alexametrics
25.5 C
Probolinggo
Monday, 16 May 2022

2 Tahun Keberangkatan Ditunda, Toko Oleh-oleh Haji di Pasuruan Merana

PASURUAN, Radar Bromo – Pembatalan ibadah haji tahun ini, tidak hanya membuat sedih calon jamaah haji (CJH). Para pelaku usaha oleh-oleh haji pun ikut merana. Mereka kehilangan pendapatan secara drastis.

Tidak tanggung-tanggung, penjualan oleh-oleh haji merosot sampai 80 persen dibandingkan kondisi normal. Maklum, bukan hanya sekali pemerintah membatalkan ibadah haji. Namun, ini tahun yang kedua.

Seperti yang dirasakan Sani Assegaf, 35, karyawan Terowongan Mina di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Sejak pandemi berlangsung di awal 2020, penjualan oleh-oleh haji di tempatnya sepi pembeli.

Pengunjung toko yang biasanya mencapai 20 hingga 30 orang per hari, nyaris tidak tersisa. Hanya ada tak sampai lima orang yang datang setiap harinya.

“Sejak Makkah ditutup untuk jamaah karena pandemi, kunjungan di toko kami turun tajam. Sampai 80 persenan turunnya,” ujarnya.

Anjloknya pembeli dipengaruhi bukan hanya pembatalan ibadah haji pada 2020. Tetapi, karena ibadah umrah yang juga ikut-ikutan gagal berangkat. Padahal, ibadah umrah berdampak besar terhadap tingkat penjualan.

“Kami kan melayani grosiran. Selain untuk keperluan ibadah haji, justru yang banyak dibeli untuk keperluan umrah. Sajadah, surban, tasbih, dan beragam oleh-oleh lainnya,” imbuhnya.

Pengawas Toko Terowongan Mina Bangil Yahya Assegaf mengaku, keadaan tersebut membuat pihaknya tak lagi berani menyetok barang yang mudah rusak, seperti makanan. Kurma, kismis, dan makanan oleh-oleh lainnya hanya disediakan seadanya. Karena, barang-barang tersebut nyaris tak laku.

“Kalau dulu, makanan seperti kurma dan lainnya masih berani kami stok. Karena laku. Seminggu saja, bisa kami jual puluhan dus makanan. Tapi sekarang tidak lagi. Sebulan hanya bisa dihitung dengan jari yang beli,” kata Yahya.

Padahal, dalam kondisi normal, jauh hari sebelum ibadah haji, aktivitas di toko setempat sangat sibuk. Bahkan, sampai kewalahan melayani pembeli yang bersiap berangkat haji.

“Tapi, sekarang, karyawan lebih banyak diam. Tidak banyak yang bisa dilakukan, karena pengunjungnya memang sepi,” tutupnya. (one/hn)

PASURUAN, Radar Bromo – Pembatalan ibadah haji tahun ini, tidak hanya membuat sedih calon jamaah haji (CJH). Para pelaku usaha oleh-oleh haji pun ikut merana. Mereka kehilangan pendapatan secara drastis.

Tidak tanggung-tanggung, penjualan oleh-oleh haji merosot sampai 80 persen dibandingkan kondisi normal. Maklum, bukan hanya sekali pemerintah membatalkan ibadah haji. Namun, ini tahun yang kedua.

Seperti yang dirasakan Sani Assegaf, 35, karyawan Terowongan Mina di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Sejak pandemi berlangsung di awal 2020, penjualan oleh-oleh haji di tempatnya sepi pembeli.

Pengunjung toko yang biasanya mencapai 20 hingga 30 orang per hari, nyaris tidak tersisa. Hanya ada tak sampai lima orang yang datang setiap harinya.

“Sejak Makkah ditutup untuk jamaah karena pandemi, kunjungan di toko kami turun tajam. Sampai 80 persenan turunnya,” ujarnya.

Anjloknya pembeli dipengaruhi bukan hanya pembatalan ibadah haji pada 2020. Tetapi, karena ibadah umrah yang juga ikut-ikutan gagal berangkat. Padahal, ibadah umrah berdampak besar terhadap tingkat penjualan.

“Kami kan melayani grosiran. Selain untuk keperluan ibadah haji, justru yang banyak dibeli untuk keperluan umrah. Sajadah, surban, tasbih, dan beragam oleh-oleh lainnya,” imbuhnya.

Pengawas Toko Terowongan Mina Bangil Yahya Assegaf mengaku, keadaan tersebut membuat pihaknya tak lagi berani menyetok barang yang mudah rusak, seperti makanan. Kurma, kismis, dan makanan oleh-oleh lainnya hanya disediakan seadanya. Karena, barang-barang tersebut nyaris tak laku.

“Kalau dulu, makanan seperti kurma dan lainnya masih berani kami stok. Karena laku. Seminggu saja, bisa kami jual puluhan dus makanan. Tapi sekarang tidak lagi. Sebulan hanya bisa dihitung dengan jari yang beli,” kata Yahya.

Padahal, dalam kondisi normal, jauh hari sebelum ibadah haji, aktivitas di toko setempat sangat sibuk. Bahkan, sampai kewalahan melayani pembeli yang bersiap berangkat haji.

“Tapi, sekarang, karyawan lebih banyak diam. Tidak banyak yang bisa dilakukan, karena pengunjungnya memang sepi,” tutupnya. (one/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/