alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

Toko Oleh-oleh Haji di Probolinggo Bertahan dengan Merugi

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Toko oleh-oleh haji di Probolinggo merasakan dampak dari pembatalan ibadah haji akibat Covid-19. Selama dua tahun berturut-turut. Kondisi makin parah dengan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Bertahan adalah pilihan terakhir, walaupun merugi.

Inilah yang dialami H. Prijono, pemilik toko oleh-oleh haji Sakinah di Jalan Raya Pahlawan, Kota Probolinggo. Tahun lalu tokonya masih bisa bernapas, meski pandemi Covid-19 menyerang. Bahkan, walaupun pemerintah membatalkan keberangkatan ibadah haji ke Makkah.

Namun, tahun ini kondisi perekonomian jauh lebih terpuruk. Ibadah haji kembali batal berangkat. Termasuk ibadah umrah. Belum lagi dengan penerapan PPKM Darurat hingga akhir Juli.

Nyaris, tak ada pembeli yang masuk toko Prijono. Omzet pun turun drastis. Penjualan bisa sampai 10 persen saja sudah sangat bagus.

”Tidak ada lagi orang datang ke toko untuk membeli oleh-oleh haji atau umrah. Kami merugi tapi terpaksa bertahan. Berharap kondisi seperti ini akan berakhir,” tuturnya.

PPKM Darurat menurutnya, membuat kondisi tokonya makin terpuruk. Sebab, jam buka toko dibatasi selama PPKM Darurat.

Malam pukul 19.00, lampu jalanan di Kota Probolinggo sudah dipadamkan. Suasana jadi lebih sepi dari biasanya. Toko pun terpaksa tutup lebih awal.

Malam hari menurut Prijono, biasanya ada saja pembeli yang datang mencari kurma buat suguhan atau dimakan sendiri. Tapi karena PPKM Darurat, hampir tidak ada lagi pembeli.

”Kalau tahun kemarin, masih banyak pembeli yang mencari kurma, beli mukenah dan lainnya. Tapi tahun sekarang, benar-benar sepi. Sepii,” ungkapnya.

Karena toko sepi, satu dari dua pekerja di tokonya pun memilih keluar. Dia mengundurkan diri dan memilih jualan kue secara mandiri.

”Karena toko sepi pembeli kan, pasti rugi. Tapi mau bagaimana lagi. Ya bertahan dengan merugi,” ujarnya. (mas/hn)

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Toko oleh-oleh haji di Probolinggo merasakan dampak dari pembatalan ibadah haji akibat Covid-19. Selama dua tahun berturut-turut. Kondisi makin parah dengan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Bertahan adalah pilihan terakhir, walaupun merugi.

Inilah yang dialami H. Prijono, pemilik toko oleh-oleh haji Sakinah di Jalan Raya Pahlawan, Kota Probolinggo. Tahun lalu tokonya masih bisa bernapas, meski pandemi Covid-19 menyerang. Bahkan, walaupun pemerintah membatalkan keberangkatan ibadah haji ke Makkah.

Namun, tahun ini kondisi perekonomian jauh lebih terpuruk. Ibadah haji kembali batal berangkat. Termasuk ibadah umrah. Belum lagi dengan penerapan PPKM Darurat hingga akhir Juli.

Nyaris, tak ada pembeli yang masuk toko Prijono. Omzet pun turun drastis. Penjualan bisa sampai 10 persen saja sudah sangat bagus.

”Tidak ada lagi orang datang ke toko untuk membeli oleh-oleh haji atau umrah. Kami merugi tapi terpaksa bertahan. Berharap kondisi seperti ini akan berakhir,” tuturnya.

PPKM Darurat menurutnya, membuat kondisi tokonya makin terpuruk. Sebab, jam buka toko dibatasi selama PPKM Darurat.

Malam pukul 19.00, lampu jalanan di Kota Probolinggo sudah dipadamkan. Suasana jadi lebih sepi dari biasanya. Toko pun terpaksa tutup lebih awal.

Malam hari menurut Prijono, biasanya ada saja pembeli yang datang mencari kurma buat suguhan atau dimakan sendiri. Tapi karena PPKM Darurat, hampir tidak ada lagi pembeli.

”Kalau tahun kemarin, masih banyak pembeli yang mencari kurma, beli mukenah dan lainnya. Tapi tahun sekarang, benar-benar sepi. Sepii,” ungkapnya.

Karena toko sepi, satu dari dua pekerja di tokonya pun memilih keluar. Dia mengundurkan diri dan memilih jualan kue secara mandiri.

”Karena toko sepi pembeli kan, pasti rugi. Tapi mau bagaimana lagi. Ya bertahan dengan merugi,” ujarnya. (mas/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU