alexametrics
25 C
Probolinggo
Thursday, 4 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Warga Gili Ketapang saat Krisis Air Bersih; Andalkan Isi Ulang-Hujan

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Sejak Jumat (29/1), aliran air PDAM sebagai satu-satunya pemasok air bersih ke Pulau Gili Ketapang di Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, tiba-tiba mampet. Berada di posisi sekitar 5 mil dari daratan, kondisi itu membuat warga Gili kelimpungan. Mereka mulai menadah air hujan, membeli air kemasan, hingga memanfaatkan air laut untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

————————–

Sejumlah jeriken dan galon air kemasan berjejer rapi. Semuanya kosong. Pemandangan inilah yang terlihat begitu menapakkan kaki di Dermaga Baru Pulau Gili Ketapang. Jeriken dan galon itu sengaja diletakkan di dekat dermaga agar mudah dibawa oleh kapal penyeberangan yang hendak ke Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo.

Di Pelabuhan Tanjung Tembaga, jeriken dan galon itu akan diisi air bersih dari truk tangki PDAM Kabupaten Probolinggo. Untuk kemudian, semuanya diangkut lagi menggunakan kapal penyeberangan ke Pulau Gili. Baru kemudian didistribusikan ke warga di sana.

Rutinitas itu dilakukan tiap hari sejak saluran PDAM ke rumah-rumah warga di Pulau Gili tidak lagi mengalir akibat pipa bawah laut PDAM menuju Pulau Gili mengalami gangguan. PDAM memasok air bersih pada warga Gili. Setiap harinya 10 ribu hingga 15 ribu liter.

Toh, pasokan itu tidak mampu memenuhi kebutuhan air bersih warga setempat. Dengan jumlah penduduk mencapai 9.647 jiwa, masih banyak warga yang tidak mendapat pasokan air bersih. Maka, tak heran bila kemudian warga melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Mulai kebutuhan untuk masak, mandi, dan cuci.

Bagi yang cukup mampu, air kemasan menjadi andalan untuk pasokan sehari-hari. Namun banyak warga yang menadah air hujan untuk mandi dan minum. Bahkan, ada pula yang memanfaatkan air sumur. Jangan membayangkan air sumur di Gili sama dengan air sumur di daratan yang rasanya tawar. Di sini, air sumur terasa payau atau asin. Wajar saja, sebab dasar sumur dekat dengan laut.

Seperti yang dirasakan Etik, 46, warga RT 21/RW 6. Saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Bromo, Sabtu (20/2), Etik sedang mencuci baju menggunakan air sumur.

“Kami memakai air sumur untuk cuci dan mandi. Soalnya air PDAM masih mampet. Untuk minum pakai air kemasan,” katanya.

BELUM MENGALIR: Salah seorang warga Pulau Gili Ketapang menunjukkan aliran air PDAM di rumahnya yang masih mampet. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Tidak hanya dari dua sumber itu. Etik juga menadah hujan untuk menambah stok air bagi kebutuhan keluarganya. Air hujan yang ditadah itu dijerang dulu, baru dikonsumsi untuk minum. Cara itu dilakukannya agar pengeluaran tiap hari untuk membeli air kemasan tidak terlalu tinggi.

“Ya bersyukur saat ini sedang musim hujan. Jadi bisa pakai air hujan untuk minum. Kalau sedang kemarau, mana bisa. Bisa-bisa pengeluaran untuk membeli air kemasan membengkak,” tuturnya.

Kondisi tidak jauh berbeda dialami Sucipto, 37, ketua BUMDes Wisata di Pulau Gili Ketapang. Saat ini menurutnya, semua warga Gili sangat butuh air bersih. Di sisi lain, semua warga sangat membatasi menggunakan air bersih. Bahkan, untuk minum sekalipun.

“Jadi kalau saya minum, keluarga pasti bilang jangan banyak-banyak, air susah,” bebernya sembari tertawa.

MASIH TERPUTUS: Pipa PDAM yang mengalir ke pulau Gili Ketapang lewat dasar laut. Sejauh ini pipa itu masih belum bisa mengalirkan air bersih karena terputus. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Keluarga Sucipto sendiri sangat bergantung pada air kemasan. Tiap hari, keluarganya  menghabiskan dua galon air kemasan untuk masak dan minum. Beruntung, kondisi itu tidak dimanfaatkan oleh warga setempat untuk mengambil keuntungan.

Tidak ada satu pun warga yang sengaja kulakan air galon kemasan dan menjualnya lagi dengan harga tinggi. Dalam kondisi sulit ini, menurutnya, harga air galon kemasan normal saja.

“Harga air galon kemasan normal. Ya, Alhamdulillah tidak ada yang memanfaatkan momen ini untuk menaikkan harga jual,” tambahnya.

Beda lagi untuk kebutuhan mandi. Warga, menurutnya, banyak mandi di laut. Ada juga yang mandi dengan air sumur. Walaupun tentu saja, di kulit terasa lengket. Sebab, air sumur di Gili rasanya asin.

“Namanya tok air sumur. Tapi, rasanya asin bukan tawar. Kan ngebor-nya ke dasar dan di dasar ini laut. Tapi dari pada tidak mandi seharian, lebih baik mandi meski air sumur,” katanya.

Dengan memanfaatkan air sumur dan air laut, warga Gili tetap bisa mandi selama aliran air PDAM mampet. Lagi pula menurutnya, warga biasa mandi air laut dan air sumur saat PDAM belum masuk ke Gili.

“Sejak kecil sebelum air PDAM masuk, kami di Gili terbiasa mandi air sumur yang asin. Meski nggak segar dan bikin kulit kering, namun hingga kini warga tetap hidup,” candanya.

Namun terlepas dari kesulitan air bersih yang terjadi saat ini, warga Gili tetap bersyukur. Kesulitan ini menurutnya malah membuatnya dan warga lain jadi sadar. Bahwa Desa Gili Ketapang di Pulau Gili Ketapang sudah teraliri air PDAM dan listrik. Hanya, saat ini aliran PDAM masih ada masalah.

“Kami sangat bersyukur listrik dan PDAM sudah masuk ke pulau. Walaupun memang saat ini masih trouble,” katanya. (rizky putra dinasti/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

Sejak Jumat (29/1), aliran air PDAM sebagai satu-satunya pemasok air bersih ke Pulau Gili Ketapang di Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, tiba-tiba mampet. Berada di posisi sekitar 5 mil dari daratan, kondisi itu membuat warga Gili kelimpungan. Mereka mulai menadah air hujan, membeli air kemasan, hingga memanfaatkan air laut untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

————————–

Sejumlah jeriken dan galon air kemasan berjejer rapi. Semuanya kosong. Pemandangan inilah yang terlihat begitu menapakkan kaki di Dermaga Baru Pulau Gili Ketapang. Jeriken dan galon itu sengaja diletakkan di dekat dermaga agar mudah dibawa oleh kapal penyeberangan yang hendak ke Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo.

Mobile_AP_Half Page

Di Pelabuhan Tanjung Tembaga, jeriken dan galon itu akan diisi air bersih dari truk tangki PDAM Kabupaten Probolinggo. Untuk kemudian, semuanya diangkut lagi menggunakan kapal penyeberangan ke Pulau Gili. Baru kemudian didistribusikan ke warga di sana.

Rutinitas itu dilakukan tiap hari sejak saluran PDAM ke rumah-rumah warga di Pulau Gili tidak lagi mengalir akibat pipa bawah laut PDAM menuju Pulau Gili mengalami gangguan. PDAM memasok air bersih pada warga Gili. Setiap harinya 10 ribu hingga 15 ribu liter.

Toh, pasokan itu tidak mampu memenuhi kebutuhan air bersih warga setempat. Dengan jumlah penduduk mencapai 9.647 jiwa, masih banyak warga yang tidak mendapat pasokan air bersih. Maka, tak heran bila kemudian warga melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Mulai kebutuhan untuk masak, mandi, dan cuci.

Bagi yang cukup mampu, air kemasan menjadi andalan untuk pasokan sehari-hari. Namun banyak warga yang menadah air hujan untuk mandi dan minum. Bahkan, ada pula yang memanfaatkan air sumur. Jangan membayangkan air sumur di Gili sama dengan air sumur di daratan yang rasanya tawar. Di sini, air sumur terasa payau atau asin. Wajar saja, sebab dasar sumur dekat dengan laut.

Seperti yang dirasakan Etik, 46, warga RT 21/RW 6. Saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Bromo, Sabtu (20/2), Etik sedang mencuci baju menggunakan air sumur.

“Kami memakai air sumur untuk cuci dan mandi. Soalnya air PDAM masih mampet. Untuk minum pakai air kemasan,” katanya.

BELUM MENGALIR: Salah seorang warga Pulau Gili Ketapang menunjukkan aliran air PDAM di rumahnya yang masih mampet. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Tidak hanya dari dua sumber itu. Etik juga menadah hujan untuk menambah stok air bagi kebutuhan keluarganya. Air hujan yang ditadah itu dijerang dulu, baru dikonsumsi untuk minum. Cara itu dilakukannya agar pengeluaran tiap hari untuk membeli air kemasan tidak terlalu tinggi.

“Ya bersyukur saat ini sedang musim hujan. Jadi bisa pakai air hujan untuk minum. Kalau sedang kemarau, mana bisa. Bisa-bisa pengeluaran untuk membeli air kemasan membengkak,” tuturnya.

Kondisi tidak jauh berbeda dialami Sucipto, 37, ketua BUMDes Wisata di Pulau Gili Ketapang. Saat ini menurutnya, semua warga Gili sangat butuh air bersih. Di sisi lain, semua warga sangat membatasi menggunakan air bersih. Bahkan, untuk minum sekalipun.

“Jadi kalau saya minum, keluarga pasti bilang jangan banyak-banyak, air susah,” bebernya sembari tertawa.

MASIH TERPUTUS: Pipa PDAM yang mengalir ke pulau Gili Ketapang lewat dasar laut. Sejauh ini pipa itu masih belum bisa mengalirkan air bersih karena terputus. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Keluarga Sucipto sendiri sangat bergantung pada air kemasan. Tiap hari, keluarganya  menghabiskan dua galon air kemasan untuk masak dan minum. Beruntung, kondisi itu tidak dimanfaatkan oleh warga setempat untuk mengambil keuntungan.

Tidak ada satu pun warga yang sengaja kulakan air galon kemasan dan menjualnya lagi dengan harga tinggi. Dalam kondisi sulit ini, menurutnya, harga air galon kemasan normal saja.

“Harga air galon kemasan normal. Ya, Alhamdulillah tidak ada yang memanfaatkan momen ini untuk menaikkan harga jual,” tambahnya.

Beda lagi untuk kebutuhan mandi. Warga, menurutnya, banyak mandi di laut. Ada juga yang mandi dengan air sumur. Walaupun tentu saja, di kulit terasa lengket. Sebab, air sumur di Gili rasanya asin.

“Namanya tok air sumur. Tapi, rasanya asin bukan tawar. Kan ngebor-nya ke dasar dan di dasar ini laut. Tapi dari pada tidak mandi seharian, lebih baik mandi meski air sumur,” katanya.

Dengan memanfaatkan air sumur dan air laut, warga Gili tetap bisa mandi selama aliran air PDAM mampet. Lagi pula menurutnya, warga biasa mandi air laut dan air sumur saat PDAM belum masuk ke Gili.

“Sejak kecil sebelum air PDAM masuk, kami di Gili terbiasa mandi air sumur yang asin. Meski nggak segar dan bikin kulit kering, namun hingga kini warga tetap hidup,” candanya.

Namun terlepas dari kesulitan air bersih yang terjadi saat ini, warga Gili tetap bersyukur. Kesulitan ini menurutnya malah membuatnya dan warga lain jadi sadar. Bahwa Desa Gili Ketapang di Pulau Gili Ketapang sudah teraliri air PDAM dan listrik. Hanya, saat ini aliran PDAM masih ada masalah.

“Kami sangat bersyukur listrik dan PDAM sudah masuk ke pulau. Walaupun memang saat ini masih trouble,” katanya. (rizky putra dinasti/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2