagi SK sendiri, bekerja sebagai perempuan panggilan di saat muda jauh lebih menguntungkan. Sebab, mereka yang muda banyak diminati. Karena dinilai lebih segar atau fresh dan lebih menarik tentu saja.

Agar pelanggannya tidak lari, SK rutin merawat tubuhnya. Sebab, menjadi wanita pemuas nafsu lelaki baginya sudah menjadi profesi.

“Bagi saya yang sudah menjadi pekerjaan, ya harus terus melakukan perawatan. Mulai dari atas hingga ke bawah. Agar pelanggan betah dan nagih. Jadi kembali lagi ke saya,” katanya.

Uang yang didapat dari bisnis terselubung ini, bahkan mampu menghidupi SK dengan sangat layak. Dalam beberapa bulan saja, ia bisa membeli mobil, bahkan rumah.

“Kalau dihitung rata-rata saya dapat Rp 500 ribu untuk tiap pelanggan. Tapi tiap hari jumlahnya tidak pasti. Sehari rata-rata 10 pelanggan,” tuturnya.

Kehidupan SK ini jauh bertolak belakang dengan para perempuan yang memilih bisnis esek-esek di Babian, Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Seperti diungkapkan Mis, PSK Babian yang pernah tertangkap Satpol PP Kota Probolinggo.

Di usianya yang sudah 58 tahun, Mis merasakan pahitnya ditinggal pelanggan. Banyak pelanggannya yang pindah, mencari perempuan yang jauh lebih muda. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Lambe’ pas ngodeh, bennyak se terro. Setiyah la tuwah. Se terro yeh oreng watuah kiyah (dulu saat masih muda, banyak yang suka. Sekarang sudah tua. Yang suka ya yang tua juga),” katanya.

Saat ini, pelanggannya adalah para tukang becak, ABK, sopir, dan lelaki hidung belang dari kalangan bawah juga. Tarifnya pun sangat murah.

“Bukanya Rp 50 ribu. Tapi banyak yang nawar Rp 30 ribu. Kalau sudah sepi, kadang ada yang nawar Rp 10 ribu. Ya saya terima,” tuturnya.

Jangan berpikir juga, Mis dan pelanggannya berindehoi di hotel. Di warung pun tidak. Mereka biasa asyik masyuk di ladang jagung atau di semak-semak kering saat kemarau yang berubah basah setelah diguyur hujan.

Dengan tempat mangkal yang lebih terbuka, perempuan seperti Mis pun lebih berisiko ditangkap petugas Satpol PP. Juga lebih rawan terserang penyakit kelamin. Karena itu, dia selalu membawa kondom.

Ngebeh kondom. Tapeh mon la tade’, ye langsung lah. (Bawa kondom, tapi kalau kehabisan ya langsung saja) ungkapnya. (rpd/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/