alexametrics
33.9 C
Probolinggo
Wednesday, 20 October 2021

Masih Lekat dengan Stigma, Disabilitas Susah Cari Kerja

SALAH satu kendala sulitnya disabilitas mendapat pekerjaan yaitu, stigma yang masih melekat pada mereka. Baik di perusahaan, maupun masyarakat umum.

Wakil Ketua Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Pasuruan Denny Kurniawan mengatakan, dirinya sebagai penyandang tuna netra sering mendapatkan stigma.

“Saya sebagai mahasiswa hukum pernah mendapat perlakuan berbeda oleh teman kampus. Dia enggan membantu menuntun saya keluar kelas. Ternyata, lama kelamaan ketahuan dia pernah punya pengalaman tidak enak dengan tuna netra lainnya,” terang Denny.

Di sisi lain menurut Denny, rekan disabilitas memiliki kepribadian berbeda satu dengan lainnya. Sehingga, tiap orang tidak bisa disamaratakan.

Bahkan, sebagai konsultan sesama penyandang disabilitas yang rutin memberikan sosialisasi ke perusahaan, masih sering ditemui ada perusahan yang enggan mempekerjakan disabilitas. Hanya karena stigma.

“Biasanya stigma yang melekat itu repot. Merepotkan kerjanya, lebih lambat dan sebagainya. Ini yang harus kita ubah. Bahwa kemampuan disabilitas sama. Hanya, kekurangan fisik yang menjadi pembeda. Tapi di luar itu sama saja,” terangnya.

Akibatnya, perusahaan di Kabupaten Pasuruan masih terbatas yang mau menerima rekan disabilitas. Jangankan 1 persen dari jumlah total tenaga kerja. Menerima disabilitas berat masih pikir-pikir. Seperti tuna netra daksa berat dan tuna grahita.

“Saat ini perusahaan memang mulai banyak yang tahu terkait kuota 1 persen. Tapi syarat yang diinginkan masih tergolong sulit dipenuhi. Misalnya minimal lulusan SMA, bahkan hanya menerima tuna daksa ringan,” terangnya.

SALAH satu kendala sulitnya disabilitas mendapat pekerjaan yaitu, stigma yang masih melekat pada mereka. Baik di perusahaan, maupun masyarakat umum.

Wakil Ketua Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Pasuruan Denny Kurniawan mengatakan, dirinya sebagai penyandang tuna netra sering mendapatkan stigma.

“Saya sebagai mahasiswa hukum pernah mendapat perlakuan berbeda oleh teman kampus. Dia enggan membantu menuntun saya keluar kelas. Ternyata, lama kelamaan ketahuan dia pernah punya pengalaman tidak enak dengan tuna netra lainnya,” terang Denny.

Di sisi lain menurut Denny, rekan disabilitas memiliki kepribadian berbeda satu dengan lainnya. Sehingga, tiap orang tidak bisa disamaratakan.

Bahkan, sebagai konsultan sesama penyandang disabilitas yang rutin memberikan sosialisasi ke perusahaan, masih sering ditemui ada perusahan yang enggan mempekerjakan disabilitas. Hanya karena stigma.

“Biasanya stigma yang melekat itu repot. Merepotkan kerjanya, lebih lambat dan sebagainya. Ini yang harus kita ubah. Bahwa kemampuan disabilitas sama. Hanya, kekurangan fisik yang menjadi pembeda. Tapi di luar itu sama saja,” terangnya.

Akibatnya, perusahaan di Kabupaten Pasuruan masih terbatas yang mau menerima rekan disabilitas. Jangankan 1 persen dari jumlah total tenaga kerja. Menerima disabilitas berat masih pikir-pikir. Seperti tuna netra daksa berat dan tuna grahita.

“Saat ini perusahaan memang mulai banyak yang tahu terkait kuota 1 persen. Tapi syarat yang diinginkan masih tergolong sulit dipenuhi. Misalnya minimal lulusan SMA, bahkan hanya menerima tuna daksa ringan,” terangnya.

MOST READ

BERITA TERBARU